SUARA PEMBARUAN DAILY

2005, Cadangan Devisa Diperkirakan Tambah US$ 7 Miliar

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan cadangan devisa tahun 2005 akan bertambah sekitar US$ 7 miliar. Hal itu didasarkan pada asumsi masih surplusnya neraca pembayaran (current account) sekitar US$ 3 miliar dan arus modal yang semakin bertambah menjadi US$ 4 miliar. Dari perkiraan tambahan cadangan devisa itu, sekitar US$ 4 miliar akan masuk pencatatan di BI, sedangkan sisanya mungkin ditempatkan di bank swasta asing atau bank di luar negeri.

Direktur Direktorat Perencanaan Strategis dan Humas BI, Halim Alamsyah, di Jakarta, Rabu (13/4), mengatakan, dengan tambahan yang masuk ke BI US$ 4 mi- liar, cadangan devisa akan meningkat tinggi dari US$ 36 miliar tahun 2004, menjadi US$ 40,5 miliar pada akhir 2005.

Dengan kondisi tersebut, BI tidak khawatir dengan kenaikan harga minyak dunia sekalipun rata-rata sudah mencapai US$ 50 per barel. Sebab, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$ 1 per barel akan dapat meningkatkan cadangan devisa sebesar US$ 130 Juta.

Halim menjelaskan, yang mengalami defisit sekitar US$ 2 miliar per tahun hanya neraca minyak. Sedangkan neraca nonmigas masih surplus US$ 9,8 miliar. Sehingga, secara keseluruhan, neraca transaksi berjalan (Balance of Payment/BOP) atau gabungan migas dan nonmigas, termasuk jasa-jasa, tahun 2003 mengalami surplus US$ 8,1 miliar, kemudian turun US$ 3,2 tahun 2004, dan turun menjadi sekitar US$ 3 miliar tahun ini.

Penurunan tersebut disebabkan oleh harga minyak yang naik, yang menyebabkan impor minyak mahal, sehingga mengurangi neraca pembayaran. Sementara impor nonmigas baik dari nilai maupun volumenya cukup tinggi. Pada tahun 2003 tercatat US$ 31,7 miliar, kemudian naik menjadi US$ 39,5 miliar tahun 2004 dan tahun ini diperkirakan mencapai US$ 46,1 miliar.

Hal itu diakibatkan kegiatan ekonomi yang meningkat sehingga butuh impor bahan baku yang lebih banyak. Demikian halnya dengan kegiatan investasi tahun 2004 meningkat, sehingga memerlukan barang modal. Kondisi itu akan berulang tahun ini, sehingga impor bahan baku dan barang modal meningkat.

''Dari berbagai skenario dan kondisi yang dihitung oleh BI, meskipun impor tinggi dan defisit di neraca minyak, tetapi neraca migas masih surplus US$ 9,8 miliar. Hal itu diperkuat dengan arus lalu lintas modal yang nilai positifnya semakin besar. Pada 2003 masih tercatat minus US$ 1 miliar, tahun 2004 menjadi positif US$ 2,5 miliar atau yang pertama kali positif sejak krisis dan tahun ini diperkirakan akan naik menjadi US$ 4 miliar,'' kata Halim. (B-15)


Last modified: 14/4/05