BANYAK jalan menuju Roma. Beragam cara pula akal manusia menyaring air kotor yang kabarnya sudah mengepung Jakarta dan sekitarnya. Salah satunya adalah yang dikembangkan Husein Wirahadikusumah.
Perajin keramik ini mampu membuat alat penyaring air kotor yang sederhana dan murah. Walaupun mudah dan tak mahal, namun alat yang dia sebut sebagai ceramics for the poor (keramik penjernih untuk masyarakat bawah) itu mampu menyaring air kotor secara efektif.
Berdasarkan uji coba yang dilakukan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta misalnya, keramik penjernih yang kini diproduksi di tiga kota (Plered, Sukabumi, dan Yogyakarta) itu mampu menyaring bakteri coli dan Fecal coli yang berbaur di air kotor. Bahkan, mutu air ini bisa langsung diminum karena sudah terbebas dari bakteri dan senyawa polutan lainnya.
Soal kapasitas penyaringan, kini alat tersebut baru mampu menghasilkan 1 liter per jam. Dengan harga sekitar Rp 100.000/unit, menurut Husein, keramik penyaring ini cocok digunakan untuk kawasan yang memang selalu mengalami masalah dengan air bersih.
Ia menerangkan, untuk membuat alat tidaklah sulit. Intinya hanya terdiri dari bejana penyaring, keramik penyaring, dan bejana penampung. Bejana penyaring yang bisa berupa ember plastik ini berfungsi untuk menampung air kotor. Di bejana ini pula, keramik penyaring ditempatkan.
Seperti pada umumnya keramik, bahan utama keramik penyaring air kotor ini dibuat dari tanah liat. Bedanya, ia menggunakan campuran serbuk gergaji dan diatomite (sebesar 10 persen). Jika tak ada serbuk gergaji, bisa juga dipakai tepung jagung, tepung terigu, dan tepung tapioka.
Fungsinya adalah untuk menghasilkan pori-pori pada keramik tersebut. Pori-pori inilah yang nantinya berfungsi mengalirkan sekaligus menyaring air kotor. Bakteri akan dihalau dengan menggunakan koloid perak.
Adukan tanah liat dan serbuk gergaji tadi lalu dikeringkan. Setelah kering barulah dibakar pada suhu 850 derajat Celsius.
Keramik penyaring ini lalu ditempatkan di bejana yang sudah dilobangi bagian bawahnya. Saluran antara bejana penyaring dan bejana penampung harus dibuat rapat agar tidak ada air kotor yang merembes ke bawah. Dengan demikian, air itu hanya menetes setelah melalui keramik penyaring.
Begitu air kotor dimasukkan bejana, keramik penyaring mulai bekerja. Dengan memanfaatkan gaya gravitasi, perlahan-lahan air bersih itu menetes ke bejana penampung.
Sebaiknya, air pada penyaringan pertama hingga 20 liter dibuang untuk menghindari kadar perak yang berasal dari keramik penyaring yang untuk pertama kali digunakan. "Setelah itu, air tersebut bisa dipakai karena sudah tidak mengandung perak lagi," kata Husein.
Ia yakin, air hasil penyaringan ini, berdasarkan uji cobanya, sudah terbebas bakteri, termasuk coli dan Fecal coli serta senyawa kimia lainnya yang membahayakan tubuh manusia.
Upaya Husein membuat alat penyaring air kotor memang tidak sia-sia. Ia mengaku sudah mendapat pesanan dari berbagai kota. Bahkan, BPLHD DKI Jakarta bertekad menggunakan hasil karya Husein sebagai program percontohan untuk penyediaan air bersih di Jakarta.
"Wah kalau memang pemerintah mau menolong kami dengan alat itu, kami salut padanya. Namun, sampai sekarang kok kami belum melihat janji-janji tersebut ya," kata Wardi, warga yang bermukim di sekitar Sungai Ciliwung, Cawang, Jakarta Timur. (B-12)