SUARA PEMBARUAN DAILY

Gunung Talang, antara Keindahan dan Petaka

SUMATERA Barat (Sumbar) dikenal menyimpan sejuta keunikan. Bukan hanya memiliki beragam suku dan budaya, namun juga berbagai macam keindahan dan panorama alam yang menawan. Namun, di balik keindahan alam itu, tersimpan sebuah kekuatan alam yang siap menghancurkan, kapan saja.

Selasa (12/4) lalu, Gunung Talang, gunung api aktif di Sumbar, meletus. Pemerintah daerah setempat mengungsikan sekitar 20 ribu warga sekitar kaki gunung.

Gunung Talang, disebut juga Gunung Salasi (Sulasih), memiliki dua kawah, yakni Danau Talang dan Danau Kecil. Gunung berketinggian 2.597 meter di atas permukaan air laut dan bertipe gunung api strato itu terletak di Kecamatan Kota Anau, Kabupaten Solok.

Bagi anak-anak muda Sumbar dan sekitarnya yang menyukai olahraga menantang, Gunung Talang adalah salah satu "lahan" bermain. Banyak yang telah menapaki hingga puncaknya.

Puncak Gunung Talang bisa dicapai dari jalur timur, yakni melalui Bukit Sileh, Batubarjanjang, Batu Rajo Awa, dan Batang (Bt, sungai, Red) Palangkakan, melalui percabangan jalan pintas dari jalan besar Alahan Panjang - Padang.

Untuk mencapai daerah fumarola, bisa ditempuh dari Batubarjanjang ke arah Gabuo Gadang dan Gabuo Belerang Tanah, yang memakan waktu dua-tiga jam.

Permukiman berkembang secara mencolok di dataran Lembah Solok yang memanjang sepanjang tenggara - barat laut, termasuk di Kota-madya Solok di sebelah utara Gunung Talang, serta di bagian lereng puncak sebelah utara dan selatan.

Sungai Besar

Melalui Lembah Solok itu, mengalir sungai besar yang dikenal sebagai Bt Sumani, yang bermuara di Danau Singkarak. Sungai itu gabungan dari beberapa sungai dan cabang-cabang lainnya, yang berhulu dari daerah puncak Gunung Talang. Di antaranya, Bt Muaragauang dan Bt Lembang.

Sebagian besar penduduk di daerah itu bermatapencarian sebagai petani, bersawah ataupun berkebun. Sebagian kecil lainnya berdagang, menjadi pegawai, buruh, serta tukang.

Permukiman penduduk terlihat padat hingga ketinggian 1.200 -1.300 meter di atas permukaan air laut. Di situ terletak Desa Kubang Kaik, Bale Ateh, dan Batubarjanjang, yang masuk wilayah Kecamatan Bukit Sileh, dan Desa Nagari Bukit Sileh, Limau Lunggo, dan Kampung Batu, yang masuk wilayah Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok.

Pada daerah yang lebih rendah, permukiman padat terletak di Lembah Solok, yang merupakan daerah aliran sungai yang berhulu dari Gunung Talang. Sebagian masuk wilayah Kecamatan Lembang Jaya, yang terdiri atas Nagari Koto Anau, Batubanyak, Koto Lawas, Kampung Batu dan Simpang Tanjung Nan Ampek, sebagian lagi masuk wilayah Kecamatan Gunung Talang, Kecamatan Bukit Sundi, Kubung, dan Singkarang. Daerah tersebut relatif dekat dan rawan bencana bila ada peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Talang, baik langsung atau tak langsung (muntahan lahar).

Kawasan Gunung Talang memang terkenal keindahan panoramanya.

Lihat GUNUNG..., hal 9

Mata air panas di kaki gunung, yakni di daerah Bt Kili, Batubarjanjang, Buah Batung dan Sapan, sejak lama dikenal sebagai tujuan wisata. Di kawasan itu, terdapat dua danau, yaitu Danau Talang di ketinggian 1.674 meter di atas permukaan air laut dan Danau Kecil di ketinggian 1.707 meter.

Tiang Asap

Dari berbagai data yang berhasil dikumpulkan, disebutkan gempa bumi pernah terjadi di kawasan Gunung Talang pada Oktober 1833. Ketika itu, seorang ahli bernama Korthals melihat suatu letusan, berupa tiang asap tebal dan batu membara yang disemburkan dari kawah gunung. Letusan berikut terjadi pada 21 Oktober 1843.

Pada 1845, seorang ahli bernama Stumpe menggambarkan tiang asap raksasa berwarna hitam, tepatnya pada 22 April, yang membuat masyarakat panik. Letusan terjadi juga dari kawah parasit.

Pada 1883, Verbeek menyebut-nyebut adanya dua buah rekahan dengan jurus timur laut-barat daya. Rekahan sebelah selatan terlihat aktif.

Peningkatan aktivitas terjadi lagi pada 1963. Pada 1967, terekam peningkatan kegiatan tembusan fumarola pada sebuah celah sepanjang sekitar 800 m selebar 10 m hingga 50 m dengan arah timur laut.

Kegiatan utamanya terjadi pada tujuh lubang utama, sekitar 200 m di bawah puncak. Pada 23 Maret 1981, terdengar suara gemuruh dan asap tebal serta bau belerang kuat, yang sebelumnya didahului adanya gempa. Para pakar gunung api kemudian menyimpulkan, letusan yang terjadi di Gunung Talang bersifat eksplosif dengan periode letusan tidak jelas.

Pada abad ke-19, masih terjadi letusan. Namun, pada abad ke-20, tidak ada letusan besar yang berarti. Yang terjadi hanya beberapa kali kenaikan kegempaan yang disertai adanya embusan asap yang berbau belerang kuat di sekitar kawah, seperti juga pada Selasa (12/4) kemarin.

Gunung Talang berstruktur kembar. Puncaknya tidak mengandung kawah. Tempat terjadinya letusan dan tembusan fumarola merupakan sebuah lembah sepanjang sekitar 300 m dan selebar 30 meter - 90 meter, pada garis ketinggian 2.360 meter di atas permukaan laut hingga 2.460 meter.

Pembaruan/BoySurya Hamta


Last modified: 14/4/05