SUARA PEMBARUAN DAILY

Air Tanah Jakarta Dijejali Coli

Waspadalah, bakteri coli (Coliform) bergentanyangan di sekitar Anda. Imbauan ini bukan main-main. Berdasarkan penelitian Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, kualitas air tanah sebagian besar, diduga mencapai 85 persen, sudah tercemar coli.

Oleh Wartawan "Pembaruan" BUDIMAN

Pembaruan/Jurnasyanto Sukarno

BANTARAN KALI - Seorang warga beraktivitas di bagian belakang rumahnya di bantaran Kali Ciliwung, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Foto diambil beberapa waktu lalu.

Temuan tersebut sebenarnya tidaklah mengagetkan kita. Coba lihat kehidupan di sepanjang bantaran kali yang menjelajahi Kota Jakarta dan sekitarnya. Kotoran (tinja) manusia dengan mudahnya terjun bebas ke kali yang memang sudah kotor.

Bukan hanya itu saja, rumah-rumah yang berdekatan dengan kali juga sering tidak dilengkapi dengan sistem mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang memadai. Lagi-lagi, tinja digelontorkan begitu saja ke sungai melalui pipa pralon.

Jadilah sungai-sungai itu menjadi kakus raksasa yang menebarkan aroma tak sedap. Populasi coli semakin tumbuh subur melumpuri wajah sungai Jakarta dan sekitarnya. Hal itu tak terlepas dari meningkatnya populasi manusia dari waktu ke waktu.

Kalau dulu sungai di Jakarta menjadi arena bermain yang mengasyikkan bagi anak-anak, sekarang ini jangan pernah mencobanya lagi. Bukan apa-apa, kebiasaan itu bisa menjadi malapetaka buruk. Aneka penyakit bisa menyerang kesehatan tubuh anak.

Jika anak-anak itu atau orang dewasa sekalipun, secara sadar atau tidak, meminum air yang terkontaminasi coli, tubuh mereka bisa terkena diare. Bahkan bisa jadi, akibat dehidrasi yang berlebihan berujung pada kematian.

Coli Ciliwung

Berjibunnya tinja manusia yang tak terkontrol dengan baik itu juga terbukti telah mencemari banyak sungai, termasuk Ciliwung. Laboratorium BPLHD DKI Jakarta pernah mendata keberadaan coli di sungai tersebut.

Hasilnya, kandungan coli di sungai yang membelah Kota Jakarta itu mencapai 130,104. Sementara itu, kandungan coli tinja (Fecal coli) sekitar 80,101. Suatu jumlah yang kelewat besar.

Penelitian serupa juga dilakukan pada kualitas air sumur di kawasan Kelapa Dua, Depok. Ternyata, kadar bakteri coli di air sumur tersebut mencapai 1.600,101. Selain itu juga ditemukan bakteri coli tinja dengan kadar 300,101. Padahal nilai baku mutu untuk kedua mikrobiologi jenis ini adalah nol.

Jadi, dengan kandungan bakteri sebesar itu, mutu air tanah di kawasan Jakarta sangat memprihatinkan. Bisa dibayangkan kalau warga di situ mengonsumsi air yang telah bercampur dengan bakteri jorok itu. Kesehatan manusia bisa digerogoti karenanya.

Secara fisik, tidaklah sulit mengenali air yang tercemar coli. Warna airnya tidak jernih, namun berwarna kekuning-kuningan. Air dimaksud juga berbau kurang enak.

Jadi, jika air sumur Anda memiliki ciri-ciri seperti itu maka jangan langsung dipakai untuk mencuci pakaian, piring, gelas, atau sayuran. Apalagi untuk meminumnya. Cara paling aman adalah tidak menggunakan air tersebut.

Cara lain bisa diolah dengan menggunakan alat lebih dulu. Di pasar-pasar, alat penyaring polutan air banyak beredar dari yang paling sederhana sampai seharga jutaan rupiah.

Kalau Anda sayang membelanjakan uang untuk keperluan itu, bisa juga membuat sendiri pengolah air secara sederhana dan terbukti efektif dalam menyaring polutan. (Baca Menyaring Air Kotor Jakarta).

Lalu, mengapa air tanah di Jakarta sudah semakin parah kualitasnya? Banyak hal menjadi penyebabnya.

Jarak antara kakus dan sumur yang terlalu dekat sebagai penyebab utamanya. Akibatnya, air sumur dengan begitu mudahnya bisa disusupi bakteri coli.

Dalam kondisi jumlah manusia yang terus bertambah, membuat jarak aman agar coli tidak menyusup ke sumur tidaklah mudah. Luas tanah yang serba terbatas tidak memungkinkan bagi warganya membuat sistem MCK yang hieginis.

Jalan Tengah

Jalan tengah yang bisa diambil adalah tidak membuat sumur di kawasan tersebut. Hal ini berarti, warga harus membeli air untuk keperluan sehari-hari.

Ujung-ujungnya, warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam lagi.

Bagi keluarga mampu hal itu tak jadi soal. Mereka ini bisa membayar berapa pun air yang dikonsumsi setiap hari. Tetapi bagi keluarga dengan kondisi keuangan yang serba terbatas, masalah tersebut kian melilit kehidupan mereka.

Kondisi demikian menjadikan warga kurang beruntung itu laksana maju kena mundur pun kena. Mau meninggalkan air sumur berarti dia harus mengeluarkan lebih banyak lagi uang. Tetapi jika menggunakan air sumur, bencana di kemudian hari juga harus ditebus dengan harga yang malah lebih mahal pula.

"Wah untuk sekadar makan di Jakarta saja sudah demikian sulit, apalagi jika ditambah harus membeli air untuk keperluan sehari-hari. Dari mana lagi saya harus mencari duit," ujar Eko, pedagang sayur keliling yang tinggal di kawasan padat penduduk di Pasar Minggu.

Eko pun paham, mengonsumsi air sumur dengan kualitas buruk bisa berpengaruh terhadap kesehatan tubuhnya di kemudian hari. Ketika dia dihadapkan pada situasi sulit semacam itu, ia pun hanya bisa pasrah.

"Biarlah itu urusan nanti saja," katanya penuh pasrah. Warga senasib Eko tidak sedikit. Jelas mereka berada pada kondisi termajinalkan.

Kondisi serupa juga dialami oleh para nelayan yang hidup di kampung-kampung kumuh di pinggir pantai Jakarta. Memasuki permukiman mereka yang berada di Muara Baru, Pembaruan disambut dengan bau anyir.

Suasana lingkungannya bertambah menyeramkan ketika melangkah masuk ke dalam lagi. Aneka tumpukan sampah dari berbagai sumber mengendap-ngendap bersama air laut di bawah lantai kayu rumah mereka.

Seluruh kegiatan pembuangan manusia juga ditampung di situ. "Kami sudah biasa menghadapi kondisi seperti ini," ujar Busran penuh percaya diri. Dia tidak sadar atau memang tak punya pilihan lain untuk menikmati kondisi lingkungan yang tak menyehatkan itu.

Lain lagi dengan Miki. Warga Betawi yang bermukim di kawasan Pasar Minggu lebih lantang bersuara. "Pemerintah bisanya hanya bicara, tak pernah memikirkan nasib rakyat kecil," ujarnya.

Miki pun dengan fasih merujuk UUD 1945. "Berdasarkan UUD itu, pemerintah katanya menjamin kebutuhan air untuk rakyatnya. Lho, buktinya mana?" Miki menggugat.


Filter Alami

Kondisi buruknya air tanah di Jakarta juga disebabkan minimnya penyaring (filter) secara alami. Tanaman hijau dengan akar-akarnya sebenarnya mampu berfungsi menyerap aneka polutan air yang meresap ke tanah.

"Namun, dengan semakin ditebangnya pohon-pohon itu menjadi rumah, pabrik, jalan, dan fungsi lain, Jakarta sudah tidak punya filter alami. Air hujan pun tak bisa meresap ke tanah lantaran permukaan tanah sudah dilapisi aspal, beton, dan aneka jenis bangunan lainnya," kata Pakar Hidrologi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Hidayat Pawitan kepada Pembaruan, baru-baru ini.

Tanah pun menjadi kering kerontang. Dan ketika air kotor itu masuk ke lapisan tanah, semua zat terlarut lolos begitu saja dan akhirnya mencemari air sumur.

Tanah yang kering tadi, tanpa menyimpan air hujan, semakin memuluskan polutan terus bercokol bebas dan merember ke sumur-sumur penduduk. Kondisi inilah yang juga menyebabkan air laut sudah mengintrusi hingga ke kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.

Maklum, hutan mangrove sudah dicukur habis dan kini diganti dengan deretan rumah-rumah mewah. Padahal, akar mangrove bisa berfungsi mencegah bahan-bahan polutan.

Fungsi serupa juga berlaku bagi pohon-pohon besar lainnya di daratan. Tanah yang gundul tak akan bisa mencegat zat-zat polutan yang dibawa bersama air tanah. Sebaliknya, akar-akar pohon yang rimbun bisa menjadi tameng mujarab untuk menghalau musuh manusia, termasuk coli.

Menumbuhkan kembali pohon-pohon di Jakarta memang tidak mudah. Vegetasi merupakan mahluk hidup yang dipaksa tunduk dengan kemauan segelintir manusia.

Kalau sudah begini, cepat atau lambat, bencana menyergap keangkuhan manusia. Siapa menerbar angin, dia akan menuai badai.*


Last modified: 13/5/05