JAKARTA - Pemerintah Jerman bersama industri swastanya (KfW GTZ) memberikan bantuan US$ 50 juta kepada pemerintah Indonesia untuk merehabilitasi dan merekonstruksi bangunan di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut).
Penyerahan bantuan itu diserahkan oleh oleh Dieter Moll sebagai perwakilan dari Jerman kepada Dirjen Dikdasmen Depdiknas Indra Djati Sidi di Jakarta, Kamis (14/4).
Dijelaskan Indra Djati, dana itu akan digunakan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan sekolah di Aceh dan Sumatera Utara dalam waktu 3-4 tahun.
"Kita memang memerlukan dana yang sangat besar untuk melakukan rehabilitasi dan merekonstruksi sekolah. Karena itu pemerintah menyambut baik bantuan dari negara donor, seperti Jerman," katanya.
Dana sebesar itu akan cukup untuk merekonstruksi 100-200 sekolah, termasuk di dalamnya 12 Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) dan Sekolah Luar Biasa (SLB).
Perbaikan akan diprioritaskan pada sekolah-sekolah yang terkena dampak gempa bumi dan tsunami dengan sasaran prioritas sekolah yang ada di Pulau Nias dan Aceh. Meski begitu tidak menutup kemungkinan untuk membantu sekolah di luar daerah tersebut, tetapi masih dalam satu provinsi.
Untuk langkah awal, pemerintah Jerman telah mengirim tim untuk melihat dan memverifikasi sekolah-sekolah mana saja yang akan direhabilitasi dan perlu rekonstruksi, termasuk penentuan pengalokasian pendanaannya.
Tahap awal akan segera dilakukan pada bulan Mei 2005, diawali dengan pembangunan SMK Negeri 1, SMKN 2 dan SMKN 3 Banda Aceh yang sekaligus akan difungsikan sebagai Teacher Upgrading Center atau Center of Competence.
Guru
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Teungku Alamsyah Banta menjelaskan bahwa masalah guru di Aceh harus mendapat perhatian serius.
Pasca gempa bumi dan tsunami akhir tahun lalu, banyak guru yang menjadi korban. Akibatnya Provinsi NAD kekurangan guru SD-SLTA sebanyak 15.000.
"Pemerintah pusat selain membangun sarana dan prasarana bangunan sekolah yang rusak, tapi juga harus segera mengangkat guru untuk NAD. Sebab, saat ini kami juga sangat kekurangan tenaga guru," katanya.
Menurut dia, pembangunan rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan sekolah di NAD yang rusak, tidak lengkap jika tidak diimbangi dengan pengadaan tenaga guru yang jumlahnya sangat kurang.
Gedung sekolah yang megah dan fasilitas belajar yang lengkap tidak ada gunanya tanpa guru yang menjadi ujung tombak kegiatan pembelajaran.
Dia mengakui apabila masalah guru belum mendapat perhatian terlalu serius dari pemerintah maupun lembaga donor. Hanya Unicef yang sudah memberikan bantuan guru, tetapi sifatnya hanya sementara.
Dalam kesempatan tersebut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Ramli Rasyid mengakui bahwa 65 persen bangunan sekolah di Kota Banda Aceh rusak parah.
Awalnya sekolah itu rusak karena dihantam tsunami dan semakin parah akibat gempa susulan yang terjadi di Pulau Nias. "Akibatnya kegiatan belajar mengajar di sekolah terhambat mengingat sedikit sekali bangunan yang bisa dipakai," katanya. (A-22)