SUARA PEMBARUAN DAILY

Mengepulkan Asap Dapur Pembalak Liar dari Usaha Tanaman Pangan

PROGRAM kembali ke huma (sawah) yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batanghari ternyata cukup ampuh menyelamatkan keterpurukan ekonomi bekas penebang kayu liar atau pembalak liar. Kemauan keras kembali menjadi petani sejak tahun lalu, berhasil melepaskan mereka dari ancaman kekurangan pangan.

Bisa jadi karena program itu berhasil karena dilaksanakan bersamaan dengan gencarnya pemberantasan pembalakan liar dan terpuruknya perdagangan ilegal kayu di daerah itu. Namun, warga Desa Sungai Ruan, Kecamatan Marosebo Ulu, Kabupaten Batanghari, Jambi, yang berjumlah 45 keluarga atau 150 jiwa itu, benar-benar bisa tersenyum lebar belakangan ini.

Mereka, yang sebagian besar sebelumnya penebang kayu itu, tidak lagi khawatir kekurangan pangan. Kebutuhan pangan tercukupi, karena sawah baru yang mereka kelola sejak Februari lalu, memberi hasil panen lumayan bagus. Keberhasilan mereka itu sekaligus akan menjadi contoh penebang kayu liar di daerah lain yang tidak mau beralih ke sawah.

Luas sawah baru warga Desa Sungai Ruan itu memang tidak terlalu luas. Hanya sekitar 48,65 hektare. Namun, hasil panen padi mereka menjadi istimewa karena sebagian besar petaninya bekas pembalak liar, penebang kayu liar. Kendati masih tahap belajar, sawah mereka berhasil memproduksi padi 1,5 ton hingga 2 ton per hektare. Hasil panen padi itu membantu mengepulkan asap dapur atau memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Selain itu usaha bertanam padi di sawah itu membuktikan bekas pembalak liar itu berhasil menjadi petani. Mereka bisa dijadikan panutan masyarakat desa lainnya, menjadi petani lebih baik daripada menjadi pencuri kayu.

Dihargai

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Batanghari, Darmawi kepada wartawan di sela-sela panen padi di Desa Sungai Ruan, Jumat (16/9) mengatakan, sekitar 75 persen penduduk desa itu dulunya penebang kayu. Pekerjaan itu sulit ditinggalkan karena mereka tidak memiliki modal bertani dan tidak pernah mendapatkan pembinaan di bidang pertanian tanaman pangan. Namun sejak Februari lalu, mereka dibina secara intensif mengolah sawah dan diberi bantuan modal benih padi.

"Keinginan seperti ini harusnya mendapatkan respons tinggi dari instansi terkait. Kendati penghasilan dari hasil bertani tidak seberapa, tapi itu patut dihargai. Setidaknya semangat yang ditunjukkan para mantan pebalok yang kini menjadi petani bisa dijadikan contoh masyarakat sekitarnya," ujarnya.

Sayuti (35) dan Sahri (40), petani Sungai Ruan, mengatakan, mereka bernasib mujur mengikuti program pemerintah setempat untuk kembali ke huma (sawah) sejak tahun lalu. Kalau tidak, mereka sudah pasti kesulitan pangan dan ekonomi seperti yang dialami warga desa yang bertahan sebagai pembalak liar seperti di Desa Hajran, Batanghari, dan sekitarnya.

Sayuti yang menjadi Ketua Kelompok Petani Merpati Desa Sungai Ruan, mengutarakan, beralih pekerjaan dari pembalak liar menjadi petani memang bukan pekerjaan mudah. Namun, menjadi petani lebih menjamin hidup ketimbang menjadi penebang kayu yang risikonya sangat tinggi.

"Saya menjadi pebalok dua tahun, dan memang ter- lalu berat. Apalagi sekarang usaha kayu itu sangat sulit. Pemerintah juga sudah tegas terhadap masalah ini. Saat ini lebih baik jadi petani. Usahanya produktif dan tidak dihantui penangkapan oleh petugas. Namun untuk mengembangkan usaha tani hingga kebun karet kami terkendala modal," Sayuti menjelaskan.

Ia menambahkan, mereka berhasil menekuni usaha pertanian tanaman pangan sejak Februari lalu berkat pendampingan masyarakat desa yang dilakukan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Jambi. Namun, pendampingan itu hanya bermanfaat untuk pembinaan pola-pola pertanian dan semangat kerja. Mereka masih kesulitan mendapatkan bantuan modal, terutama ketika membuka lahan semak belukar atau lahan tidur menjadi sawah dan ladang. Modal diperlukan terutama untuk membajak, membersihkan, dan mendapatkan pupuk.

"Yah, modal inilah masalah utama kami. Untuk membuka lahan harus mengeluarkan biaya cukup besar. Kemudian membuka lahan pertanian di areal baru butuh juga izin dari instansi terkait, baik dari provinsi dan pusat. Kami berharap pemerintah dapat membantu agar usaha pertanian kami bisa cepat berkembang," katanya.

Hasil Menurun

Sayuti dan Sahri mengatakan, hasil panen kali ini memang menurun. Mereka hanya mendapatkan satu ton per hektare. Padahal, panen sebelumnya atau penanaman tahap pertama Februari lalu, hasil panen mencapai dua sampai tiga ton per hektare.

Sayuti menduga menurunnya hasil panen itu disebabkan terlambatnya pemberian pupuk. Semestinya tanaman padi sudah harus dipupuk 20 hari setelah tanam. Namun karena kesulitan mendapatkan pupuk, pemupukan baru dilakukan 50 hari setelah ditanam. Penyebab lainnya, serangan hama babi.

"Ada anggota kelompok tani kami yang hanya berhasil memanen tidak sampai satu ton dari satu hektare karena sebagian padinya dimakan babi. Kami kewalahan mengusir babi karena jumlahnya sekali menyerang bisa mencapai ratusan ekor. Karena itu kami meminta bantuan pemerintah agar bisa memburu babi-babi itu," ujar Sayuti maupun Sahri.

Sahri menambahkan, serangan babi menghancurkan sekitar 20 hektare tanaman padi. Tentu hal itu berpengaruh pada menurunnya produksi padi, dan petani akhirnya kesulitan mendapatkan benih. Untuk itu, pada musim tanam berikutnya, mereka mengharapkan ada bantuan benih padi.

"Kami harapkan bukan bersifat hibah, melainkan pinjaman. Bantuan pupuk juga demikian. Bantuan pinjaman ini kami programkan agar bantuan tersebut dapat digulirkan kembali kepada petani lain," katanya.

Kepala Dinas Pertanian Batanghari menyadari pentingnya bantuan untuk para petani yang selama ini menjadi pembalak liar. Berkembangnya usaha pertanian tersebut akan dapat mencegah mereka kembali lagi menjadi pembalak liar. u

PEMBARUAN/RADESMAN SARAGIH


Last modified: 21/9/05