VIRUS flu burung (avian influenza) yang kini menyerbu Indonesia sungguh mengagetkan. Paling tidak, sumber dari flu burung belum terungkap. Tahu-tahu, Iwan Sunaria dan putrinya kena, lalu meninggal. Begitu juga Rini Dina. Dan, hasil laboratorium yang dirujuk Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Hong Kong mengungkapkan mereka positif terserang flu burung. Penelitian di sekitar tempat tinggal Iwan Siswara berkaitan dengan sumber flu burung itu dihentikan karena tak jelasnya mata rantai awal penyakit mematikan tadi.
Kita makin dikejutkan lagi karena mendadak pasien yang terindikasi kena flu burung meningkat. Apalagi kemudian terungkap sejumlah unggas di Taman Margasatwa Ragunan (TMR) positif terjangkit flu burung. TMR harus ditutup selama tiga pekan. Satu taman margasatwa ditutup jelas bukanlah satu hal yang main-main. Suatu yang gawat sedang terjadi.
Masyarakat yang suka memelihara unggas pun diminta waspada. Pasalnya, hasil penelitian Badan Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor menemukan burung-burung peliharaan juga positif terjangkit virus flu burung. Berkaitan dengan itu, sejumlah pasar burung di Jakarta dan tempat-tempat lain diawasi. Bahkan, pengawasan ketat juga dilakukan terhadap burung merpati di Taman Monumen Nasional. Di sana ada ratusan ekor burung merpati hasil sumbangan seluruh kelurahan di Jakarta.
PERTANYAAN kita, dari mana sumber virus itu yang mendadak menyerang itu? Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengemukakan hipotesa baru tentang penyebab terjadinya flu burung yang saat ini masuk dalam kejadian luar biasa. Dia mengatakan, flu burung yang menimpa sejumlah hewan di TMR kemungkinan ditularkan burung liar dari luar negeri yang singgah di Indonesia. Menurut dia, sangat sulit menyalahkan ayam sebagai penyebab flu burung yang menimpa sejumlah hewan di Ragunan tersebut. "Apalagi kalau melihat bahwa dalam Taman Margasatwa Ragunan itu ada burung-burung yang sebetulnya berada di kandang, tetapi terkena flu burung. Dalam hal ini kita rasanya kok sulit menyalahkan ayam," kata Menkes (20/9).
Tentu saja pernyataan Menkes perlu diuji. Tidak cukup menjadikan burung liar dari luar negeri yang sedang singgah di Indonesia dalam migrasinya sebagai kambing hitam. Kita memerlukan jawab yang lebih pasti.
BILA KITA mau memutar waktu. Pada tahun 2003, misalnya, sudah ada kejadian banyak ayam mati dalam tempo beberapa bulan. Ketika itu banyak peternak unggas gulung tikar. Persoalan yang mereka hadapi tidak saja matinya beribu-ribu ekor ayam itu, tetapi juga bagaimana harus menguburkannya. Bukankah itu indikasi flu burung sebenarnya sudah masuk Indonesia?
Memang tidak mudah untuk mengungkapkan itu. Dampaknya besar. Bisa-bisa industri perunggasan kita akan gulung tikar. Padahal, kebangkitan industri, apa saja, sangat diharapkan agar Indonesia yang baru saja terpuruk dalam krisis ekonomi dan krisis multidimensional yang dalam bisa segera bangkit. Kalau benar flu burung telah masuk ke Indonesia, maka konsumsi daging unggas dan telur akan turun. Kita memang sama terjadi juga pada 2004. Memang, pada waktu itu tidak ada manusia yang meninggal akibat flu burung. Kita tersentak, tahun 2005 ada manusia yang meninggal karena flu burung. Karena itu, kita perlu mencari jawaban pasti sumbernya agar korban tidak bertambah gara-gara terlambat penanganannya.