JAKARTA - Pada tahun 2005, nilai utang maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia yang jatuh tempo US$ 100 juta. Berkaitan dengan hal itu manajemen Garuda akan membahas pembayarannya bersama para kreditor.
"Dalam pertemuan baru-baru ini, kami menjelaskan kondisi kami secara transparan dan rencana kami ke depan kepada mereka. Mereka sangat menghargai. Tentunya secara internal mereka akan berembug dan menyikapi apa yang kami sampaikan," ungkap Direktur Utama Garuda, Emirsyah Satar, seusai penandatanganan kerja sama antara Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF-AA) dengan Swissair (SR) Technics di Jakarta, Kamis (12/5).
Saat ini, tambahnya, belum ada tanggapan dari kreditor yang berasal dari Inggris, Jerman, dan Prancis. "Yang jelas bulan depan mereka akan datang dan bertemu kita untuk membahas lebih lanjut masalah utang tersebut. Pasti nanti akan ada pendalaman-pendalaman dan hitungan yang lebih teknis," katanya.
Pada kesempatan itu, Emirsyah juga mengungkapkan, kinerja maskapai penerbangan yang belum lama dipimpinnya, mulai membaik. Hal itu ditandai meningkatnya tingkat isian penumpang (load factor), yang sekarang sudah mencapai 70,8 persen dari sebelumnya yang hanya 68 persen.
"Bulan lalu, load factor kita secara menyeluruh mencapai 70,8 persen. Sekarang kita terus menata diri supaya makin efisien," katanya.
Dari data menunjukkan, perkembangan load factor Garuda secara rata-rata belum mampu menembus angka 80 persen. Pascakrisis ekonomi tahun 1998, load factor Garuda turun drastis dari sekitar 65 persen menjadi 58 persen. Tetapi tingkat isian itu naik pada tahun berikutnya menjadi 67 persen. Angka tertinggi dicapai pada tahun 2000 dengan persentase mencapai 73,7 persen.
Namun tingkat isian penumpang itu kembali menurun. Pada tahun 2001 load factor hanya 65,2 persen, kemudian tahun 2002 meningkat menjadi sebesar 66,8 persen, dan 2003 naik sedikit mencapai 69,5 persen. (M-11)