DI Jakarta, terdapat dua kelompok perantau Minang. Pertama, mereka yang berasal dari Padang dan merantau ke Jakarta untuk bekerja atau melanjutkan studi. Kedua, orang Padang yang lahir dan dibesarkan di Jakarta karena orang tuanya merantau ke Jakarta.
"Kelompok pertama biasanya datang ke Jakarta setelah menyelesaikan studinya di kampung, minimal sampai SMP atau SMA. Untuk kemudian bekerja di Jakarta atau melanjutkan di sini ke jenjang yang lebih tinggi lagi, seperti SMA atau kuliah," jelas Ketua Umum Badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau (BK3AM), Drs H Syamsir Kadir MBA,
Ia mengatakan, umumnya orang-orang dari kelompok pertama rasa kesukuannya masih tinggi. Hal itu dapat terlihat dengan banyaknya di antara mereka yang menyatukan diri dalam kelompok yang terdiri atas orang-orang yang sekampung atau sesuku dengannya.
Sedangkan pada kelompok kedua, yang rata-rata terdiri atas remaja dan anak-anak muda, rasa kesukuannya mulai berkurang. Hal itu dikarenakan adanya pengaruh yang kuat dari kebiasaan kehidupan Kota Jakarta yang modern dan plural.
"Anak-anak muda itu lahir dan besar di Jakarta. Mereka sudah terbiasa dengan gaya hidup Kota Jakarta yang modern sehingga lambat laun rasa kesukuan mereka pun makin berkurang. Contohnya, kalau mereka diajak ke perkumpulan adat atau ke acara-acara kedaerahan, biasanya mereka akan menolak," tuturnya.
Pengaruh gaya hidup kota Jakarta, kata dia, cukup meresahkan para orang tua. Terlebih lagi ketika nilai-nilai keagamaan pun mulai terkikis.
Padahal, orang Minang terkenal sebagai pemeluk Agama Islam yang kuat. Hal itu tersirat dalam sebuah pepatah Minang yang mengatakan Adat basandi syara'. Syara' basandi Kitabullah.
"Maksudnya, adat bersandikan hukum Islam yang bersendikan pada Alquran. Tapi dalam perkembangannya, kami melihat ada kecenderungan nilai-nilai keagamaan itu mulai berkurang pada anak-anak muda Minang di Jakarta. Misalnya, mereka mulai meninggalkan shalat lima waktu, mereka juga mulai enggan pergi ke masjid dan lebih suka ke tempat-tempat hiburan," tuturnya.
Untuk itu, katanya, para orang tua kini berusaha keras untuk mengembalikan anak muda Minang agar kembali ke adat dan agama. Jadi, meski mereka tinggal dan besar di Jakarta tapi perilaku ke-Minang-an mereka tetap dipertahankan.
"Yang membuat kami makin prihatin ketika anak-anak muda ini kembali ke kampung halaman, kebiasaan mereka yang buruk terkadang dapat mempengaruhi anak-anak muda mereka di kampung. Misalnya, kebiasaan mereka meninggalkan shalat lima waktu seringkali diikuti oleh adik-adik atau saudara mereka di kampung. Itu kan menyedihkan," jelasnya.
Mandiri
Masyarakat Minang, kata Syamsir, juga menganut sifat egaliter atau mandiri. Sehingga tidak banyak di antara mereka yang mau terikat dengan orang lain. Itulah mengapa banyak di antara para perantau Minang di Jakarta yang memilih bekerja atau berusaha sendiri, seperti berdagang atau menjadi sopir.
Selain itu, kata dia, orang Minang juga dikenal dengan sistem sosial berdasarkan kekerabatan materineal (keturunan menurut garis ibu). Sistem ini melahirkan tatanan sosial dan sistem kepemilikan yang bersifat komunal dengan sistem pewarisan mengikuti garis keturunan ibu.
Sistem materineal mengharuskan seluruh harta pusaka jatuh ke tangan para wanita. Sedangkan para lelaki hanya diberi hak untuk mengelola dan hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan saudara wanita dan anak-anaknya (keponakan).
"Sebab, harta pusaka itu kan milik adat tidak boleh diperjualbelikan. Kalau diberikan ke tangan lelaki, dikhawatirkan akan mereka jual untuk memenuhi kebutuhan hidup dia serta anak dan istrinya. Soalnya laki-laki di Padang kan tinggal dengan mertuanya. Kalau siang dia kerja di rumah ibunya mengurus harta pusaka keluarganya, untuk ibu dan saudara perempuan beserta anak-anaknya. Sedangkan anak-anak dia, yang ngurus pamannya atau saudara laki-laki istrinya," tutur Syamsir.
Kondisi itu pun, jelas dia, membuat para lelaki Minang memutuskan untuk pergi merantau agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik. "Itulah mengapa banyak laki-laki yang merantau termasuk ke Jakarta," imbuhnya.
Meski begitu, Ia menghimbau agar masyarakat perantau Minang di Jakarta tidak lupa untuk kembali pulang ke kampung halaman. Dan memberikan bantuan dalam pembangunan serta perkembangan kampung halamannya.
"Janganlah merantau Cina, maksudnya kalau sudah merantau jadi lupa pulang. Tapi sesekali pulanglah dan bantu pembangunan kampung mungkin dengan menciptakan lapangan pekerjaan di sana. Jadi jangan hanya kirim uang saja, atau istilahnya berilah kail jangan hanya ikannya," tandasnya. (Y-6)