EBUAH tragedi selalu tersaji setiap hari. Mobil-mobil yang bergerak dari kota-kota seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang merayap tertatih-tatih, bukan karena malas berjalan, tetapi karena kondisi jalan yang sangat buruk. Sepanjang jalan penuh lubang. Para sopir harus hati-hati menghindari lubang-lubang tersebut. Itulah akrobat yang terpapar setiap hari.
Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang bukanlah kota yang berada nun jauh di hutan sana. Kota-kota itu berbatasan langsung dengan Jakarta, ibu kota negara. Begitu kita berangkat dari atau masuk Jakarta, jalan-jalan terasa mulus. Namun, begitu sampai di batas kota, kita akan masuk jalan-jalan berlubang. Air tergenang di mana-mana.
Rakyat sebenarnya sudah kesal dengan kondisi jalan macam itu. Sudah berkali-kali mereka melaporkan kondisi jalan, sudah berkali-kali pula mereka harus pulang tangan kosong. Suara mereka lenyap begitu saja. Pemda tak pernah tanggap. Buktinya, jalan-jalan itu bukannya tambah baik, tetapi tambah parah saja.
Saking kesalnya, masyarakat di Bekasi menanam pohon pisang di tengah jalan. Bukannya mereka tak tahu itu jalan raya, tetapi rupa jalan itu sudah mirip kebun saja yang pantasnya ditanami dengan pohon pisang. Ini cara khas protes masyarakat yang sudah tidak tahu harus mengadu ke mana lagi. Toh, protes masyarakat itu kurang ditanggapi.
PENDUDUK di kota-kota penyangga Jakarta tampaknya perlu bersabar. Masalahnya, pemerintahan daerah atau pemerintahan kota pasti sedang sibuk mempersiapkan pemilihan bupati atau wali kota baru mulai Juni mendatang. Mana sempat memikirkan jalan rusak? Yang terpikir adalah bagaimana memenangi pemilihan kepala daerah atau mempertahankan kursi yang sekarang sedang diduduki. Maka, lagi-lagi masyarakat dimintai pengertiannya, harus bersabar sampai kepala daerah atau wali kota baru terpilih. Jadi, rakyat akan menikmati jalan buruk itu masih beberapa bulan lagi. Belum tentu dimulai Juni setelah terpilih sebagai kepala daerah. Pasti sibuk syukuran terlebih dahulu karena terpilih menjadi kepala daerah.
Kita mengetahui ada banyak jenis jalan, jalan kabupaten, jalan provinsi, sampai jalan negara. Masyarakat pengguna jalan sebenarnya tak peduli dengan kelas jalan itu. Bagi mereka, yang penting jalan mulus sehingga pantas untuk dilewati. Di sisi lain, pengguna jalan juga pantas dikritik karena makin tidak tahu aturan. Ada jalan tertentu hanya boleh dilalui oleh kendaraan penumpang. Namun dalam praktiknya, jalan yang sempit pun diterjang truk atau bus. Tak heran, jalan cepat rusak. Wajah kita di jalan sungguh buruk jadinya.
KITA menyadari, jalan adalah urat nadi perekonomian. Karenanya, begitu jalan-jalan mulai berlubang, lubang itu mestinya langsung ditutup. Bukankah dana perawatannya mestinya ada? Biasanya kita baru memperbaiki jalan kalau proyek turun. Belum lagi, drainase yang sering juga diabaikan. Begitu hujan datang, air langsung menghantam tubuh jalan. Jelas, jalan akan mudah rusak. Aspal akan tekelupas disapu hujan. Tragisnya, jalan yang berlubang itu dibiarkan begitu saja selama berbulan-bulan seperti yang terjadi sekarang.
Kita hanya pandai omong bahwa jalan adalah urat nadi perekonomian penting dalam kehidupan masyarakat. Buktinya? Bagaimana bisa sesuatu yang kita anggap penting justru kita abaikan. Sungguh sebuah tragedi ketika masyarakat menanam pohon pisang di tengah jalan yang rusak itu.