JAKARTA - Ketua Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menilai ada kekeliruan persepsi yang membuat seolah-olah dirinya melarang orang-orang tertentu maju sebagai calon ketua umum PKB dan merestui sebagian lainnya.
"Setiap kader PKB punya hak untuk maju, silakan saja, sama dengan agama di Indonesia, yang diakui ada lima, tapi di luar yang lima itu tidak dilarang, silakan saja," kata Gus Dur ketika hadir di peluncuran buku Pertanggungjawaban Publik Ali Masykur Musa, di Jakarta, Rabu (13/4).
Gu Dur juga menjelaskan, tiga nama yang memang disebutnya sebagai calon unggulan, yakni Ali Masykur Musa, Muhaimin Iskandar, dan Mohammad Mahfud MD, bukan berarti direstui lalu menutup peluang yang lain.
Yang menarik, selama membicarakan soal para calon ketua umum PKB, tak sekali pun Gus Dur menyebut nama Saifullah Yusuf. Gus Dur hanya menyebut, "yang lain" atau "calon-calon lain" atau "kader PKB".
Ketika ditanya wartawan tentang peluang Saifullah Yusuf, Gus Dur mengatakan, tidak ada upaya menghalang-halangi apalagi melarang.
"Yang saya tidak setuju adalah rangkap jabatan, jadi kalau mau mundur dari kabinet dan Ansor, silakan saja, PKB kan punya ketentuan yang harus ditaati," Gus Dur.
Soal ketua umum PKB, Gus Dur juga meminta semua menunggu muktamar karena forum muktamar yang menentukan. Tanpa menyebut mekanisme dan tata cara penentuan ketua umum PKB (ketua dewan tanfidziyah), Gus Dur menyebut peserta muktamar yang akan menentukan.
Pada kesempatan itu Gus Dur memuji langkah Ali Masykur Musa yang membuat dan menulis buku. "Itu artinya, sebagai anggota DPR, dia punya pandangan, terlepas pandangan itu salah atau benar. Yang penting tradisi berparlemen telah dia lakukan dan saya menyambut gembira," kata Gus Dur yang mengaku masih prihatin atas perkembangan DPR sampai saat ini. Karena yang terjadi adalah, parlemen baru ada dalam bentuk formalnya, belum sampai pada tradisi dan budaya berparlemen.
Ali Masykur Musa sendiri ketika ditanya soal kesiapannya maju sebagai calon ketua umum PKB, mengaku optimistis. Soal modal untuk maju, Ali Masykur menyebut program menjadikan PKB mengoptimalkan diri sebagai partai plural dan modern sebagai obsesinya.
Ali Masykur juga optimistis terhadap dukungan dari tiga unsur yang ada di PKB selama ini, yakni unsur kultur (Nahdlatul Ulama/ NU), struktur, dan unsur Gus Dur.
Unsur atau faktor Gus Dur dalam penentuan pemimpin di PKB, menurut Daniel Sparingga dan Mohammad Khudori yang tampil sebagai pembicara dalam peluncuran buku kemarin, memang masih dominan.
Atas anggapan itu Gus Dur ketika berpidato menyebut kesalahan persepsi termasuk juga ketika memposisikan dirinya sebagai penentu segalanya.
Menurut Gus Dur, yang lebih tepat adalah dirinya sebagai pemimpin yang mengambil keputusan. Soal dinamika demokrasinya, Gus Dur menyatakan bahwa itu merupakan suatu keharusan.
Pilkada
Di Mojekerto, ketika melakukan silaturahmi dengan Bupati Mojokerto Dr H Achmady, MSi, MM, Selasa (12/4) petang, Gus Dur, yang didampingi Dade Angga yang mantan Bupati Pasuruan dan akan maju lagi dalam bursa calon Bupati Malang, mengatakan, untuk menjadi calon bupati atau wali kota dari pintu PKB, yang bersangkutan harus memenuhi tiga syarat.
Calon itu harus jujur, disenangi rakyatnya, dan tidak ada masalah yang pelik. Karenanya, siapa pun tokoh di daerah yang berharap memperoleh rekomendasi dari DPP PKB, maka ketiga syarat itu harus dimiliki.
Pada bagian lain, Gus Dur mengakui bahwa ia harus terjun ke daerah-daerah guna menyerap aspirasi masyarakat dan mendeteksi secara dini atas kredibilitas calon bupati atau calon wali kota yang hendak dimintakan rekomendasi ke DPP PKB.
Karenanya, rekomendasi DPP PKB terkadang berbeda dengan usulan DPC karena terkait dengan tiga kriteria tersebut. (Y-3/070)