SUARA PEMBARUAN DAILY

Warga Blokir Jalan Salembaran

Kerusakan Jalan Legok Bertambah Parah

TANGERANG - Sedikitnya 150 warga Desa Salembaran Jaya, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, memblokir Jalan Salembaran Jati yang menghubungkan Kecamatan Kosambi dan Teluknaga.

Pemblokiran dengan cara memasang perintang dari kayu dan puing-puing bangunan ini dilakukan untuk kedua kalinya setelah aksi pertama dilakukan 24 Maret 2004 lalu.

Aksi yang dimulai Kamis (14/4) pagi pukul 09.00 WIB hingga siang hari ini mengakibatkan arus kendaraan dua arah macet total. Warga menuntut Pemerintah Kabupaten Tangerang segera memperbaiki jalan yang rusak parah dan menurunkan kegiatan perekonomian masyarakat.

Menurut koordinator Forum NGO Pantura, Mamat Cahyadi, aksi tersebut dimaksudkan mendesak Pemkab Tangerang secepatnya turun tangan melakukan perbaikan Jalan Salembaran yang rusak berat. Menurutnya, jalan ekonomi dengan panjang sekitar 5 km itu tak layak lagi dilintasi kendaraan.

"Para LSM di Pantura mendesak Pemkab segera membereskan jalan ini mengingat kondisinya sangat memprihatinkan. Jalan ini kan tembus ke Kronjo, tapi kami cuma melakukan aksi pemblokiran di sini saja," ujarnya kepada wartawan di sela-sela aksi.

Kekesalan atas kerusakan jalan itu dilontarkan pula Ketua LSM Gema Palu, M Jamin. Menurutnya, warga terpaksa memblokir jalan lantaran tersiksa dengan kerusakan jalan yang kian parah. Setiap hari, kata dia, warga berharap ada perbaikan jalan tersebut, setidaknya dilakukan pengurukan dulu. Sebab, di sepanjang jalan itu sarat lubang besar yang menganga dan mirip kubangan kerbau ketika digenangi air sewaktu turun hujan deras.

Aksi pemblokiran jalan juga didukung para sopir angkutan umum jurusan Teluknaga-Kamal dengan cara membuat barikade ditengah jalan. Selain itu kendaraan mereka juga diparkir di tengah jalan.

Parah

Sementara itu, kerusakan Jalan Raya Legok dari Islamic Karawaci hingga pos Legok Kabupaten Tangerang, kurang lebih sepanjang 10 km, bertambah parah. Para pengguna jalan kesulitan untuk melintas jalan beton yang dipenuhi lubang sana-sini dengan kedalaman hingga 30 cm tersebut.

Sejumlah pengguna jalan mengatakan, kerusakan Jl Legok tersebut jelas menghambat arus lalu lintas dan menimbulkan debu. Selain waktu tempuh yang menjadi lebih lama dan kerap menimbulkan kemacetan juga merusak kendaraan yang melintas.

"Pemerintah sudah tidak perduli. Tidak ada perhatian terhadap warga masyarakat yang jelas tersiksa dengan kondisi jalan seperti ini," ujar Ahmad sopir angkot Pos-Legok kepada Pembaruan.

Hal yang sama juga diungkap Juli, warga perumahan Dasana Indah. Menurutnya, kerusakan jalan telah membuat mereka tersiksa. "Badan sakit-sakit semua kalau melintas jalan tersebut. Apalagi kalau naik kendaraan umum, sopir tahunya kejar setoran sehingga tidak peduli apakah penumpang tersiksa. Yang penting ngebut," ujarnya.

Keluhan kerusakan jalan yang sudah berlangsung sekitar enam bulan ini sering kali disampaikan warga ke aparat Pemda. Namun tidak ada respon sama sekali.

Padahal ruas Jl Legok Raya ini merupakan salah satu jalan utama yang dapat menghubungkan Tangerang dengan Kabupaten Bogor. Ruas jalan ini juga banyak dilintasi oleh kendaraan besar untuk mengangkut material seperti pasir, tanah, dan batu kali sehingga memperparah kerusakan jalan.

Jika ada kendaraan berat yang mogok, praktis pengguna jalan lainnya menjadi terganggu dan menimbulkan kemacetan berkepanjangan karena lebar jalan Legok sempit hanya untuk dua jalur kendaraan yang melintas berlawanan.

Sementara itu, mengenai kerusakan jalan di sejumlah ruas di Kabupaten Tangerang, DPRD setempat mendesak agar pemerintah daerah segera merealisasikan proyek pembangunan infrastruktur jalan yang dibiayai dari pinjaman bank sebesar Rp 100 miliar.

Dewan menilai, kerusakan ruas jalan terutama di wilayah utara Kabupaten Tangerang meliputi, Jl Legok, Teluk Naga, Kosambi, Kronjo, Kresek sudah sangat parah dan memprihatinkan.

"Berdasarkan pantauan kami dan laporan dari warga, kondisi jalan memang sudah sangat tidak layak," kata Ketua Komisi D, Ahmad Kurtubi Suud.

DPRD, kata Kurtubi, mempertanyakan kepada pemerintah daerah mengapa proyek jalan itu belum juga dilaksanakan. Padahal, DPRD sudah menyetujui dan danaitu sudah dicairkan.

"Justru kami menanyakan ada apa dengan eksekutif, dana pinjaman itu sudah kami setujui, bahkan sudah dicairkan," kata anggota dewan dari PPP ini.

Pemerintah Kabupaten Tangerang telah mendapatkan pinjaman uang sebesar Rp 200 miliar dari Bank Jawa Barat. Dana itu, rencananya akan dibagi dua, Rp 100 miliar untuk pembangunan jalan d rusak dan sebagian lagi untuk pembangunan gedung SD yang rusak dam ambruk.

Menurut Kepala Dinas PU Bina Marga Kabupaten Tangerang, Hermansyah, pemerintah daerah telah menganggarkan dana Rp Rp 75 miliar untuk perbaikan dan pemeliharaan jalan. Anggaran ini akan diambil dari APBD 2005 sebesar Rp 60 miliar dan dalam ABT 2005 sebesar Rp 15 miliar.

Menurut dia, anggaran puluhan milliar tersebut, dibagi dalam 200 item proyek di Dinas PU. Jika dalam satu item proyek itu, memperbaiki sekitar 2 kilometer jalan, tahun ini sedikitnya akan dapat diperbaiki sekitar 420 km jalan rusak.

Saat ini, kerusakan jalan di Kabupaten Tangerang mencapai sekitar 720 km atau 80 persen dari 1.100 km total panjang jalan di Kabupaten Tangerang. (132)


Last modified: 15/4/05