
AFP/Jimin Lai
FERRARI GAGAL - Rubens Barrichello dari Ferrari (kiri) gagal masuk finis di GP Sepang, Malaysia, 20 Maret 2005. Fernando Alonso berada di tempat pertama, Jarno Trulli di urutan kedua, dan Nick Heidfeld di tempat ketiga
SIAPA bilang ketegangan yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia memperebutkan Blok Ambalat, menjadi penghalang untuk nonton ajang balap mobil paling bergengsi di dunia, Grand Prix Formula Satu di Sirkuit Sepang? Buktinya, ribuan orang Indonesia tumpah-ruah di sana, pada ajang yang baru saja berlangsung sepekan lalu.
Banyak yang datang dengan mengikuti tur secara rombongan, namun ada juga yang datang sendiri-sendiri. Sejumlah tur wisata yang memasukkan acara nonton bareng F-1 di Malaysia, banyak ditemui Pembaruan. Jumlahnya beragam, mulai dari puluhan hingga yang terbesar adalah rombongan tur Rally Tama dan Bogasari, yang jumlahnya mencapai 250 orang.
Turis-turis Indonesia memang menjadi salah satu target dari Malaysia untuk menyaksikan balapan itu. Sudah sejak 1999 Indonesia menempati posisi ketiga, setelah Singapura dan Inggris, yang warganya khusus datang ke "Negeri Jiran" itu untuk nonton secara langsung ajang F-1.
Namun, memang, ada sedikit kecemasan dari sejumlah warga Indonesia yang masuk peserta rombongan mengenai faktor keamanan, khususnya setelah media massa dan media elektronik di Tanah Air melaporkan ketegangan antara Tentara Diraja Malaysia dan TNI di daerah perbatasan.
Tetapi, situasi yang terjadi di Indonesia, ternyata jauh berbeda dengan di Malaysia. Media cetak dan elektronik bahkan boleh dibilang sama sekali tidak memberitakan kasus sengketa pencaplokan wilayah itu.
Suasana Berbeda
Salah satu harian terbesar di Malaysia, The Star misalnya, selama beberapa hari menjelang digelarnya GP F-1, tidak sekalipun memberikan ruang halamannya untuk Ambalat. Yang ada hanya pemberitaan besar mengenai pesta-pesta dan persiapan pembalap menjelang balapan.
"Itu kasus politiklah, kita orang tidak ikut campur dengan masalah itu. Lebih baik berbisnis saja," ujar James Wong, pria berusia 60 tahunan yang menjadi pemandu rombongan tur Indonesia.
Jawaban yang sama juga dikemukakan Mahdi (24), wakil dari remaja kota besar yang ditemui sedang menyeruput kopi di kawasan nongkrong Sungei Wang, Bukit Bintang, Kuala Lumpur (KL). Sepertinya banyak warga KL yang merasa tidak akan terjadi perang antara Indonesia dan Malaysia, pasalnya kedua negara dianggap membutuhkan satu sama lain.
Malaysia butuh dolar dari pengunjung Indonesia. Sedangkan pengunjung Indonesia, khususnya penggemar otomotif dapat terpuaskan dengan menyaksikan secara langsung pembalap-pembalap idola mereka berpacu.
"Ada suasana yang beda antara menyaksikan langsung, dan nonton di layar kaca. Saya akui, nonton F-1 paling enak adalah dari televisi. Karena semua area dan jalannya lomba dapat terliput. Berbeda dengan menyaksikan balapan secara langsung di podium. Yang kita lihat hanya satu sisi saja," ujar Josef, pengacara yang sudah menyaksikan balapan F-1 di Malaysia, secara langsung, sejak 1999.
Padahal, tiket untuk menyaksikan balapan secara langsung tidak murah. Harga tiket F-1 yang resmi mulai dari RM 50 (ringgit Malaysia) untuk nonton di bukit, RM 500 (Rp 1.200.000) untuk nonton di podium beratap (citrine) hingga RM 1.000 (Rp 2.400.000) untuk menyaksikan dari podium yang memiliki pandangan langsung ke garis start. Harga tiket tersebut memang terbilang mahal, tetapi sama sekali tidak menyurutkan orang Indonesia untuk berduyun-duyun datang ke sana.
"Orang Indonesia yang datang ke sini jelas, beragam tujuannya. Ada yang memang benar-benar ingin menyaksikan F-1, ada juga yang menganggap ini bagian dari prestise. Tetapi buat saya, dengkingan mesin mobil F-1 itu selalu memanggil saya untuk menontonnya secara langsung," Yosef menambahkan..*