SUARA PEMBARUAN DAILY

Virus Mematikan Itu Mewabah di Angola

SEJUMLAH ahli medis saat ini sedang melakukan penelitian terhadap serangan wabah virus Marburg di Angola. Virus mematikan ini sudah menelan korban 194 jiwa. Menurut mereka, dibutuhkan sekitar dua minggu untuk menentukan apakah penyakit itu mampu dimusnahkan sebelum menjadi krisis penyakit yang berkepanjangan.

Para pakar kesehatan tersebut juga merekrut sejumlah tokoh yang dituakan dari suku-suku di Angola dan sebuah kelompok musik untuk membantu mendidik warga desa yang menyembunyikan anggota keluarga yang terinfeksi dan menyerang tim bantuan yang dikirim untuk mengecek penyebaran virus mematikan itu.

Badan Kesehatan Dunia WHO telah mengirimkan 50 pakar kesehatan ke Angola guna membantu pemerintah setempat menangani penyebaran virus itu. Saat ini, PBB masih menambah jumlah spesialis kesehatan untuk membantu tim yang sudah ada.

Kelompok bantuan kesehatan Doctors Without Borders juga telah hadir di lokasi wabah. Sementara Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Amerika telah mengirimkan sejumlah pakar kesehatannya ke Uige.

Serangan wabah virus Marburg saat ini merupakan serangan yang terbesar. Sampai saat ini, virus tersebut sudah menjangkiti sekitar 214 warga. Juru Bicara WHO Maria Cheng mengatakan, fokus yang dilakukan WHO adalah mendeteksi awal infeksi, mengisolasi warga yang terinfeksi, dan melakukan pelatihan di rumah sakit-rumah sakit yang bertujuan menanggulangi penyebaran penyakit dan memindahkan jenazah yang dapat menyebarkan penyakit. Diduga virus tersebut bisa menular dengan cepat melalui media mayat.

Selain itu, WHO meminta negara-negara tetangga Angola untuk melakukan upaya pencegahan lantaran sejumlah wilayah yang terinfeksi virus tersebut berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga.

"Dua minggu mendatang adalah masa krusial," ungkap pakar kesehatan dari WHO, Dr Mike Ryan.

Sementara itu, para peneliti dari US Army Medical Research Institute of Infectious Diseases sedang melakukan investigasi, kemungkinan obat yang mampu memperlihatkan efek pembasmi virus Ebola dapat juga digunakan untuk membasmi virus Marburg.

Pada suatu penelitian tahun 2003, obat tersebut menyembuhkan penyakit Ebola pada satu dari tiga monyet yang menjalani uji coba.

Ryan menjelaskan, para peneliti Amerika menerima beberapa sampel dari wabah virus Marburg dan sedang menyelidiki apakah obat tersebut bisa juga menjadi penawar virus pada monyet-monyet yang terinfeksi Marburg.

Ia mengakui, kendati obat tersebut tampaknya bekerja baik di tubuh monyet, masih dibutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum bisa diujicobakan ke manusia.

"Ada beberapa isu etika yang begitu kompleks. Ini merupakan obat yang belum berlisensi dan tim etik akan melakukan penelitian secara sangat hati-hati," kata Ryan. "Mungkin ada pengecualian untuk digunakan pada sebuah kasus yang menyedihkan, namun kita tidak bisa begitu saja memberikan obat itu kepada warga yang terinfeksi."

Di Angola, ketakutan akan virus itu makin meluas. Koordinator Doctors Without Borders, Monica de Castellarnau, mengatakan, kepanikan membuat orang kemudian menyembunyikan anggota keluarga yang terinfeksi. Mereka khawatir jika diserahkan ke unit isolasi, mereka tidak dapat melihat anggota keluarganya lagi.

"Hal tersebut dapat dimengerti," kata Castellarnau ketika diwawancarai per telepon dari Uige. "Warga tidak mengerti tentang penyakit tersebut dan tugas kita yang memberikan perawatan."

"Seluruh anggota keluarga meninggal akibat virus itu. Dan, peristiwa tersebut menimbulkan trauma bagi warga," tambahnya.

Penyakit Marburg yang ditandai dengan demam yang sampai mengeluarkan darah sangat jarang, namun sangat berpotensi merenggut nyawa. Penyakit ini ditularkan melalui virus yang masih satu keluarga dengan virus yang menyebabkan penyakit Ebola. Penyakit ini menyebar karena adanya kontak cairan tubuh dan dapat membunuh secera cepat. Biasanya, sekitar sembilan hari setelah gejala pertama.

Deputi Menteri Kesehatan Angola, Jose Van Dunem mengatakan bahwa angka kematian meningkat hingga 203. Hampir semua kematian terjadi di wilayah Uige, tempat virus ini mulai mewabah enam bulan lalu.

Di Geneva, WHO mencatat angka kematian akibat virus ini mencapai angka 194. Ada semacam keterlambatan antara suatu negara yang terjangkit penyakit tersebut dan laporan ke WHO.

Juru Bicara WHO di Luanda, Jose Caetano, mengatakan, beberapa warga di Uige mendesak dilakukan upacara ritual pemakaman, termasuk menyentuh jenazah.

Beberapa warga melempari batu kepada sebuah tim kesehatan WHO, pekan lalu. Pasalnya, tim tersebut ingin menempatkan jenazah di dalam kantung plastik dan membawanya ke tempat yang jauh untuk dikuburkan. Para pekerja kesehatan dari Doctors Without Borders juga diserang warga lokal yang menuduh tim itu membawa virus dan bertanggung jawab atas penyebaran virus tersebut.

"Terdapat banyak resistensi yang berasal dari kondisi kultural," ujar Caetano.

Sejumlah petugas kesekatan merekrut para para pejabat dari Gereja Katolik Roma, tokoh masyarakat, dan kelompok musik Uige, yang menuliskan lagu untuk diputar dan disiarkan melalui siaran radio setempat. Hal tersebut dimaksudkan untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang penyakit itu dan mengajak warga untuk bekerja sama dengan tim kesehatan asing.

"Uige harus tertutup," kata penjual ikan di pasar Sao Paulo Luanda, Fatima Rodrigues. "Warga di sana seharusnya tidak diizinkan keluar wilayah." (AP/W-12)


Last modified: 14/4/05