
PEMBARUAN/YC KURNIANTORO
PENDERITA KUSTA - Suhendra (35) menunjukkan tangannya yang terkena kusta, di Kampung Cimampag, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (12/4). Sejak 1995 ia dinyatakan positif terkena kusta, dan sedikitnya 18 orang lagi dari tiga desa di kawasan itu terkena penyakit yang sama. Bahkan sudah dua orang meninggal akibat mengidap penyakit kusta itu.
SIANG itu, Suhendra (35), warga Kampung Cimapag Desa Loji Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, merasa hawa di sekitarnya cukup panas. Keringat pun mengalir di sebagian kulit perutnya. Anehnya, sekalipun dirinya merasa panas tetapi tidak ada keringat yang mengalir di kulit tubuhnya yang lain, kecuali di sekitar perut. Akibatnya, suhu yang panas itu merupakan suatu penderitaan baginya.
Kondisi semacam itu sudah belasan tahun dirasakan bapak tiga anak ini. Sebagian besar kulit tubuhnya sudah baal atau mati rasa. Tidaklah mengherankan apabila di sekitar tungkai dan telapak kakinya cukup banyak bekas luka-luka. Rambut di kepa-lanya menipis dan kuku jari telunjuk tangan kanannya pun sudah tidak ada.
Suhendra mengisahkan, kondisi tubuhnya seperti itu karena penyakit kusta. Praktis pria yang hanya mengecap pendidikan Sekolah Dasar (SD) ini tidak bisa bekerja. Kini, ekonomi rumah tangganya bergantung pada istrinya, Rom, yang bekerja sebagai pembersih kebun dengan upah Rp 10.000 sehari. Serta, bantuan dari ibunya Uwen (60), agar ia dan anak-anaknya bisa makan tiga kali sehari.
Kemiskinan membuat anak sulungnya bernama Murni (13) terpaksa berhenti sekolah di kelas tiga SD. Baru dua hari terakhir ini anaknya bisa kembali ke bangku sekolah, setelah Kepala Puskesmas Simpenan, Didi SKM meminta kepala sekolah tempat Murni belajar, menggratiskan biaya sekolahnya.
Kusta membuat kehidupan Suhendra yang sulit menjadi semakin sulit. Betapa tidak, sebelum menderita penyakit menular itu, ia masih bisa kerja serabutan. Tetapi sekarang sama sekali tidak bisa bekerja. Sedangkan, program untuk orang miskin, seperti beras untuk orang miskin, pendidikan gratis untuk orang miskin yang didengung-dengungkan pemerintah belum pernah dirasakan Suhendra dan keluarganya.
" Sewaktu tinggal di Pelabuhan Ratu saya memang mempunyai kartu JPS untuk berobat gratis di puskesmas. Kartu itu sekarang ada di rumah yang di Pelabuhan Ratu, sedangkan di Cimapag ini saya menumpang di rumah saudara. Tanpa kartu JPS jika berobat ke rumah sakit, saya harus membayar obat Rp 100.000," kata Suhendra.
Meluas
Menjadi penderita kusta tidak pernah dibayangkan Suhendra. Awalnya, pada tahun 1995, dia merasakan perubahan warna kulit tangannya menjadi merah dan terasa panas. Ketika itu, ujarnya, dia berobat ke puskesmas tetapi tenaga kesehatan setempat tidak mengetahui bahwa penyakit yang dideritanya adalah kusta. Secara perlahan kuman kusta (Mycobacterium leprae) menggerogoti tubuh Suhendra. Dari tangan meluas ke bagian tubuh, lain seperti ke wajah, badan, dan kaki. Selain itu kulitnya pun mati rasa. Penyakit yang dialaminya kerap kambuh. Apabila kambuh, maka kulit wajahnya memerah, badan bengkak, dan panas.
Di Kecamatan Simpenan, tidak hanya Suhendra yang menderita kusta. Sedikitnya ada 18 orang lain yang positif menderita kusta. Dengan rincian, 12 orang di Desa Cibuntu (seorang di antaranya sudah meninggal), enam orang di Desa Cidadap, dan satu orang di Desa Loji.
Menurut Didi, ada enam orang lagi yang masih dalam pemantauan karena keenam orang tersebut menunjukkan gejala-gejala kusta. Dari 19 orang yang menderita kusta, yang paling parah adalah Suhendra. Dia menderita kusta tipe basah (multibacillary).
Kusta tipe ini akan menular bila belum diobati. Selain itu, ada juga yang menderita kusta tipe kering (paucibacillary). Kusta tipe kering, antara lain ditandai dengan bercak, seperti panu yang mati rasa pada kulit.
Tidak mudah bagi para penderita hidup di tengah masyarakat. Sekalipun penyakit ini merupakan penyakit lama (di India ditemukan sejak 600 sebelum masehi (SM) dan di Cina pada 400 SM), tetapi sampai sekarang penderitanya masih mengalami stigmatisasi. Mereka diasingkan, dikucilkan, dan dianggap sebagai penerima kutukan. Itulah yang dialami penderita kusta di Desa Cibuntu.
Didi menuturkan, pada 2 Maret lalu, kepala desa setempat melaporkan warga setempat akan membuang penderita kusta dari desa itu ke hutan karena dianggap sebagai penyakit kutukan. Berawal dari informasi itu, maka tenaga kesehatan dari Puskesmas Simpenan, termasuk dokter datang ke lokasi dan mengunjungi orang yang akan dibuang itu.
Dari hasil pemantauan, ternyata penyakit yang diderita orang tersebut adalah kusta. Kemudian, pihaknya melakukan penelusuran ke desa lain dan menemukan penderita kusta lainnya di Desa Loji dan Desa Cidadap.
"Selama tiga tahun menjadi kepala puskemas baru kali ini saya menemukan kasus kusta. Saya memang salah, karena dalam hal ini saya tidak mengenal kusta karena kasusnya jarang. Selain itu masyarakat juga menutupi kasus. Kami harus aktif mencari penderita kusta. Saya dan tenaga kesehatan dari puskesmas akan menyisir desa lainnya. Kami yang mendatangi mereka dan obatnya adalah obat program sehingga gratis," kata Didi yang sedang menjalani pelatihan tentang kusta di Bandung.
Urutan Ketiga
Saat Pembaruan mengunjungi dua desa yang disebut-sebut mempunyai kasus kusta di Kecamatan Simpenan, umumnya masyarakat setempat tidak mengetahui kusta. Padahal, di sekitar mereka ada penderitanya. Tampak jelas bahwa penyakit ini kurang sosialisasi. Atau, kemungkinan sama sekali tidak ada sosialisasi sehingga dianggap sebagai kutukan. Padahal, apabila diobati dengan tepat penyakit ini bisa disembuhkan.
Kusta, pada awalnya diobati dengan obat kusta berupa Dapson sejak tahun 1941. Kemudian, obat itu dikombinasi dengan Rifampicin, Lampren (yang dikenal dengan multi dugs theraphy). Penyembuhan kusta tergantung pada tipenya. Untuk kusta tipe kering memerlukan pengobatan selama enam bulan. Sedangkan tipe basah memerlukan waktu 12 bulan. Apabila ditemukan terlambat, maka kusta akan sembuh tetapi menyisakan kecacatan.
Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Kesehatan Lingkungan dan Epidemiologi, dr I Nyoman Kandun MPH mengatakan lemahnya penemuan kasus kusta yang menjadi salah satu penyebab penyakit kusta masih ditemukan di beberapa wilayah. Dengan demikian sekalipun Indonesia sudah mencapai eliminasi kusta (angka kesakitan kurang dari 1 per 10.000 penduduk), tetapi masih ada kantong-kantong kusta.
Pada tahun 2003 menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati urutan ketiga di dunia sebagai negara penyumbang penderita kusta baru. Jumlah penderita baru yang ditemukan ada sebanyak 14.641 dan ada 12 provinsi yang belum mencapai eliminasi. Seperti, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Selain itu, ada dua provinsi yang memiliki penderita lebih dari 1.000 orang, yaitu Jawa Barat dan Jawa Tengah. "Penanggulangan kusta memerlukan kesiapan tenaga kesehatan di tingkat pelayanan primer, yakni puskesmas. Puskesmas harus diperkuat dengan menekankan upaya kesehatan promosi dan pencegahan," tegas Nyoman.
PEMBARUAN/NANCY NAINGGOLAN