SUARA PEMBARUAN DAILY

Korban pun Dituduh Maling

PEMBARUAN/KURNIADI

TERBAKAR - Kaki Nursetyo melepuh seperti terbakar setelah terkena asap panas yang mengandung zat kimia dari limbah bijih besi yang dibuang sembarangan.

SENGAJA hari itu Nursetyo minta izin tidak masuk sekolah. Ia ditemani oleh Djuarno, orangtuanya dan beberapa tetangganya datang ke Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH). Padahal Nursetyo sudah lama tidak masuk sekolah karena ia harus dirawat di RSCM akibat luka bakar di kakinya yang terkena asap dari limbah pabrik bijih besi yang dibuang secara sembarangan.

Bekas-bekas luka bakar di kedua kaki Nursetyo masih terlihat hitam putih. Ia sendiri mengaku minder dengan bekas luka yang masih ada. "Teman-teman tidak ada yang mencela saya, tetapi saya risih dengan luka ini jadi harus saya tutupi dengan kaus kaki," ujarnya saat bertemu dengan Pembaruan di Kantor KLH, Jakarta, Rabu (13/4) pagi.

Nursetyo adalah anak pertama dari tiga anak pasangan Djuarno dan Nurjanah. Nursetyo sendiri sebenarnya baru tiga bulan ikut tinggal bersama orangtuanya di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat.

Sebelumnya, ia tinggal bersama nenek di kampung halamannya di Jawa Tengah. Bicaranya pun masih sedikit-sedikit menggunakan bahasa Jawa dengan dialek yang masih kental. Menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dan teman-temannya, Nursetyo pun terbata-bata dan sering kali dibantu oleh orangtuanya.

Saat itu, Rabu tanggal 15 Desember 2004, sehabis pulang sekolah, Nursetyo bersama teman-temannya bermain di lapangan sepak bola sekitar rumahnya. Di sekitar lapangan sepak bola tempatnya bermain memang digunakan sebagai lokasi pembuangan limbah dari pabrik peleburan besi PT Gunung Garuda Indonesia.

Saat tengah bermain dengan teman-temannya itu sebuah truk yang membawa limbah masuk ke areal lapangan. Beberapa warga yang biasanya mengambil sisa-sisa besi yang dibuang dari perusahaan itu pun kemudian berkerumun, begitu pula Nursteyo dan rekan-rekannya.

Namun ternyata tidak seperti biasanya, limbah yang dibuang adalah bijih besi yang masih panas mengandung zat kimia. Saat limbah itu dibuang dari truk ke tanah, tiba-tiba mengeluarkan asap.

Saat itu Nursetyo bersama teman-temannya tidak menyadari jika asapnya itu pun berbahaya. Nursetyo baru menyadari setelah teman-temannya berteriak untuk menyelamatkan diri dari asap yang mengepul.

Ketika akan berlari, ia baru menyadari kakinya yang terkena asap sudah melepuh seperti terbakar. "Awalnya tidak ada rasa sakit, tiba-tiba saja melepuh. Tetapi setelah mau lari rasanya perih sekali. Saya akhirnya jatuh tidak bisa lari. Baru kemudian semua teman-teman saya berteriak minta tolong," ujarnya.

Nasib Nursetyo masih lebih baik jika dibanding rekannya yang bernama Ibrahim (12). Jarak Ibrahim terlalu dekat dengan cairan limbah besi itu hingga akhirnya tubuhnya mengalami luka bakar yang lebih parah. Setelah tiga hari kemudian Ibrahim pun meninggal. Beberapa teman Nursetyo pun dilarikan ke rumah sakit. Nursetyo dilarikan ke RSCM dan di rawat selama 22 hari.

Dituduh Maling

Selama di rawat itulah Djuarno berusaha sekuat tenaga membiayai pengobatan anaknya. Jika mengandalkan gajinya sebagai keamanan kampung setempat tentu saja tidak akan bisa membayar biaya rumah sakit. Terpaksa ia pun harus berutang ke sana-sini untuk membayar biaya rumah sakit yang mencapai Rp 11 juta.

"Sampai sekarang saya masih berutang sama banyak orang. Padahal saat anak saya keluar dari rumah sakit dia belum sembuh benar. Sekarang lukanya pun sepertinya menimbulkan efek lain," ujarnya.

Djuarno mengaku pernah ditawari penggantian biaya rumah sakit oleh perusahaan itu, namun jumlah itu tidak sebesar biaya rumah sakit yang dikeluarkannya. "Pernah ditawari Rp 2 juta, tetapi saya menolak karena biaya rumah sakitnya lebih besar. Saya juga minta tolong kepada anggota DPRD Kabupaten Bekasi agar perusahaan membayar sesuai dengan bon rumah sakit, tetapi kemudian hanya disanggupi dibayar Rp 5 juta saja," ujarnya.

Hingga kini Djuarno masih meminta perusahaan membayar penuh pengeluaran yang dibutuhkan dalam perawatan anaknya, karena kalau hanya sebagian saja, ia mengaku tidak akan bisa membayar utang-utangnya.

Namun sikap Djuarno ini pun ternyata mengundang reaksi yang lain. Keluarganya mengaku tertekan dengan peristiwa ini. "Istri saya sudah ketakutan jika ada motor yang datang. Dia maunya pulang kembali ke kampung saja," ujarnya.

Puncaknya adalah ketika Djuarno diperlihatkan secarik kertas oleh seseorang yang datang ke rumahnya. Surat itu berupa laporan polisi yang menyatakan bahwa Nursetyo bersama dengan rekan-rekannya telah melakukan tindakan pencurian yang mengakibatkan kerugian sebesar Rp 20 juta.

"Saya tidak pernah mencuri apa-apa. Tapi saya takut kalau nanti ditangkap oleh polisi," ujar Nursetyo. Menurut Nursetyo dirinya bersama teman-temannya saat itu hanya sedang bermain saja.

Eko, pengurus Karang Taruna Bunga Bangsa RW 09, Desa Sukadanau, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, mengatakan kondisi ekonomi masyarakat sekitar memang tidak terlalu bagus.

Ada beberapa warga yang mendapatkan penghasilan dari mengumpulkan sisa besi pabrik yang dibuang untuk dijual kembali. "Masalahnya pun berputar pada kondisi ekonomi warga. Namun mereka juga punya hak untuk mendapatkan penggantian biaya rumah sakit," ujarnya.

Eko menyatakan bahwa warga membutuhkan perlindungan dari pemerintah karena sebagian besar warga tidak mengerti peraturan yang berlaku. "Kami mungkin tidak terlalu paham hukumnya, tetapi kami hanya ingin keadilan saja," ujarnya.

PEMBARUAN/KURNIADI


Last modified: 14/4/05