
BEIJING - Kekalahan Indonesia dari tuan rumah Cina pada babak penyisihan terakhir turnamen bulutangkis beregu campuran Piala Sudirman tidak mengecewakan karena Indonesia memang menurunkan para pemain lapis kedua. Di samping itu, pertandingan itu tidaklah penting buat Indonesia yang sudah memastikan diri ke semifinal. Pada pertandingan yang digelar di Capital Gymnasium, Beijing, Kamis (12/5), Indonesia menelan kekalahan telak 0-5.
"Kami memang kalah, tetapi kami tidak kecewa. Kami harus mempersiapkan diri untuk pertandingan berikutnya, pertandingan di semifinal lebih penting dari pada lawan Cina tadi," kata Manajer tim Indonesia Ferryal Sofyan kepada wartawan Pembaruan Bernadus Wijayaka di Beijing.
Seperti diduga sebelumnya, Indonesia menurunkan formasi baru hampir di semua lini. Satu-satunya sektor di ganda yang tidak berubah, adalah di ganda putra. Indonesia memilih duet senior Candra Wijaya/Sigit Budiarto. Di nomor ganda lainnya, susunan pemain diubah.
"Kami tahu, walaupun menurunkan pemain terbaik kami pun, untuk mengalahkan Cina sangat sulit. Lebih baik kami konsentrasikan mereka di babak semifinal nanti," kata pelatih ganda putra Christian Hadinata.
Senada dengan Christian, manajer tim Cina Li Yongbo pun menilai timnya akan sangat sulit dikalahkan. "Tidak saja oleh Indonesia, tetapi juga tim-tim lain. Itu karena, kami mempunyai pemain yang tangguh," jelasnya.
Nova Widianto/Liliyana Natsir yang dua hari berturut-turut diandalkan di sektor ganda campuran diistirahatkan. Duet Nova/Liliyana digantikan pasangan anyar Flandy Limpele/Yunita Tetty. Duet ini ternyata justru memberikan kejutan buat juara Olimpiade dua kali Zhang Jun/Gao Ling. Di set pertama, ganda Indonesia itu menang dengan skor 15-12. Namun, di dua set berikutnya, mereka menyerah 8-15, 2-15.
"Set pertama Gao Ling tidak bagus mainnya sehingga bola-bolanya tinggi. Itu menguntungkan saya. Sedang, di set kedua mereka mengubah formasi, Gao Ling yang menjadi motor permainan tampil lebih bagus, sedang Yunita tidak bisa meladeni dan kalah cepat. Akibatnya bola lambung yang hanya menjadi sasaran tembak Zhang Jun," kata Flandy, yang terakhir bermain di ganda campuran bersama Minarti Timur di Piala Sudirman 1997.
"Persiapan kami sangat singkat, lagi pula saya sudah lama tidak main di ganda campuran," kata peraih medali perunggu Olimpiade Athena ini.
Seperti diduga sebelumnya, ganda putri menurunkan pasangan baru, Lita Nurlita/Greysia Polii. Jo Novita yang menjadi andalan utama di nomor ini diistirahatkan.
Duet baru ini tidak mampu meladeni salah satu ganda terkuat di dunia Gao Ling/Huang Sui. Lita dan Greysia hanya mendapatkan lima poin di pertandingan itu, satu di set pertama dan empat di set kedua.
Di tunggal putra, Taufik Hidayat yang sudah dua hari berturut-turut menjadi tumpuan tim Indonesia diistirahatkan. Ia digantikan pemain nomor dua Indonesia Sony Dwi Kuncoro. Permainan Sony sendiri tidak mengecewakan saat melawan pemain peringkat satu dunia Lin Dan. Penampilan pertamanya setelah lima bulan absen bertarung membuat pontang-panting andalan Cina itu. Di set pertama dia sempat memberi perlawanan terhadap Lin. Bila saja dia bermain tenang, keunggulan 13-11 bisa membuahkan hasil kemenangan. Sony menyerah 14-17 di set pertama. Di set kedua pun dia sebetulnya masih mampu mengimbangi permainan Lin. Namun, tekanan yang diberikan Lin tidak mampu diladeni Sony. Pemain asal Surabaya ini menyerah 10-15.
"Seharusnya tadi diset pertama bisa diambil. Keunggulan 13-11 itu bagus. Tetapi, dia terlalu hati-hati, Sony tidak berani mengambil sikap. Seharusnya, dia agresif di saat-saat kritis seperti itu.Dia ingin bola matinya cantik, seperti Lin Dan mati sendiri. Itu tidak boleh dilakukan. Saya sudah instruksikan jangan menungu lawan mati sendiri," kata pelatih Joko Supriyanto.
Sony pun mengakui, Lin merupakan pemain yang bagus. Dia cukup gembira bisa mengalahkan Lin setelah lama absen akibat cedera. Hanya saja, dia cukup menyesal tidak bisa memenangi set pertama. "Melihat permainan Sony seperti tadi, saya juga senang. Artinya, dia sudah mulai menemukan kembali jati dirinya. Dia mampu mengimbangi Lin Dan yang merupakan permain terbaik di dunia," kata Ferryal.
Di tunggal putri, Fransisca Ratnasari belum bisa menandangi keperkasaan salah satu pemain tingkat atas dunia Xie Xinfang. Fransisca menyerah dua set langsung 5-11, 0-11.
Duet Candra/Sigit juga gagal membendung kehebatan ganda muda Cina Cai Yun/Fu Haifeng. Candra/Sigit menyerah 10-15, 10-15. *