JAKARTA - Menyusul meningkat dan aktifnya sembilan gunung berapi yang ada di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berinisiatif bertemu para gubernur untuk menyampaikan mitigasi atau langkah-langkah penanganan preventifnya.
Gunung berapi yang meningkat aktivitasnya dan harus terus dipantau hingga enam bulan mendatang itu adalah Merapi (Sumatera, waspada), Talang (Sumatera, awas), Krakatau (Banten, waspada), Tangkubanperahu (Jawa Barat, siaga), Semeru (Jawa Timur, waspada), Egon (siaga), Karang Etang (siaga), Lakon (waspada), dan Dukono (waspada).
Menteri Energi Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengemukakan hal itu kepada wartawan di Kantor Presiden seusai pertemuan Rabu (13/4) malam. Purnomo didampingi Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Gunawan Ibrahim, Kabalitbang Departemen ESDM Wimpy S Tjetjep,dan Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral Departemen ESDM Simon F Sembiring.
Menurut Purnomo, dalam pertemuan yang juga dihadiri Wapres Jusuf Kalla, Menko Polhukam Widodo AS, Menko Kesra Alwi Shihab, dan sejumlah menteri terkait, Presiden Yudhoyono menginstruksikan pemantauan sembilan gunung berapi itu secara terus-menerus.
Selain itu, ditegaskan juga sejumlah prosedur tetap (protap) yang selama sudah ada. "Namun dalam kondisi dan keadaan darurat, birokrasi itu boleh ditabrak, jadi bisa langsung ke bupati atau gubernur," kata Purnomo.
Yang dimaksud boleh menabrak birokrasi, kata Purnomo, petugas di pos pemantauan gunung berapi bisa langsung kontak dengan bupati atau gubernur agar mitigasi seperti pengumuman akan adanya letusan, evakuasi, sampai pengungsian segera bisa dilakukan. Dalam pertemuan semalam, Pejabat Sementara Gubernur Sumatera Barat mempresentasikan mitigasi menyusul meletusnya Gunung Talang.
Dalam pertemuan itu, menurut Purnomo, juga dijelaskan tentang bencana alam geologi dan fenomena-fenomena geologi yang memang sangat kompleks.
Menurut Wimpy S Tjetjep, serangkaian gempa bumi yang disusul tsunami dan saat ini muncul letusan gunung berapi, mulai dari Aceh sampai Sumatera Barat, sebenarnya bukan suatu rentetan yang terkait langsung. "Jadi itu adalah tiga gempa yang terpisah, dan kalau di Nias Mentawai itu hampir setiap tahun terjadi gempa, besarannya saja yang berbeda," kata Tjetjep.
Bahkan di zona subduksi Sumatera (bagian bawah, Lampung dan sekitarnya), menurut Tjetjep selalu terjadi gempa. Namun ditegaskannya semua itu tidak terkait langsung dan diakuinya, tsunami dahsyat di Aceh menimbulkan trauma dan kemudian seolah-olah semua yang terjadi selama ini berkaitan.
Soal hubungan gempa bumi dan letusan gunung berapi, menurut Tjetjep, sebenarnya juga tidak langsung. "Memang bisa saja suatu gempa memicu kantong-kantong magma yang ada di dalam gunung berapi, tapi belum tentu, ini yang terus kami pantau," katanya.
Sementara BMG, menurut Gunawan, memang sudah memperkirakan adanya peningkatan aktivitas di pantai barat Sumatera.
Disebutkannya, sebagian besar wilayah Indonesia memang rawan gempa, kecuali Pulau Kalimantan. Saat ini terdapat 10 titik pemantauan yang dibuat BMG agar penanganan gempa bumi, termasuk kemungkinan disusul gelombang tsunami, segera dapat diketahui. Kesepuluh titik pemantauan BMG itu terdapat di Medan, Padang, Jakarta, Denpasar, Yogyakarta, Manado, Makassar, Ambon, Kupang dan Jayapura.
Tak Perlu Panik
Peningkatan aktivitas beberapa gunung berapi yang ada di Indonesia harus ditanggapi dengan bijaksana dan tidak perlu menimbulkan kepanikan serta kecemasan.
Menurut Deputi Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Perkembangan Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Prof Ir Lilik Hendrajaya MSc PhD, yang dihubungi Pembaruan, Kamis (14/4) pagi, masyarakat tidak perlu menanggapi peningkatan gunung berapi dengan kecemasan yang berlebihan.
Menurutnya masyarakat harus menanggapi dengan bijak yakni dengan waspada jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam. "Sehingga tidak perlu menyebarkan isu-isu yang justru membuat kepanikan di masyarakat," ujarnya. Pada saat ini banyak beredar isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya seputar ramalan bencana alam yang akan terjadi di beberapa kota besar di Indonesia.
Pergerakan lempeng yang menimbulkan tekanan-tekanan pada dapur magma akan menstimulasi tekanan pada saluran-saluran magma di gunung berapi. Seperti halnya yang terjadi di beberapa gunung yang aktivitasnya tiba-tiba meningkat.
"Seperti yang terjadi di Gunung Talang, namun beberapa gunung yang berada di Sumatera tidak memiliki cadangan magma yang cair sehingga saat tekanan yang datang dari bawah muncul, maka hal itu tidak akan mempengaruhi aktivitas gunung, tetap terlihat tidak terjadi apa-apa," ujarnya.
Berbeda dengan Tangkuban Perahu, menurutnya aktivitas gunung itu meningkat karena memang ada tekanan dari bawah dan masih memiliki cadangan magma. "Banyaknya asap yang keluar karena memang kawahnya terkena air sehingga berasap," ujarnya.
Sejak kemarin ada sembilan gunung berapi yang aktivitasnya meningkat, yaitu Gunung Merapi dengan status waspada, Gunung Talang (awas), Krakatau (waspada), Tangkubanperahu (siaga), Gunung Semeru (waspada), Egon (siaga), Karang Etang (siaga), Lakon (waspada), dan Dukono (waspada).
Gunung Tangkuban Perahu dan Anak Karatau mengalami peningkatan aktivitas vukanologinya. Gunung Tangkuban Perahu yang terletak di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang, Jawa Barat, ditingkatnya statusnya menjadi waspada pada Rabu (13/4) kemarin. (Y-3/K-11)