SUARA PEMBARUAN DAILY

WHO Pertanyakan Penularan Flu Burung pada Manusia di Indonesia

JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempertanyakan penularan flu burung (Avian influenza/AI) dari unggas ke manusia di Indonesia. Pasalnya, cukup banyak ayam yang mati karena flu burung tetapi sampai sekarang belum ada laporan bahwa penyakit tersebut tertular pada manusia.

Hal itu diutarakan Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Kesehatan Lingkungan dan Epidemiologi dr I Nyoman Kandun MPH kepada Pembaruan, Rabu (13/4) di Jakarta.

Menurut dia, kemungkinan penularan flu burung telah terjadi pada kelompok risiko tinggi, seperti peternak ayam. Tetapi bisa saja kasus tersebut belum ditemukan. Di samping itu, gejala flu burung yang tidak khas kemungkinan membuat orang menganggap penyakit tersebut sama dengan penyakit influenza.

Disebutkan, di beberapa negara yang mengalami wabah flu burung, juga terjadi penularan penyakit yang disebabkan virus influenza sub tipe A (H5N1) ke manusia. Misalnya pada tahun 1997 di Hong Kong, ada 18 orang yang tertular penyakit itu. Enam orang di antaranya meninggal. Negara lain yang mengalami penularan flu burung dari unggas ke manusia adalah Belanda (tahun 2003) sebanyak 83 kasus, seorang di antaranya meninggal. Di Vietnam (tahun 2004 sampai 11/3/2005) ada 51 kasus, 33 orang di antaranya meninggal. Di Thailand (tahun 2004 sampai 11/3/2005) terjadi 17 kasus dan 12 di antaranya meninggal.

"Tetapi sampai sekarang belum ada bukti penularan flu burung dari manusia ke manusia. Di Indonesia penularan flu burung pada unggas telah dinyatakan Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan Departemen Pertanian pada 25 Januari 2004," kata Nyoman.

Hasil Survei

Dijelaskan, pada tahun lalu Departemen Kesehatan telah melakukan survei (sero survey) flu burung pada manusia di Tabanan dan Karangasem (Bali), Tangerang, Bogor, Kendal, Blitar, Lampung Timur, Kulonprogo, Tanah Laut, dan Bengkulu Utara. Pada pemeriksaan itu dilakukan pemeriksaan serum darah dan cairan hidup (nasal swab) dan ternyata hasilnya negatif. Artinya, tidak ada penularan flu burung dari unggas ke manusia.

Tetapi untuk tahun 2005, kata Nyoman, Departemen Kesehatan belum melakukan survei. Penularan flu burung terjadi melalui kontak langsung atau tidak langsung sekret atau tinja unggas yang menderita flu burung. Kasus flu burung dibagi tiga kelompok. Terdiri dari kasus suspect/possible yang ditandai radang pernapasan akut dengan demam (suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celsius), tenggorokan terasa sakit atau pilek. Orang yang mengalami gejala itu paling tidak selama seminggu terakhir pernah berkunjung ke peternakan yang terjangkit wabah flu burung, melakukan kontak dengan penderita influenza subtipe H5N1 atau bekerja di laboratorium yang memeriksa spesimen orang atau hewan yang kemungkinan menderita flu burung.

Kemudian, kelompok probable dengan gejala, antara lain dalam waktu singkat menjadi pneumonia atau tes laboratorium mengarah pada positif A H5N1 atau tidak ada bukti penyebab penyakit lain. Sedangkan, kelompok konfirmasi (orang yang positif menderita flu burung) apabila didukung kultur virus influenza A H5N1 positif, pemeriksaan dengan metode polymerase chain reaction (PCR) positif dan peningkatan titer antibodi H5 sebesar empat kali.

"Untuk menghindari penularan ke manusia, kelompok risiko tinggi, seperti peternak harus menggunakan masker, sarung tangan. Mencuci tangan dengan desinfektan. Untuk pengobatan, bisa dilakukan dengan pemberian antiinfluenza oseltamivir dosis tunggal selama tujuh hari," tambah Nyoman. (N-4)


Last modified: 14/4/05