LONDON - Kementerian Luar Negeri Inggris menyampaikan pernyataan dari Perdana Menteri (PM) Irak Ibrahim al-Jaafari yang menegaskan bahwa tidak ada krisis hubungan antara Inggris dan Irak.
Pernyataan tersebut dikeluarkan, Rabu (21/9) WIB atau sehari setelah insiden antara tentara Inggris dan massa yang mengamuk di Basra, selatan Irak. Pihak Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan kehadiran tentara Inggris yang menghancurkan tembok Pos Polisi Jamiat di Basra untuk membebaskan dua intel Inggris yang ditahan polisi Irak. Kedua intel tersebut lalu ditawan oleh kelompok milisi, kata Brigadir Jenderal John Lorimer, Komandan Brigade Mesin ke-12 di Basra.
Menteri Pertahanan Inggris John Reid mengatakan prajurit Inggris "sangat benar" melakukan tindakan untuk membebaskan dua tawanan Inggris tersebut, namun otoritas Irak mengatakan operasi tersebut "sangat berbahaya".
"Sebagai respon terhadap peristiwa di Basra, Pemerintah Irak ingin mengklarifikasi bahwa tidak 'krisis' hubungan, seperti disampaikan sejumlah media, antara Irak dengan Inggris," kata al-Jaafari, seperti disampaikan pihak Kementerian Luar Negeri Inggris.
"Kedua negara tetap mempunyai hubungan yang dekat dan Irak tengah menyelidiki dampaknya. Kami menunggu hasil penyelidikan tersebut dan menyerukan kepada semua pihak untuk menjaga ketenangan," tulis pernyataan tersebut.
Sebelumnya Pemerintah Irak telah menyatakan akan melakukan penyelidikan tentang kejadian yang menyebabkan tentara Inggris menyelamatkan dua tentaranya yang ditahan polisi Irak.
Kedua pria adalah anggota pasukan elite SAS. Dalam pernyataannya, panglima militer Inggris di Basra mengatakan, kedua orang tersebut harus diserahkan kepada pasukan Inggris berdasar hukum Irak. Perundingan antara kedua pihak telah diupayakan namun gagal.
Pasukan Inggris yang kemudian dikirim untuk mengepung kantor polisi tempat kedua serdadu itu ditahan diserang oleh massa yang marah. Warga melemparkan bom molotov ke kendaran tempur mereka, dan memaksa sejumlah serdadu Inggris untuk menyelamatkan diri dari kobaran api. (AP/BBC/H-12)