Beberapa lelaki terlihat bergerombol di depan Pos Kamling di Jalan Salemba I, Jakarta Pusat. Ada yang ngobrol sambil minum kopi, ada yang main gitar, ada juga yang nonton televisi.
Biasanya, Pos Kamling yang terletak berbatasan dengan Jalan Talang itu, hanya dijaga dua orang hansip. Tapi Kamis (14/4) dini hari, ada empat pemuda dan tiga lelaki setengah baya yang ikut nongkrong di Pos Kamling itu.
Awalnya, Pembaruan berpikir keempat pemuda dan tiga lelaki setengah baya itu, kebagian tugas ronda. Belakangan baru ketahuan, mereka sengaja nongkrong di Pos Kamling karena ingin nonton pertandingan sepak bola Liga Champion antara Juventus dan Liverpool, yang akan disiarkan salah satu stasiun televisi swasta, Kamis dini hari mulai pukul 01.45 WIB.
"Saya memang sudah janjian dengan teman-teman untuk nonton Liga Champion di sini. Soalnya kalau nonton di rumah enggak bisa ribut," kata Alif (22), yang ditemui Pembaruan, Kamis dini hari sekitar pukul 00.20 WIB.
Pernyataan Alif langsung dibenarkan tiga temannya, Iwan, Anto, dan Didi. Menurut mereka, setiap kali ada pertandingan sepak bola yang disiarkan larut malam atau dini hari, mereka pasti janjian nonton di Pos Kamling itu.
Alif lalu menceritakan, dia dan ketiga temannya memang suka nonton pertandingan sepak bola bersama-sama. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka sejak masih duduk di bangku SMP.
Kecintaan mereka pada olah raga sepak bola, membuat mereka hampir tidak pernah melewatkan kesempatan setiap ada siaran langsung pertandingan sepak bola. Apalagi kalau tim atau club jagoan mereka yang bertanding.
"Kalau di Liga Inggris, dari dulu kami pendukung setia The Reds (Liverpool, red). Kalau di Liga Italia, jagoan kami AC Milan," kata Iwan.
Menurut dia, biasanya mereka berempat nonton siaran langsung pertandingan sepak bola secara bergiliran di rumah salah satu diantara mereka. Tapi itu hanya berlaku untuk pertandingan bola yang siarannya masih di bawah jam 24.00 WIB. Kalau pertandingannya disiarkan malam atau dini hari, mereka lebih memilih nonton di Pos Kamling di Jalan Salemba I.
"Kita kan, enggak bisa diam kalau nonton bola. Setiap ada gol, pasti pada teriak. Jadi sering dimarahin sama orang rumah yang sudah pada tidur. Makanya, kami pilih nonton di sini. Bisa lebih bebas berekspresi," kata Didi sambil tertawa diikuti teman-temannya.
Anto yang awalnya diam, ikut berkomentar. Menurutnya, dia yang paling sering dimarahi karena mereka lebih sering nonton siaran langsung pertandingan sepak bola di rumahnya. Awalnya, orang rumah tidak ada yang protes. Tapi, karena mereka berempat sering kebablasan teriak-teriak, ibunya akhirnya melarang dia dan teman-temannya nonton di rumah.
"Makanya saya dan teman-teman mencari tempat nonton yang aman buat teriak-teriak. Alif yang ngasih tahu kalau di Pos Kamling ini, ada televisi dan hansipnya juga suka nonton bola. Jadi klop deh," kata Anto.
Kebiasaan mereka teriak-teriak saat nonton sepak bola, lanjutnya, merupakan ekspresi spontan yang tidak disadari. Begitu tim atau club jagoan mereka melakukan penyerangan, Anto dan teman-temannya spontan berteriak memberikan semangat bahkan sambil berdiri.
Itu sebabnya, mereka bisa mengerti kalau orang-orang di rumah jadi terganggu. Soalnya, teriakan mereka sering membuat ayah, ibu, atau kakak, dan adik mereka terbangun.
"Enggak enak juga sama mereka. Makanya kami rela nonton di Pos Kamling daripada mengganggu tidur orang di rumah. Lagipula di sini kami ramai dan kami bisa teriak sepuasnya," kata Alif.
Tak terasa, hampir satu jam kami ngobrol. Alif dan ketiga temannya mulai terlihat mengambil posisi untuk bersiap-siap menonton pertandingan perempat final Liga Champion antara Juventus melawan Liverpool. Melihat hal itu, saya akhirnya pamit. Bukan karena takut terganggu dengan teriakan mereka. Tapi justru saya yang takut mengganggu keasyikan mereka menonton pertandingan sepak bola. (J-9)