
Pembaruan/Adi Marsiela
TERUS DIPANTAU - Seorang petugas Taman Wisata Alam Gunung Tangkubanperahu terus melaporkan pantauannya dari Kawah Ratu, Kamis (14/4) pagi. Laporan itu akan dipadukan dengan laporan seismograf untuk memantau aktivitas gunung yang sudah dalam kondisi siaga.
BANDUNG - Tim Direktorat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Kamis (14/4) sekitar pukul 08.00, memasang alat baru di Gunung Tangkubanperahu untuk ''merekam'' aktivitas dari dalam gunung itu yang menyebabkan perubahan fisik secara vertikal.
Sementara itu, puluhan pedagang di sekitar kawasan wisata tersebut sudah mulai mengemasi barang dagangannya setelah pemerintah daerah setempat menyatakan lokasi itu tertutup untuk sementara berkaitan dengan meningkatnya aktivitas Gunung Tangkuban Perahu. Status gunung ini ditingkatkan menjadi siaga atau level III dari empat level sebelum erupsi (meletus).
Uar (50), pedagang baju yang biasa berjualan di sekitar tempat parkir utama atau berdekatan dengan Kawah Ratu Gunung Tangkubanperahu, mengatakan, dia beserta istrinya membereskan barang dagangan untuk dibawa kembali ke rumahnya di Desa Cikole.
"Takut juga kalau dagangan ditinggal di sini selama kawasan Tangkubanperahu ditutup. Mudah-mudahan saja (penutupan) ini tidak berlangsung lama, jadi kami bisa mendapatkan penghasilan lagi,'' katanya.
Kasubdit Pengawasan Gunung Api Wilayah Timur, Syamsul Rizal, yang berada di Pos Pengamatan Gunung Api Tangkubanperahu mengatakan hingga Kamis (14/4), status Gunung Tangkubanperahu masih Siaga.
Tanda-tanda
"Malam tadi sekitar pukul 00.37 WIB sudah mulai ada tanda-tanda letupan di sekitar kawah sebagai tanda adanya gempa embusan. Dibanding kemarin, memang jumlah gempanya berkurang,'' katanya kepada Pembaruan, Kamis pagi.
Syamsul Rizal memaparkan gempa embusan ini lebih diakibatkan dari gas di dalam gunung dan menekan ke atas untuk keluar. "Akibat tekanannya maka tercatat getaran. Saya kira sekarang sudah ada letupan-letupan kecil di kawah. Yang belum kita ketahui dari gas ini adalah jenisnya. Maka untuk mengantisipasinya, kami meminta agar kawasan Gunung Tangkubanperahu ini ditutup untuk sementara," sambungnya.
Dikemukakan, warga tidak perlu panik dengan meningkatnya aktivitas Tangkubanperahu. Pasalnya, gunung ini mempunyai kawah yang terbuka.
"Kalau berandai-andai bisa saya katakan letusannya mungkin freatik (mengeluarkan gas-Red) dan itu daerahnya hanya sekitar 500 meter dari kawah.
Kita berharap agar matahari bersinar terus dan menyebabkan konsentrasi gas CO2 yang mungkin keluar dari kawah bisa terurai bersama dengan sinar ultraviolet," jelasnya.
Anak Krakatau
Status Gunung Tangkubanperahu di Jawa Barat dan Anak Krakatau di Banten ditingkatkan setelah aktivitasnya meningkat. Pada Rabu (13/4) pagi, Direktorat Mitigasi dan Bencana Geologi menyatakan status kedua gunung ini meningkat dari level I (aktif normal) menjadi level II (waspada) dan cenderung meningkat ke level III (Siaga).
Kepala Sub Direktorat Mitigasi dan Bencana Geologi, Dr Ir Surono, mengatakan kepada wartawan di Bandung, Rabu, berdasarkan laporan, sejak 00.00 hingga 05.48, Rabu, aktivitas kegempaan vulkanik di Tangkubanperahu mencapai 100 kali sedang di Krakatau 32 kali.
Dalam kondisi aktif normal aktivitas kegempaan di Tangkubanperahu paling banyak 2-7 kejadian per hari. Tapi hari Rabu dalam waktu sekitar lima jam aktivitas-nya mencapai 100 kali. ''Ini kan sangat signifikan,'' ujarnya.
Berkaitan dengan kondisi ini, menurut Surono, pihaknya sudah merekomendasikan kepada pemerintah daerah setempat, yaitu Provinsi Jabar, Kabupaten Bandung, Kabupaten Subang dan Provinsi Banten untuk menutup sementara kawasan wisata Tangkubanperahu dan Krakatau.
Dikemukakan, memang saat ini gempanya masih belum terasa karena hanya berkisar 2 skala Richter.
''Tapi karakteristik kawah aktif itu berpotensi membahayakan karena bisa menyeburkan gas beracun seperti sulfur (S) dan karbonmonoksida (CO),'' katanya.
Dikatakan, bila aktivitas kedua gunung ini terus bertambah, statusnya bisa meningkat ke level III (Siaga), bahkan level IV (awas).
Gunung Talang
Aktivitas vulkanik Gunung Talang masih berlangsung. Bunyi gemuruh dan letusan kecil diikuti keluarnya debu vulkanik dari kepun-dan Gunung Talang masih terjadi.
Aktivitas vulkanik Gunung Berapi Semeru (3.676 m) sampai Kamis pagi masih meningkat. Menurut petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru di Gunung Sawur, peningkatan itu dari rata-rata 3-4 kali letusan menengah setiap jamnya menjadi 16-32.
Yang dikhawatirkan adalah ancaman lahar dingin akibat longsornya jutaan meter kubik material vulkanik dari di bibir kawah karena digerus hujan lebat di masa akhir musim hujan ini. (150/ADI/BO/070)