SUARA PEMBARUAN DAILY

Tambak Rakyat Gulung Tikar Akibat BBM Industri

Perlu Dibuat Energi Alternatif Minyak Jarak

BAKAUHENI - Para petambak udang rakyat minta kepada pemerintah agar harga solar untuk kebutuhan tambak mereka tidak dimasukkan dalam kategori bahan bakar minyak (BBM) industri. Permintaan itu menyusul adanya rencana pemerintah menetapkan kuota penggunaan solar di atas 8 kilo liter per bulan dikenakan harga BBM industri.

"Kalau petambak gurem tindak mendapat insentif, banyak yang gulung tikar," kata Sukenda, dosen perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga menjadi pengelola tambak di sela-sela panen udang vaname di Bakauheni, Lampung, Selasa (20/9).

Dikatakan, kuota solar versi pemerintah itu tidak masuk akal. Sebab, dengan 8 kilo liter, berarti hanya bisa menggerakkan 50 kincir. Padahal dalam satu petak berukuran 4.000 meter persegi membutuhkan 15 kincir. "Masak petambak yang hanya punya tiga petak dikenakan harga industri?" ujarnya. Solar dipakai untuk menggerakkan kincir air sehingga oksigen bagi udang tersedia.

Petambak lain, Suminta Ismail mengibaratkan solar merupakan komponen utama dalam budidaya udang. Ibarat makhluk hidup, solar seperti nyawanya udang. Tak ada solar, tak ada budidaya udang. Kebutuhan solar untuk tambak udang sekitar 10 persen dari total biaya produksi. Artinya, untuk memproduksi 1 kg udang vaname misalnya dibutuhkan sekitar Rp 2.000 untuk membeli solar dengan harga nonindustri.

"Bisa dibayangkan kalau solar tersebut dinaikkan menjadi harga industri (Rp 5.600 per liter), banyak petambak bakal collapse," ujar Sukenda.

Belum lagi soal harga pakan dan benur yang cenderung meningkat akibat melemahnya rupiah. Kondisi tersebut harus segera mendapat perhatian pemerintah. Berdasarkan pengalamannya, varietas vaname memang paling unggul dibandingkan dengan udang windu yang telah berakhir masa kejayaannya. Selain tahan penyakit, produktivitas vaname juga tinggi.

Selama 10 kali panen di Lampung sejak 2003, tambahnya, pihaknya tidak pernah merugi. Saat ini, biaya produksi vaname sekitar Rp 21.000 per kg. Sedangkan harga vaname di tingkat petambak Rp 34.000 per kg. Dalam 4.000 meter persegi tambak bisa menghasilkan 10 ton vaname. Pemasarannya mudah, pembeli langsung membeli ke tambak. Malah sebelum dipanen, mereka sudah membayar di awal.

Sukenda juga mengungkapkan soal sulitnya mendapat pasokan solar belakangan ini. "Teman saya malah ditangkap polisi hanya karena membeli solar satu drum di SPBU untuk tambak mereka," ungkapnya.

Perlu Diperbaiki

Sementara itu, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Rokhmin Dahuri yang hadir pada panen udang tersebut mengatakan, sistem pembelian solar untuk petambak udang harus diperbaiki dengan membuat semacam DO (delivery order). Sehingga tidak ada lagi tuduhan menyelewengkan solar bagi petambak.

Untuk mengatasi kelangkaan solar, ke depan perlu dibuat energi alternatif dari minyak jarak. "Dengan 5 juta hektare (ha) tanaman jarak saja, sebenarnya kita bisa menggantikan suplai 40 persen solar," ungkapnya.

Budidaya jarak tidaklah sulit. Lahan-lahan marjinal di Indonesia yang bisa dimanfaatkan saja luasnya sekitar 20 juta ha.

Peluang inilah yang sebenarnya bisa digarap melalui peraturan presiden. Dalam kondisi perekonomian bangsa sekarang ini, dia menyarankan, pemerintah perlu mengenjot budidaya udang. Prospek udang juga sangat bagus, pasarnya masih terbuka luas.

"Indonesia punya potensi tambak sekitar 1,2 juta hektare. Kalau 500.000 hektare dikembangkan menjadi tambak udang, bisa menyerap tenaga kerja sekitar tiga juta orang. Tugas pemerintah adalah membangun infrastrukturnya seperti saluran irigasi, yang ditaksir sekitar Rp 6 triliun. Biarlah swasta yang menangani modal kerjanya," katanya. (B-12)


Last modified: 21/9/05