SUARA PEMBARUAN DAILY

Burung Beo Cari Gara-gara

MINGGU (10/4) dini hari, warga terbangun dari tidur nyenyak di tenda pengungsian di permukiman di Jalan Sudirman, Kecamatan Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Mereka terkejut, mendengar suara sayup-sayup. "Haus... haus...."

Lalu diam.

Sejenak warga ketakutan. Tidak lama kemudian suara yang sama muncul lagi. Suara itu terdengar makin jelas ketika hari menjelang pagi. Warga yang mendengarnya langsung bangun, keluar dari tenda.

Tak seorang pun dapat kembali tidur. Mereka berkumpul, seperti biasanya mereka lakukan pada malam hari, berbagi cerita. Tak ada pembicaraan lain selain suara yang baru saja mereka dengar. Warga bertanya-tanya, apakah suara itu suara korban yang selamat tetapi terjepit reruntuhan bangunan?

"Kami memang sempat mendengar suara tersebut. Suaranya begitu kecil, yang sangatlah tidak mungkin suara orang. Apalagi, kalau sampai saat ini masih hidup tertimbun bangunan besar. Tapi, apakah mungkin suara itu berasal dari orang yang sudah 'pergi'?" Mereka saling bertanya. Warga lain mengatakan, suara itu datang hampir tiap lewat tengah malam.

Sebab itu, Minggu pagi itu, mereka memutuskan mencari tahu asal suara. Warga membongkar reruntuhan dari bangunan yang mereka perkirakan tempat suara itu berasal.

"Kami kira korban yang selamat, ternyata hanya seekor burung beo yang masih terkurung di kandang besi," ujar Rahmad Zebua.

Ia mengenali burung itu sebagai beo milik seorang pengusaha grosir. Anthony (40), pengusaha grosir itu salah satu korban tewas. Ia menambahkan, banyak pengusaha yang memelihara burung di sepanjang pertokoan. "Burung beo milik Anthony itu selama ini memang dikenal paling pintar," katanya lagi.

Begitu berhasil dievakuasi, para pengungsi memutuskan menyerahkan burung beo itu kepada seorang warga, yang bersedia memeliharanya. "Ia memberikan kepada kami uang satu juta rupiah, yang langsung kami bagi-bagi," Ridwan teman Rahmad, menambahkan.

Kisah beo ditinggalkan pemiliknya juga terjadi di Desa Batolaka Tuhemberua. Warga yang sedang mengungsi juga sempat bertanya-tanya, salah-salah masih ada korban yang terjepit di reruntuhan bangunan dan meminta tolong. Warga bahkan sempat membayangkan hal-hal terburuk, layaknya biasa dilihat di tayangan-tayangan misteri di stasiun-stasiun televisi.

"Saya sempat ketakutan, menganggap suara itu dari orang yang sudah mati. Tiga malam saya sempat tidak bisa tidur gara-gara mendengar suara itu. Pagi harinya, warga lain merasakan hal sama, juga mendengar suara aneh tersebut, yang menyebut-nyebut 'haus ... makan ...'," warga yang dipanggil Kojek bercerita, menirukan suara itu.

Begitu tak tertahankan, warga memutuskan mencari asal suara, di salah satu bangunan yang roboh. Warga mengangkati bebatuan yang roboh itu. Pemilik rumah, Kurniantoro (50), bersama keluarganya, ditemukan tewas.

"Kami terus membongkar. Akhirnya kami mendapati suara itu suara burung beo, yang selamat. Kami baru teringat kalau Pak Sis memang mempunyai burung beo yang cerdik. Burung itu pun kami lepaskan. Tidak ada warga di sini yang mau memeliharanya," Zainuddin Arefa berkisah.

Pulau Nias yang berpanorama indah, dan dikenal sebagai daerah tujuan wisata, terkenal dengan burung beonya. Rupanya, gempa dahsyat yang mengguncang Nias, juga banyak merenggut nyawa beo peliharaan warga.

Saat ini, kicauan burung cerdik itu tidak terdengar lagi. "Saat ini sulit sekali untuk mendapatkan burung beo. Sebelum gempa datang, burung beo banyak dipelihara dan diternak warga di sini," ujar Agusman, warga di Gunung Sitoli.

PEMBARUAN/ARNOLD H SIANTURI


Last modified: 15/4/05