JAKARTA - Salah satu kandidat ketua umum (ketua dewan tanfidziyah) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ahmad Muhaimin Iskandar, tidak menganggap Saifullah Yusuf sebagai pesaing kuatnya. Muhaimin lebih melihat Mohammad Mahfud MD yang saat ini menjadi Wakil Ketua Umum PKB sebagai pesaing yang harus diperhitungkan.
Sikap Muhaimin ini terlihat ketika ditanya wartawan dalam jumpa pers menjelang Muktamar II PKB, Kamis (14/4) sore, di Jakarta. Ditanya mengapa pesaing terkuatnya nanti adalah mantan Menteri Pertahanan dan Menteri Kehakiman dan HAM di masa pemerintahan Gus Dur itu, menurut Muhaimin, karena Mahfud lebih sejuk dan cool gaya kepemimpinannya, di samping lebih diterima di kalangan PKB.
Saifullah Yusuf sendiri sampai saat ini belum menyatakan akan mencalonkan diri meskipun banyak disebut dan bahkan lebih dikenal di kalangan basis massa PKB. Utamanya karena selama ini memimpin Gerakan Pemuda Ansor, ormas di bawah Nahdlatul Ulama (NU). Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal ini bahkan terkesan tidak direstui Gus Dur yang di kalangan PKB sering dianggap sebagai penentu.
Muhaimin sendiri optimistis mendapat dukungan besar di Muktamar II PKB nanti. Muhaimin yang juga Wakil Ketua DPR bidang Kesra itu menjanjikan membangun PKB sebagai partai nasional dalam arti kewilayahan dan ideologi. "Saya akan merekrut Sekjen dari luar Jawa sebagai wujud PKB adalah partai yang bersifat nasional," katanya.
Sementara salah satu tim sukses Muhaimin, Lukman Edi, yang juga Ketua DPW PKB Riau menyebut dukungan untuk Muhaimin yang telah mayoritas. Dengan dukungan mayoritas itu, tim sukses Muhaimin menyatakan semangat untuk "Menyelesaikan Muktamar sebelum Muktamar". "Artinya, kami mengupayakan keputusan aklamasi di Muktamar nanti untuk kepemimpinan Pak Muhaimin," kata Lukman Edi.
Untuk mewujudkan hal itu, saat ini terus dilakukan konsolidasi dengan modal dukungan yang sudah lebih dari setengah suara yang ada. Disebutkannya, dari 33 DPW (pengurus PKB tingkat provinsi), 22 DPW sudah tegas menyatakan dukungannya untuk Muhaimin dan nantinya akan disampaikan saat menyampaikan pemandangan umum.
Sedangkan dari 420 DPC (pengurus PKB tingkat kabupaten/kota), 313 DPC disebut telah mendukung Muhaimin. "Selebihnya dalam posisi ragu-ragu, misalnya enam DPW yang belum terbuka, karena di tingkat DPC di wilayah DPW itu masih berbeda pendapat," kata Lukman.
Soal benturan-benturan menjelang Muktamar terkait dengan perebutan posisi ketua umum, diakui ada dan itu memang merupakan dinamika wajar dalam demokrasi. "Yang jelas kami terus mengantisipasi, dan dua hal yang terus diwaspadai adalah larinya dukungan dan money politics," kata Lukman lagi. Meskipun untuk soal money politics disebutnya tidak akan mengganggu karena Lukman yakin, PKB berbeda dibanding partai politik lain dalam hal ini.
Perebutkan 620 Suara
Dalam Muktamar II PKB nanti, diperebutkan sekitar 620 suara meskipun angka ini belum final. Sistem yang dikembangkan PKB untuk pemilihan ketua umum adalah setiap DPC/DPW memiliki sedikitnya satu suara. Untuk DPW/DPC yang perolehan kursinya di DPRD di atas lima, berhak atas dua suara dan DPC/DPW yang memperoleh kursi DPRD di atas 10 berhak atas tiga suara. DPW/DPC yang memiliki hak suara terbanyak adalah Jawa Timur dengan 120 suara dan Jawa Tengah dengan 80 suara.
Namun belum bisa dipastikan, bagaimana mekanisme yang disepakati dalam memilih ketua umum nanti. Bisa dengan pola pemilihan langsung atau ketua dewan syuro terpilih yang akan mengangkat ketua umum. Dalam dua muktamar sebelumnya, di Surabaya dan Yogyakarta (muktamar luar biasa) penentuan ketua umum dilakukan secara berbeda. Di Surabaya, lima tahun lalu, Ketua Umum PKB (Matori Abdul Djalil) diangkat oleh Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro, sedangkan di Yogya, dua tahun kemudian, Alwi Shihab dipilih oleh DPW/DPC.
Di Muktamar II Semarang nanti, ada kemungkinan kepengurusan PKB dibuat dalam bentuk paket yang terdiri dari ketua dewan syuro/sekretaris dewan syuro, ketua dewan tanfidziyah/wakil ketua umum, dan sekjen. Kandidat yang akan memperebutkan posisi ketua umum PKB nanti, selain Muhaimin, adalah Ali Amsykur Musa dan Saifullah Yusuf. Calon lain seperti Mahfud MD justru tenang-tenang dan bahkan tidak melakukan kampanye atau konsolidasi/penggalangan dukungan. (Y-3)