JAKARTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta sudah melakukan pemantauan rutin terhadap sumber air penduduk di Ibukota. Hal itu dilakukan untuk mengetahui persentase pencemaran air tanah, baik yang disebabkan bakteri maupun zat kimia. "Khusus untuk pencemaran karena bakteri E Coli memang persentasenya cukup tinggi. Daerah yang paling rawan Jakarta Barat," ungkap Humas Dinkes Provinsi DKI Jakarta Evi Salvino kepada Pembaruan, di Jakarta, Jumat (15/4).
Menurut dia, pencemaran air tanah oleh bakteri E coli memang disebabkan letak bak penampung kotoran dan sumber air yang berdekatan. Hal itu disebabkan letak rumah di Jakarta kebanyakan berdempetan dan padat, sehingga warga sering mengabaikan jarak normal antara bak penampung kotoran dan sumber air. Untuk mengatasinya, lanjut dia, Dinkes telah memberikan penyuluhan agar masyarakat menjernihkan dan membersihkan air secara sederhana, seperti menggunakan kaporit. Selain itu, warga disarankan untuk meminum air yang sudah dimasak hingga mendidih.
Bahan makanan seperti sayuran dan buah-buahan, serta peralatan makan sebaiknya dilap dengan kain bersih hingga kering atau dijemur di panas matahari, setelah dicuci. Itu untuk menghindari kemungkinan bakteri tetap ada di buah-buahan dan sayuran atau perlengkapan makan yang dicuci dengan air dari sumur atau air ledeng. "Satu hal yang tidak kalah penting, warga sebaiknya mencuci tangan dengan menggunakan sabun. Supaya bakteri yang ada di air tidak tertinggal di tangan," ujar Evi.
Sebelumnya, Wakil Kepala LIPI Lukman Hakim mengungkapkan, air tanah di Jakarta sudah tidak layak diminum karena sekitar 30-40 persen di antaranya telah tercemar bakteri E Coli, penyebab penyakit kolera. Untuk menghindari gangguan akibat penyakit yang disebabkan bakteri E Coli dalam air tanah, Lukman menganjurkan agar masyarakat mengonsumsi air mineral dalam kemasan yang memang sudah melalui proses sterilisasi. (J-9)