"PALING mahal ya tenaganya. Butuh tiga minggu untuk menyelesaikan satu lukisan saja," kata lelaki yang mengaku berusia sekitar 60 tahun itu.
Pak Wayang, demikian panggilan pria yang bernama asli Sukarmin itu. Dia juga sering juga disapa Babeh oleh para karyawan Grup Lippo, yang berkantor di gedung Citra Graha, Jl Gatot Subroto, Jakarta.
Dia hijrah dari Solo ke Jakarta sejak 1980-an, setelah sawahnya di kampung mengalami gagal panen.
Melukis wayang diatas lembaran kulit kambing, sebenarnya sudah ditekuninya pada masa mudanya dulu. Namun, pekerjaan itu tidak memberinya hasil lumayan pada masa itu.
Tidak mampu bersaing mencari pekerjaan yang lebih layak, Sukarmin pun wara-wiri menjadi pedagang rokok eceran, sampai akhirnya bisa memiliki gerobak rokok sendiri. "Di sini tidak boleh buka kios. Kalau gerobak gampang dipindah-pindah," katanya.
Dia sudah ada di lokasi sekarang, di samping kiri gedung Citra Graha, pinggir jalan sebelum pintu masuk kompleks perumahan milik TNI AD, sejak pertengahan era 80-an. Karena itu, dia sudah dikenal baik oleh sebagian besar karyawan Grup Lippo yang menjadi langganannya.
Tiap hari, setidaknya satu lukisan wayang di lembaran kulit kambing sedang dalam penyelesaian, terlihat tergantung dekat gerobaknya itu. Karena itulah julukan Pak Wayang melekat pada dirinya. "Sudah ratusan yang saya selesaikan sejak 20 tahun lalu," ucapnya.
Butuh waktu lama untuk menyelesaikan tiap lukisan. Karena dia tidak rutin mengerjakannya. "Sebenarnya saya melukis hanya mengisi waktu luang di malam hari hingga hari menjelang subuh. Bukan iseng. Tapi waktu mengerjakan lebih banyak saat jaga warung malam hari," katanya.
Siang hari, tugas menjaga warung digantikan oleh istrinya. "Saya dan istri saja di sini, anak-anak saya tinggal di Solo," ujarnya.
Hanya setahun sekali Sukarmin pulang ke kampung halaman, berbarengan dengan arus mudik Lebaran, seperti para migran asal daerah Jawa lainnya.
Keuntungan yang didapatnya dari satu lukisan tak seberapa. "Satu lukisan saya hargai Rp 800.000. Mahal, karena bahannya juga mahal. Itu sudah termasuk pigura ukuran 140x100 cm yang harganya Rp 350.000, pesan di tukang pigura. Lalu, untuk selembar kulit kambing harganya Rp 100.000. Belum lagi cat dan bahan-bahan lainnya," tutur dia.
Keuntungan bersih yang dia dapat dari tiap lukisan Rp 150.000-200.000. Keuntungan itu tidak seberapa dibanding waktu pengerjaan yang tiga minggu. "Paling hanya satu lukisan yang terjual tiap satu bulan," ucapnya.
"Untung kalau lukisannya langsung laku. Seperti sekarang, sepi. Jadi, saya kerjakan sambilan saja. Demi kepuasan sajalah. Bisa saja satu lukisan selesai tak sampai seminggu. Tapi percuma, karena pembelinya juga belum tentu ada. Kalau lagi ada, banyak yang pesan. Bila belum waktunya, sepi tidak ada yang beli. Jadi, pikir-pikir lagi mengandalkan hidup dari lukisan, kalaupun mau diseriusi," katanya. (B-14)