SUARA PEMBARUAN DAILY

Pengerukan Dinilai Mubazir

Muara Cituis Dangkal Kembali

Pembaruan/Dewi Gustiana

DANGKAL - Baru dua bulan dikeruk, muara Kali Cituis di perkampungan nelayan Desa Suryabahari, Kecamatan Pakuhaji, Tangerang, kembali dangkal. Pengerukan dengan dana sekitar Rp 1,7 miliar hanya bertahan selama dua bulan.

TANGERANG - Muara Kali Cituis di perkampungan nelayan Desa Suryabahari, Kecamatan Pakuhaji, Tangerang, kembali dangkal. Pengerukan yang dilakukan belum lama ini dengan dana sekitar Rp 1,7 miliar dinilai mubazir karena lumpur kembali masuk ke dalam muara.

Pada saat air surut, nelayan tidak bisa melalui kali ini sehingga kapal nelayan harus ditarik bahkan harus 'berlabuh' di muara. "Ini namanya bukan pengerukan, tetapi penyedotan karena lumpur masih memenuhi muara kali," ujar Raden Sobali tokoh masyarakat Cituis sambil menunjukkan tumpukan lumpur kepada Pembaruan yang mengunjungi muara Cituis awal pekan ini.

Pemantauan Pembaruan, untuk melalui muara kali, puluhan kapal nelayan terlihat sangat hati-hati. Mereka khawatir, lunas kapal akan mengenai lumpur dan membuat kipas mesin kapal menjadi rusak.

Di sekitar kanan kiri muara kali sudah dibangun semacam tanggul dengan panjang sekitar 100 meter menjorok ke arah laut. Namun di antara tanggul terlihat lumpur menyembul di beberapa tempat.

Tanggul yang terbuat dari bahan material berupa batu kali besar merupakan proyek dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tangerang berupa proyek Peningkatan Sarana dan Prasarana Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Cituis dengan pelaksana proyek PT Hadi Jaya Utama Group.

Dua Bulan

Manfaat proyek ini seperti disebut dalam plang yang terpampang guna memperlancar alur perahu dengan biaya sebesar Rp 1.725.682.000 dengan masa pengerjaan selama 75 hari.

Namun, baru dua bulan dari penyelesaian proyek, muara Cituis kembali dangkal. Menurut Raden Sobali hal ini dikarenakan, kanan kiri pantai di skeitar muara tidak dibuat tanggul sejajar.

Sementara pelaksana membuang lumpur yang disedot juga tidak jauh dari muara. Padahal pinggiran laut di Cituis itu sebagian besar sudah terkena abrasi sehingga saat ombak besar datang, lumpur yang dibuang dekat muara itu kembali terbawa arus dan masuk lagi ke muara.

"Ini apa bukan namanya mubazir. Uang negara bermiliar-miliar tidak banyak manfaatnya buat nelayan di sini," tegas Raden Sobali.

Sobali justru berharap pemerintah membangun tanggul pencegah abrasi. Karena jika tidak ada tanggul bukan tidak mungkin saat pasang atau badai, pemukiman nelayan akan ikut hanyut.

"Hujan badai seperti akhir-akhir ini membuat banyak nelayan khawatir akan keselamatan keluarganya," ungkap Sobali. (132)


Last modified: 14/4/05