SUARA PEMBARUAN DAILY

Trauma Bencana dan Doa Bersama

ADA pemandangan yang tak biasa di Tapanuli Utara. Sejak Selasa (3/5), sebagian warga mulai mengemasi barang-barang berharga. Bahkan, ada yang meninggalkan rumah.

Dari percakapan sesama warga, sering terlontar pertanyaan, "Apa mungkin gunung di bawah Danau Toba itu akan meletus?" Paling tidak, kalimat itu juga terlontar dari mulut Hotman Pasaribu (45).

Ia memang cemas. Kecemasannya, kekhawatirannya, tak juga pupus walaupun sudah mendengar laporan dari pemerintah kabupaten di Toba Samosir, daerah tempat tinggalnya, yang semestinya menenangkan hati. Pemerintah kabupaten selama ini terus meredam isu, menyatakan sama sekali tidak benar isu yang menyebutkan akan terjadi bencana yang menghancurkan permukiman penduduk.

Kendati demikian, Hotman menganggap menghindar lebih baik. Dan, menghindar, bagi Hotman yang bekerja sebagai petani itu, adalah ke Medan.

Ia menceritakan, betapa kawasan tempat tinggalnya berhari-hari dilanda isu bencana lebih dahsyat daripada musibah gempa dan gelombang tsunami.

Lebih mencemaskan lagi, musibah itu dikait-kaitkan dengan hari besar keagamaan. Gempa bumi yang diikuti gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Nias terjadi sehari selepas Natal, yakni 26 Desember 2004. Kemudian, gempa bumi yang memorakporandakan Nias, terjadi sehari setelah Hari Raya Paskah, tepatnya 28 Maret.

Ketakutan

Dan, ketakutan pun melanda bukan sebatas pada korban bencana alam yang kini hidup mengungsi, tetapi juga warga di sekitar wilayah yang tertimpa bencana alam beberapa saat lalu. Ketakutan itu datang begitu saja ketika melihat tanggal 5 Mei yang bertanda merah di kalender semakin dekat. Itu hari besar keagamaan, Kenaikan Isa Almasih.

Ingatan pun langsung melayang ke bencana alam lalu. Bencana alam yang datang tak lama setelah peringatan hari besar keagamaan. Perhatian kini tertuju pada Danau Toba.

"Tidak salah apa yang mereka lakukan maupun yang mereka nilai tersebut. Bencana besar baru-baru ini terjadi sehari setelah hari besar keagamaan umat Nasrani. Kita semua tidak tahu, apakah itu berkaitan erat, atau memang kebetulan," Pendeta JA Samosir menjelaskan.

Ia mengharapkan semua umat Nasrani maupun masyarakat beragama lainnya bersama-sama berdoa, memohon kepada-Nya, meminta diselamatkan dari bencana.

"Sudah cukup beban penderitaan yang dihadapi saudara-saudara kita di Nanggroe Aceh Darussalam dan Kabupaten Nias. Sulit bagi kita untuk membayangkan musibah yang dialami saudara kita tersebut," katanya.

Musibah yang telah terjadi, Samosir menambahkan, cukup dijadikan bagi semua umat untuk mengoreksi diri, tidak egois, dan harus menyadari perbuatan yang telah dilakukannya. "Kalau berbicara tentang dosa, sudah pasti semuanya bersalah.

Yang harus kita lakukan saat ini hanyalah berdoa mengharapkan pengampunan, melakukan hal terbaik tanpa mengharapkan imbalan di hadapan-Nya," katanya.

Doa Zebua

Isu gempa disertai dengan tsunami itu masih bercampur-aduk dengan isu lain yang tak jelas sumbernya. Dari mulut ke mulut beredar cerita tentang seorang bayi yang sempat mengingatkan keluarganya sebelum meninggal, meminta keluarganya mewaspadai musibah yang akan terjadi dalam bulan ini. Kabar seperti itu berkembang pesat, semakin meresahkan.

"Sumbernya saya tidak tahu pasti. Ada yang menyebutkan peristiwa itu terjadi di Tanjung Morawa, ada juga yang mengatakan kabar peringatan itu datang dari Sibolga, Belawan. Tapi, meskipun tidak jelas sumbernya, isu itu cepat beredar," Darmawan, seorang warga, menceritakan.

Kejadian demi kejadian, ditambah isu yang beredar cepat, memang membuat warga ketakutan. Di kawasan Toba Samosir, maupun kabupaten lain yang berbatasan dengan perairan Danau Toba, banyak warga mengungsi.

Mereka tidak memercayai laporan ahli geologi maupun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), yang sejak lama menyosialisasikan tidak akan terjadi bencana.

Warga mengungsi ke daerah dataran tinggi, misalnya, perbukitan maupun pegunungan. Tidak sedikit pula warga yang bertahan di rumahnya, kendati selalu diliputi kecemasan. Yang bisa mereka lakukan, terus berdoa, seperti dilakukan Agusman Zebua (30), pengungsi, korban gempa di Nias.

Sudah dua pekan ini ia menetap di Medan, tinggal sementara di rumah familinya di Jl Denai, Kecamatan Percut Seituan. Gempa bumi yang lalu merampas nyawa dua anggota keluarganya.

Ia mengungsi setelah mengubur dua adiknya, Christin (22) dan Magdalena (18), serta seorang sepupunya, Anthoni (34).

"Sulit sekali melupakan kenangan indah bersama mereka. Sedih juga, tapi tidak seorang pun dapat menantang apalagi untuk menolak kehendak-Nya," Zebua berusaha tegar.

Dan, memperingati hari Kenaikan Tuhan Yesus, umat Kristen di Sumatera Utara melakukan doa bersama di sepuluh tempat. Selain di Medan, kegiatan itu dilakukan juga di Pematang Siantar, Tarutung, Balige, Kisaran, Tebing Tinggi, Lintong Ni Huta, Sidikalang, Lubuk Pakam, Langkat.

"Salah satu tujuan doa bersama ini adalah memohon perbaikan bangsa, meminta keselamatan pascagempa dan gelombang tsunami, baru-baru ini. Selain itu kami mendoakan semua korban bencana yang selamat diberi kekuatan dalam menghadapi cobaan," Pendeta J Sirait menyampaikan hal itu.

PEMBARUAN/ARNOLD H SIANTURI


Last modified: 6/5/05