SUARA PEMBARUAN DAILY

Takut Anak Demam dan Diare, Eh Malah Kena Polio

SEPINTAS, Siti Fauziah (4,5) tak berbeda dengan anak-anak seusianya. Di gendongan ibunya, Nai (33), ia asyik mengisap-isap jari telunjuk kanannya. Ia bahkan sama sekali tidak bereaksi ketika telapak kaki kanannya disentil seorang wartawan.

''Kaki kanannya lebih kecil daripada kaki kirinya. Anak saya sakit kalau jalan, katanya kena polio,'' tutur Nai, di kantor Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Ia berada di kantor desa ketika anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDI-P) yang dipimpin Jacobus Kamarlo Mayongpadang, berkunjung pada Rabu (11/5) siang itu.

Di kantor desa yang sekaligus disulap menjadi posko pelayanan kesehatan, khususnya untuk imunisasi bagi warga setempat itu, juga tampak Aldi (2,8), bersama Cicin, ibunya. Aldi pun diidentifikasi positif polio.

Fauziah, Aldi, dan anak-anak balita lainnya baru saja menjalani terapi ketika anggota FPDI-P tiba di lokasi. Selain Jacobus, anggota FPDI-P yang berkunjung ke Desa Giri Jaya adalah dr Ribka Tjiptaning, Elva Hartati, dan Endang Akhmad Darojat.

Desa Giri Jaya yang letaknya terpencil di kaki Gunung Salak itu, merupakan satu dari delapan desa di Kecamatan Cidahu, Sukabumi. Jalan-jalan di desa itu baru berupa jalan pengerasan. Di desa itulah, terbanyak ditemukan anak balita yang terserang virus polio.

Kepala Puskesmas Unit Pelayanan Tingkat Dasar (UPTD) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Cidahu dr Mamik Juniarti, mengatakan, hingga Rabu itu, sudah tiga anak yang di-nyatakan positif terkena virus polio.

Selain Siti Fauziah dan Aldi, seorang lainnya bernama Fikri Ramadani (1,9), anak pasangan Mumuh dan Yayah.

Diduga Ada 15 Lagi

Sebuah daftar nama, termasuk Fauziah, Aldi, dan Fikri, ditempel di papan kantor desa itu. Namun, daftar nama itu penuh coretan, sehingga tidak jelas, apakah nama-nama di daftar itu positif polio atau baru dicurigai dan sedang dalam pemeriksaan.

Apalagi dalam daftar nama itu, ada juga yang bukan balita lagi, karena berumur di atas lima tahun. Selain Fauziah, Fikri, dan Aldi, tertera nama-nama Abdul Rojak (6), Fitriyani (7), M Lufti (8), Ismail (2), Amir (2,5), Meli (2,5), Risma (2). Semuanya berasal dari Kampung Cidadap, seperti halnya Fauziah, Aldi, dan Fikri, hanya beda RT.

Terkesan ada upaya menutupi jumlah anak yang positif terkena polio di Cidahu, khususnya di Desa Giri Jaya. Dokter Damayanti dari Puskesmas Cidahu yang ikut mengantar rombongan FPDI-P ke Desa Giri Jaya, menuturkan, sebenarnya yang sudah positif polio di desa itu lima orang, namun ia tidak menyebutkan dua orang lainnya di samping Fauziah, Aldi, dan Fikri.

Dr Mamik memang mengakui, selain tiga anak yang positif polio di Desa Giri Jaya, ada 15 anak lain yang dicurigai terserang penyakit yang sama. Hanya saja, anak-anak tersebut masih menjalani pemeriksaan spesima tinja di laboratorium PT Bio Farma.

Ia sepertinya tidak mau dipojokkan dengan ditemukannya kasus penyakit polio di wilayah kerjanya itu.

Dalam dialog dengan anggota FPDI-P, ia menolak anggapan Dinas Kesehatan Sukabumi dan jajarannya, termasuk puskesmas, tidak berupaya memberi pelayanan imunisasi maksimal kepada anak balita di daerah itu.

''Bukan membela diri, tapi beginilah kondisi di daerah ini. Kalau saja orang kota lama-lama di sini, pasti akan tahu kondisi sebenarnya. Bukannya kami tidak berupaya maksimal ataupun lamban melakukan imunisasi. Kami sudah berupaya, tetapi selain keterbatasan sarana, kesadaran masyarakat juga kurang,'' katanya.

Kalau masyarakatnya tidak mau, kata Mamik, puskesmas tidak bisa memaksa. Ia juga menuturkan, puskesmas sudah bekerja sama dengan para kepala desa di Cidahu untuk menyosialisasikan imunisasi tersebut, tetapi kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi itu memang masih rendah.

Takut

Para orangtua penderita polio pun mengakui kurangnya pengetahuan soal imunisasi polio, yang akhirnya berakibat fatal bagi anaknya. Nai, ibu Fauziah mengakui, anaknya memang tidak diimunisasi polio ketika bayi, karena ketidaktahuannya.

''Saya takut anak saya demam atau mencret sehabis diimunisasi. Saya tidak menyangka kalau akhirnya anak saya begini jadinya,'' tuturnya, sedih.

Pengakuan serupa dikemukakan Cicin. Istri dari Ubet itu menuturkan, selain takut anaknya panas atau demam sehabis diimunisasi, ia juga takut kalau-kalau harus membayar. ''Saya dengar imunisasi itu bayar, sehingga saya takut anak saya diimunisasi karena tidak punya cukup uang. Tapi, saya menyesal, karena ternyata imunisasi polio itu tidak bayar,'' ujarnya.

Aldi yang terkena polio dan tak mau lepas dari gendongannya itu, kata Cicin, sulit makan. Bahkan anak kedua dari tiga bersaudara itu masih sering demam.

Nai menambahkan, Siti Fauziah, anak bungsunya dari empat bersaudara yang diketahui positif polio itu, awalnya mual-mual, lalu demam. Karena panasnya sangat tinggi, sampai-sampai darah keluar dari hidungnya.

Setelah empat hari sakit, anaknya baru dibawa ke mantri karena puskesmas letaknya jauh. Namun, obat yang diberikan mantri pun tidak banyak membantu, karena seminggu setelah anaknya panas-panas itu, sudah tidak bisa jalan. Kaki kanannya yang kini mengecil, lumpuh.

Dr Mamik menggambarkan, kondisi geografis Cidahu, khususnya Giri Jaya, cukup jauh dan sulit dijangkau. Jarak puskesmas dengan lokasi perkampungan masyarakat cukup jauh, sementara sarana transportasi yang dimiliki puskesmas untuk petugas penyuluh dan pelayanan kesehatan khususnya untuk program imunisasi, kurang. ''Kami butuh mobil dan sepeda motor untuk membantu pelayanan imunisasi dan pelayanan kesehatan pada umumnya di Cidahu yang terpencil ini,'' ujarnya.

Kondisi transportasi, memang memprihatinkan. Jika hendak bepergian ke kota dari Desa Giri Jaya, orang harus berpikir sepuluh kali. Pasalnya, sewa ojek motor di daerah itu cukup mahal, Rp 10.000 sampai Rp 25.000 sekali jalan.

Sebagai rekan sesama profesi, Ribka Tjiptaning bersaran, ''Kami maklumi kondisi kampung ini yang terpencil. Tetapi, sebagai dokter, semestinya tidak boleh menyerah dengan kondisi alam ataupun karakter masyarakat setempat. Mungkin sulit memaksa ibu-ibu untuk imunisasi, tapi bagaimanapun harus cari metode lain agar semua ibu tahu dan sadar akan pentingnya imunisasi itu. Kalau begini, kan dokter juga yang repot mendapat sorotan.''

Tentang upaya mengantisipasi agar virus polio tersebut tidak menyebar ke mana-mana, dr Mamik mengatakan, puskesmas sejak dua minggu lalu telah melaksanakan program imunisasi massal. Untuk tahap pertama, imunisasi dilakukan di Desa Giri Jaya, Desa Tangkil, dan Cidahu.

Dr Damayanti menambahkan, jumlah anak yang telah diimunisasi di tiga desa itu sekitar 3.203 orang. Sedangkan sekitar 6.000 anak lainnya sedang diimunisasi di beberapa posko yang tersebar di Desa Pondokkaso Tengah, Pasir Doton, Babakan Pari, Desa Bakti Jaya.

Jumlah balita yang terdapat di Desa Giri Jaya menurut Sekretaris Desa Suki Iskandar, berjumlah 1.036. Sedangkan jumlah penduduknya 15.40 keluarga atau 6.389 jiwa.

Koordinator Program Imunisasi Kecamatan Cidahu, Kiswanto, menambahkan, jumlah anak balita di wilayah Cidahu sekitar 22.420 anak. Menurutnya, pelaksanaan imunisasi telah dan sedang dilaksanakan di kecamatan itu di 15 posko untuk 213 RT.

Faktor Penyebab

Dr Eni Rachmawati, dokter spesialis anak dari RSUD Sekarwangi Sukabumi yang diperbantukan ke Cidahu, menyusul munculnya kasus polio tersebut, menuturkan, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi penyebaran virus polio. Selain virusnya yang galak, kondisi gizi anak juga ikut mempengaruhi penyebaran virus polio.

Untuk konteks Giri Jaya, Eni mencermati, kondisi gizi anak yang buruk di desa itu cukup berpengaruh. Alasannya, tingkat pendapatan masyarakat di daerah itu sangat rendah. Mereka umumnya keluarga miskin.

Namun, tidak hanya itu, kata Eni. Kebiasaan masyarakat yang membuang kotoran sembarangan di daerah itu, juga sangat berpengaruh. ''Bayangkan, ada warga yang tinggal di tengah sawah, buang kotoran juga di tengah sawah dan minum air dari situ juga. Belum lagi yang buang kotoran di sungai kecil, padahal orang lain mengkonsumsi air itu untuk minum,'' ujarnya.

Berkaitan dengan itu, ia memberi saran, agar pemerintah ataupun mereka yang mempunyai banyak dana, membantu masyarakat di Giri Jaya dan Cidahu pada umumnya. ''Kalau tsunami bisa kumpul uang, kasus polio ini juga bisa dibantu. Hasilnya bisa untuk peningkatan gizi masyarakat, membangun irigasi yang baik dan juga mandi cuci kakus (MCK). Biar lingkungannya bersih, sehat, dan polio tidak gampang menyebar,'' Eni berharap.

PEMBARUAN/MARSELIUS ROMBE BAAN


Last modified: 13/5/05