ORANG Jakarta saat ini mungkin kebanyakan hanya mengetahui bahwa Jatinegara, atau yang lebih akrab disebut Mester, adalah pusat pedagang kaki lima yang menjual berbagai benda menarik serta kebutuhan sehari-hari. Pasar itu pun dilengkapi dengan ratusan toko dan pusat perbelanjaan yang serba lengkap, terutama sesuai dengan kantong masyarakat menengah-bawah. Namun, Jatinegara sesungguhnya memiliki catatan sejarah penting dan panjang yang digoreskan oleh Meester Cornelis Senen. Bagaimana sejarah Jatinegara yang sebenarnya? Pantaskah pasar itu dijadikan objek wisata andalan Jakarta?
Oleh Wartawan "Pembaruan" Berthold DH Sinaulan

Foto-foto: Pembaruan/luther Ulag
Selalu ramai - Pasar Jatinegara yang selalu ramai dikunjungi pembeli sepanjang hari.
BILA menyebut Jatine-gara, mungkin ada yang kurang paham letaknya. Namun bila disebut Mester, tak pelak cukup banyak warga kota yang tahu.
Jatinegara itu memang sering disebut juga dengan Mester. Bahkan kondektur angkutan umum, khususnya bus besar dan bus sedang, selalu meneriakkan, "Mester,... mester,...mester,..." setiap kali mendekati halte bus di dekat Pasar Jatinegara.
Mester diambil dari nama kawasan itu pada masa Indonesia masih dijajah Belanda, suatu masa ketika Indonesia masih bernama Hindia-Belanda (Nederland Indies). Saat itu, Jatinegara disebut dengan nama Meester Cornelis.
Suatu nama yang merujuk kepada pemilik tanah di kawasan itu, Meester Cornelis Senen. Dia adalah salah satu warga Banda yang dikirim ke Batavia (nama Jakarta saat itu) oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Jan Pieterzoon Coen pada tahun 1621.
Dalam bukunya Gereja-gereja Tua di Jakarta (terbitan tahun 2003), Adolf Heuken SJ mengungkapkan, Cornelis Senen adalah anak dari keluarga yang cukup kaya dari Pulau Lontar, Banda. Cornelis Senen belakangan menjadi seorang guru agama Kristen.
Pada tahun 1635, Cornelis Senen membuka sekolah, memimpin doa, dan membaca khotbah dalam bahasa Melayu. Belakangan, dia juga memimpin khotbah dalam bahasa Portugis.
Jabatannya sebagai guru itulah yang membuat Cornelis Senen mendapat tambahan gelar Meester di depan namanya. Dia juga menjabat sebagai Kepala Kampung Banda di Batavia.
Setelah 10 tahun melayani umat Kristen berbahasa Melayu dan Portugis, dia diangkat menjadi proponent, calon pendeta. Dia juga mengajar katekisasi (pelajaran sebelum seseorang di-sidi atau diteguhkan sebagai orang Kristen dewasa).
Sayangnya, dia ditolak ketika hendak menempuh ujian untuk menjadi seorang pendeta pada tahun 1657. Bisa jadi, hal itu karena Cornelis Senen adalah seorang bumiputera dan bukan bangsa Belanda.
Namun, Meester Cornelis Senen masih diberikan hak istimewa untuk menebang pohon di tepi Kali Ciliwung yang letaknya sekitar 15 sampai 20 kilometer dari kota Batavia (kawasan Jakarta Kota saat ini). Di tempat itu, dia juga mempunyai sebuah tanah luas penuh pepohonan pada tahun 1661.
Kayu dari pohon yang ditebang, dikirim ke kota dengan cara dihanyutkan lewat Kali Ciliwung. Kayu-kayu itu kemudian dipakai menjadi bahan untuk membangun rumah dan kapal-kapal niaga.
Tanah luas penuh pepohonan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Meester Cornelis dan kini dinamakan Jatinegara.
Menggelar Pakaian
Meester Cornelis belakangan juga dikenal sebagai kawasan militer. Di sana dibangun tangsi dan benteng untuk melatih para tentara. Sampai sekarang pun, kita masih dapat menemukan sejumlah bangunan militer di sana.
Ada perumahan bagi tentara dan keluarganya di kawasan Kesatriaan, Matraman Raya, dan di belakang lapangan Jenderal Oerip Sumohardjo. Di kawasan itu juga ada kantor Direktorat Zeni TNI AD dan Dinas Litbang TNI AD.
Di samping sebagai kawasan militer, sejak dulu tempat itu juga dikenal sebagai pasar. Hal itu bisa terlihat antara lain dalam salah satu lukisan karya Johannes Rach yang hidup antara tahun 1720 sampai dengan 1783.
Rach yang tiba di Batavia pada 1762, memulai kariernya dalam bidang kemiliteran. Namun, karena dia juga dikenal sebagai seniman gambar topografis, Rach sering diminta oleh para pejabat militer untuk membuat gambar rumah mereka.
Lukisan-lukisan Rach yang sudah dibukukan oleh Perpustakaan Nasional RI bekerja sama dengan Rijksmuseum Amsterdam pada tahun 2002, merupakan salah satu data sejarah yang penting dalam bentuk gambar.
Khusus untuk kawasan Meester Cornelis, Rach pernah membuat gambar dengan kuas dan tinta di atas kertas berukuran 35,5 x 52 cm.
Gambar yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional RI itu menggambarkan sebuah benteng Belanda. Di depannya tampak sebuah pasar yang terdiri dari deretan kios beratap rumbia, tempat para pedagang menawarkan dagangannya.
Beberapa perempuan menggelar pakaian dagangan mereka, sementara tampak pula dalam gambar itu calon-calon pembeli yang mendatangi pasar tersebut. Menurut buku terbitan 2002, yang teksnya ditulisnya oleh Max de Bruijn dan Bas Kist, kabarnya pasar di Meester Cornelis hanya buka setiap hari Kamis.
Namun sekarang, bisa dibilang pasar di kawasan yang kini bernama Jatinegara itu buka sepanjang hari. Berbagai barang dagangan dijual di sana.
Penjualannya pun bisa dalam bentuk grosir, yang biasanya dilakukan pedagang kecil yang kemudian akan menjual kembali barang yang dibelinya, maupun secara eceran.
Di dekat Pasar Jatinegara itu juga terdapat banyak lagi tempat orang berjualan. Ada pasar burung yang menjual bukan hanya unggas, tetapi juga ikan hias, kelinci, dan banyak hewan lainnya.
Ada juga pedagang kaki lima (PKL) yang memenuhi jalan mulai dari pertigaan Jl Matraman Raya-Jl Slamet Riyadi, sampai terus ke arah Stasiun KA Jatinegara, dan bahkan berbelok juga ke arah Kampung Melayu.
Soal PKL, ini berulang kali sempat membuat pusing pengguna jalan lain. Pemerintah Kota Jakarta Timur berulang kali pula merazia mereka, tapi tampaknya sampai kini belum berhasil. Namun di pihak lain, keberadaan PKL tersebut juga banyak membantu masyarakat yang ingin membeli barang dalam harga murah.
Bukan itu saja. Sejumlah PKL juga melayani para kolektor yang sengaja "berburu" benda koleksinya ke tempat itu. Di antara ratusan bahkan ribuan PKL, ada beberapa pedagang yang berjualan cincin dan batu-batu berharga, mata uang kertas dan logam (koin), lukisan, botol-botol berbentuk unik, keramik, sampai prangko dan surat-surat kuno.
Jadi, memang tak salah sebutan bahwa Jatinegara ada- lah pasar sepanjang masa.*