DENPASAR - Mundurnya Arifin Panigoro, motor Gerakan Pembaruan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), dan Sophan Sophiaan dari pencalonan Ketua Umum PDI-P disambut positif pendukung Megawati Soekarnoputri.
Sementara itu, tokoh Gerakan Pembaruan PDI-P lainnya, Guruh Sukarno Putra, mengatakan akan terus maju bersaing dengan Megawati, kakak kandungnya, di kongres PDI-P yang dibuka Senin (28/3) siang ini.
Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDI-P) DPR, Tjahjo Kumolo, yang ditemui Pembaruan sesaat sebelum pembukaan Kongres II PDI-P di Inna Grand Beach Hotel, Sanur, Bali, Senin, mengatakan, langkah Arifin mundur dari bursa pencalonan tidak mengejutkan. Pasalnya, kata Tjahjo, jauh hari sebelumnya Arifin sudah mengatakan, apabila daerah-daerah memang masih memercayai Megawati memimpin PDI-P lima tahun ke depan, baginya tidak ada masalah.
''Panigoro, sebelum menyatakan mundur dari DPR, pernah bertemu dengan saya dan mengatakan kalau nanti Mega memang didukung penuh daerah, dia akan ikut mendukung pula. Kalau sekarang menyatakan tidak akan ikut di bursa calon, bukan hal mengejutkan,'' katanya.
Tentang Sophan, menurut Tjahjo, selama ini memang tidak ada komunikasi. Tetapi, pernyataan Sophan mundur dari bursa pencalonan itu sesuatu yang positif. Artinya, baik Arifin maupun Sophan tahu diri karena melihat dukungan dari daerah terhadap mereka tidak ada.
Sedangkan, Wakil Bendahara Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P, Irmadi Lubis, secara terpisah menegaskan, Arifin bukannya mundur. ''Bagi saya Arifin itu bukan mundur, sebab memang tidak ada yang mendukung dia sebagai calon ketua umum,'' ujarnya.
Soal mundurnya Sophan, Irmadi menilainya sangat positif. Sophan telah menunjukkan dirinya sebagai demokrat tulen, sebab hingga detik-detik dibukanya kongres, dukungan atas dirinya tidak juga menunjukkan peningkatan yang signifikan untuk terus maju.
Irmadi berharap, baik Arifin maupun Sophan tetap konsisten membangun PDI-P dan menyukseskan kongres partai ini hingga selesai dengan baik. ''Apabila mereka memang tokoh PDI-P sejati, mereka akan menerima hasil kongres PDI-P di Bali,'' katanya.
Guruh Sukarno Putra menyatakan untuk sementara tidak akan mengikuti langkah Arifin Panigoro dan Sophan Sophiaan. Alasannya, dia akan tetap maju sebagai respons atas aspirasi yang menginginkan dirinya tampil memimpin PDI-P untuk menjadi lebih baik.
''Saya berani maju mencalonkan diri karena ada aspirasi dari daerah-daerah. Saya akomodasi aspirasi itu,'' tegas Guruh yang sebelumnya menyatakan telah mendapat dukungan sekitar 1.000 dari 1.800 utusan kongres.
Dia mengatakan, telah mendapat dukungan luas bukan saja dari Pulau Jawa dan Bali, tetapi hampir dari seluruh daerah. ''Mereka yang sangat kuat mendukung saya selain dari Jawa dan Bali, itu datang dari Papua, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, serta Sulawesi Selatan. Karena itu saya maju terus,'' tegasnya.
Selain itu, kata Guruh, dia mau dicalonkan sebagai ketua umum karena merasa terpanggil untuk memperbaiki dan membangun PDI-P yang belakangan sudah jauh dari semangat nasionalisme dan orientasi kerakyatan (wong cilik).
Tentang mundurnya dua rekannya dari bursa pencalonan, Guruh menilai wajar. ''Mungkin mereka sadar sudah waktunya regenerasi dan memberikan kesempatan kepada juniornya untuk memimpin PDI-P. Mereka mau menerapkan tut wuri handayan,i dan itu bagus,'' katanya.
Pada kesempatan tersebut, Guruh mengajak para peserta kongres PDI-P di Bali agar benar-benar belajar berdemokrasi. Dia mewanti-wanti kader PDI-P, termasuk para pendukungnya, agar tidak menggunakan cara-cara kekerasan di arena kongres.
Aksi unjuk rasa mewarnai suasana menjelang pembukaan Kongres II PDI Perjuangan (PDI-P) di Sanur, Bali, Senin (28/3) siang. Unjuk rasa itu dilakukan kader dan simpatisan PDI-P dari Medan, Sumatera Utara. Kelompok ini pada pukul 09.00 Wita membentuk barisan dengan membentangkan spanduk di depan Inna Grand Beach Hotel di Sanur, tempat digelarnya kongres.
Sementara itu, puluhan satgas PDI-P yang ditempatkan di pintu masuk Hotel Inna mengasawi ekstraketat kendaraan dan orang yang memasuki hotel, termasuk turis mancanegara yang menginap di hotel tersebut. Mereka yang tidak bisa menunjukkan kartu identitas yang dikeluarkan oleh panitia kongres tidak diperkenankan masuk hotel. (137/M-15)