JAKARTA - Pemerintah menerbitkan surat utang negara dalam valuta asing (global bond) INDO-15. Surat utang itu diterbitkan dalam mata uang dolar AS, senilai US$ 1 miliar, dengan imbal hasil (yield) sebesar 7,375 persen, berjangka waktu 10 tahun dan jatuh tempo pada April 2015.
Obligasi internasional ini merupakan kesepakatan pertama sejak Perdagangan Obligasi Global di Pasar Primer pada Maret 2005. Keputusan untuk menerbitkan obligasi internasional ini ditetapkan pemerintah pada pukul 23.00 WIB, Rabu (13/4).
Demikian penjelasan Menteri Keuangan (Menkeu) Jusuf Anwar di Departemen Keuangan, Jakarta, Kamis (14/4).
''Sekarang pasar sudah tenang, treasury rate (suku bunga surat utang) sudah mulai turun sedikit. Obligasi kita sudah menghimpun lebih dari 200 investor institusi dengan kualitas yang bagus,'' ujar Menkeu.
Investor
Ia mengatakan, lebih dari 200 investor institusi berpartisipasi dengan permintaan sebesar US$ 2,2 miliar. Itu berarti, obligasi internasional yang ditawarkan pemerintah mengalami kelebihan permintaan. Obligasi internasional ini sebelumnya sempat ditunda penerbitannya oleh pemerintah karena kondisi pasar yang melesu pada Maret 2005.
Menkeu mengatakan, ketika pihak lain membatalkan penjajakan pasar (road show), Pemerintah Indonesia memutuskan untuk melakukannya Akibatnya, banyak manfaat yang diperoleh Indonesia, yakni memperoleh perhatian besar dari investor.
Penjajakan pasar itu dilakukan oleh mitra pemerintah yang telah ditunjuk sebagai manajer emisi utama, yakni Citigroup, Deutsche Bank, dan UBS Investment Bank. Sementara pencatatan harga dilakukan di New York.
''Waktu sekarang ini sangat tepat, US treasury (surat utang Pemerintah AS) sedang menurun, suplai masih terbatas. Minggu depan pemerintah Amerika Serikat akan mengumumkan data inflasi, serta kecenderungan harga minyak menurun dalam dua hari terakhir,'' ujarnya.
Surat utang INDO-15 dinilai lebih baik dari surat utang sejenis yang diterbitkan negara berkembang lainnya.
Sebagai perbandingan Peru 2015 memperoleh rating BB-, Venezuela 2014 (BB), Kolombia 2014 (B), Brasil 2014 (BB-), Filipina 2015 (BB-), dan Indonesia 2015 (B+).
Menkeu juga mengatakan bila pembiayaan pemerintah sudah mencukupi, target penerbitan obligasi pada 2005 ini sebesar Rp 43 triliun bisa lebih rendah dari target tersebut.
Saat ini, surat utang negara yang sudah diterbitkan oleh pemerintah sebesar Rp 8 triliun ditambah dengan global bond Rp 9 triliun (asumsi kurs Rp 9.000 per dolar AS), sehingga totalnya Rp 17 triliun.
Dengan demikian, secara keseluruhan surat utang negara yang masih tersisa sepanjang 2005 sebesar Rp 25 triliun, bila memperhitungkan target penerbitan SUN sebesar Rp 43 triliun.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Subdirektorat Manajemen Portofolio dan Risiko Dirjen Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan, pemerintah pada 26 April ini kembali akan menerbitkan surat utang. Namun belum diketahui apakah surat utang yang diterbitkan pemerintah berbentuk SUN ataukah Surat Perbendaharaan Negara (SPN).
Rencananya pada April ini pemerintah akan menerbitkan SPN sebesar Rp 2 triliun dan SUN sebesar Rp 2 triliun. Pemerintah sempat menunda penerbitan SUN pada Maret 2005 dengan alasan pasar pada saat itu juga lesu.
Rahmat mengatakan, seminggu sebelum penerbitan akan diumumkan jenis dan jumlah yang akan diterbitkan apakah SPN atau SUN. Namun, yang jelas, bila pada akhir Desember 2005 nanti pemerintah memandang cukup untuk penerimaan dari SUN, mungkin penerbitan SUN di bawah Rp 43 triliun. (L-10)