SHARJAH - Transaksi bisnis di Indonesia Solo Exhibition (ISE) Sharjah 2005 di Uni Emirat Arab (UEA) pada hari pertama mencapai US$ 336.500. Pada hari pertama, pebisnis yang datang khusus di pameran ini sebanyak 2.800 dari sejumlah negara di Timur Tengah, Afrika, Eropa, Asia, dan Amerika Serikat.
Demikian diungkapkan Staf Khusus Menteri Perdagangan yang juga penjabat Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional, Rhenald Kasali seperti dilaporkan wartawan Pembaruan, Sumedi TP pada evaluasi awal ISE, di Sharjah, Selasa (20/9).
Dikatakan, produk yang paling diminati adalah herbal (jamu), rempah-rempah, bunga kering, alat kesehatan, furniture, garmen, aki untuk kendaraan bermotor, dan keramik. Banyak pula yang mulai menjajaki pemesanan lukisan kaca dan kerajinan tangan.
"Perhatian dari kalangan bisnis di Sharjah sangat besar. Di kota industri dan perdagangan ini terdapat ribuan pebisnis dari mancanegara. Kota bisnis yang mirip Singapura ini berkembang sangat pesat, dengan pertumbuhan ekonominya mencapai 20 persen per tahun," katanya.
Menurutnya, pertemuan-pertemuan sudah dilakukan yang dilanjutkan dengan kontrak bisnis. Dua hari pertama pameran, para pengusaha sudah mengambil banyak contoh. Sedangkan produk ritail sudah banyak dibeli dan dipesan oleh pebisnis dari sejumlah negara.
Perancang busana Ramli sudah diminta datang untuk memperagakan busana terbaru di kediaman Ketua Dewan Emir Sharjah, Sheikh Abdullah Bin Salem Al Qassimi. Kalangan istana akan memesan pakaian khusus untuk keluarganya. Diundangnya Ramli ke istana Sheikh Abdullah merupakan suatu kebanggaan dan kesempatan produk Indonesia untuk diperhatikan lebih serius oleh pejabat di UEA.
Sebelumnya, jamu (herbal) produksi Indonesia sudah populer di petinggi-petinggi dan masyarakat di kawasan ini. Pada penutupan ISE, Jumat (23/9), diperkirakan akan ada transaksi bisnis mencapai jutaan dolar seperti tahun lalu yang bernilai US$ 11,5 juta.
Produk Jamu
Direktur PT Jamu Puspo Internusa, Andre Utoro mengungkapkan, perusahaan di UEA, yakni Assirat Trading EST, sudah menjalin kerja sama dan menjadi agen khusus produk jamu Indonesia ini. Bahkan sudah mulai meluaskan pasarnya ke belasan negara di Timur Tengah.
Jamu Puspo, sebelum pameran sudah mengirim 10 kontainer jamu yang sangat dinikmati warga Arab, terutama yang berkaitan dengan buah mengkudu yang dibuat dalam bentuk larutan mirip teh celup. Nilai ekspornya sekitar US$ 500.000, dan akan dibuat kontrak lanjutan sebelum pameran ditutup Jumat, katanya.
Staf Marketing PT Dharma Polimetal yang memproduksi peralatan kesehatan, Dwi Etnawati menambahkan, pada hari pertama pameran, perusahaannya sudah mendapat kontrak dua kontainer peralatan kesehatan, terutama kursi roda dan tempat tidur pasien. Sementara pengusaha asing lainnya sudah membuat perjanjian kerja sama untuk ekspor ke negara-negara di Timur Tengah dan Afrika.
Beberapa perusahaan keramik dan furniture sudah meneken kontrak enam kontainer. Ini berkaitan juga dengan pembangunan gedung-gedung tinggi untuk perkantoran yang sangat pesat di Sharjah.
Rhenald mengemukakan, dalam pertemuan dengan para duta besar Indonesia yang bertugas di Timur Tengah, Senin (19/9), terungkap bahwa pameran produk Indonesia harus lebih ditingkatkan karena sangat disukai warga Arab. Produk pariwisata Indonesia juga masih tertinggal dari Thailand dan Malaysia karena jarang dipromosikan di kawasan Timur Tengah.*