
AP/Elizabeth Dalziel
PROTES JEPANG - Seorang perempuan melintas di depan sebuah kantor perusahaan Jepang yang pecah kaca jendelanya dilempari demonstran anti-Jepang di Beijing, Rabu (13/4). Gelombang unjuk rasa warga Cina terus berlangsung memprotes keluarnya buku sejarah resmi Jepang yang tidak mencantumkan tindak kekerasan tentara Jepang.
BEIJING - Pemerintah Cina, Kamis (14/4), mengkritik keputusan Jepang yang mengizinkan pengeboran gas bumi di kawasan Laut Cina Timur yang masih disengketakan. Cina menyebut keputusan Jepang merupakan provokasi serius yang akan ditanggapi dengan reaksi lebih jauh.
Masalah baru ini menambah ketegangan antara Cina dan Jepang, yang pada pekan terakhir ini menghangat disebabkan oleh masalah buku sejarah dan keinginan Jepang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB.
Perdana Menteri Junichiro Koizumi menyangkal keputusan mengizinkan pengeboran itu berkaitan dengan persengketaan Tokyo dan Beijing soal perilaku Jepang pada Perang Dunia II.
Jepang menyebut pengeboran gas dilakukan di wilayah timur yang masih masuk wilayahnya yang berbatasan dengan Cina.
Pertikaian ini mencerminkan permusuhan antara Jepang dan Cina berkaitan erat dengan perebutan dominasi regional dan sumber-sumber energi potensial untuk kepentingan perekonomian mereka.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri Cina, Qin Gang, yang dikutip kantor berita Xinhua menyebut keputusan itu merupakan provokasi serius terhadap hak-hak Cina dan melanggar norma-norma hubungan internasional.
Qin mengatakan, Jepang bersikap tuli terhadap hak-hak Cina. Untuk itu, Cina akan melakukan reaksi lebih jauh.
Dua hari lalu, PM Cina Wen Jiabao menegaskan, Jepang perlu menghadapi kenyataan dalam sejarahnya. Karena itu, kalau kebenaran sejarah belum diungkap, jalan Jepang ke kursi PBB akan dihalangi.
Rabu kemarin, diplomat Jepang bertemu dengan petinggi-petinggi Cina untuk mendiskusikan soal eksplorasi gas, sejarah, dan rencana kunjungan Menlu Jepang ke Beijing.
Pekan lalu, pemrotes melempari batu dan memecahkan jendela Kedubes Jepang di Beijing sambil meneriakkan penentangan atas buku sejarah Jepang yang dianggap mendistorsi sejarah.
Korea Selatan yang pernah diduduki Jepang juga mengecam peluncuran buku sejarah itu.
Para pengamat menilai, kondisi ini merupakan situasi terburuk dalam tiga dekade hubungan Cina-Jepang.
"Mereka tidak pernah sampai ambruk seperti ini sejak hubungan diplomatik terbina tahun 1972," pendapat Tokuji Kasahara, pengamat hubungan Cina-Jepang di Universitas Tsuru, Tokyo.
Ketegangan kerap kali diperburuk dengan kunjungan Koizumi ke Kuil Yasukuni, Tokyo dan upaya Jepang mendapat keanggotaan tetap di DK-PBB. Korea Utara, sekutu Cina, memperkuat kecaman atas buku baru Jepang. (AP/Y-2)