SUARA PEMBARUAN DAILY

Jakarta Jelang Pagi

Paskah Subuh

JALANAN lengang. Sesekali beberapa mobil dan angkutan kota (angkot) terlihat melintas. Hampir tak ada orang yang berseliweran. Itu pemandangan biasa di Jakarta begitu malam menjelang pagi.

Tapi pada Minggu (27/3) dini hari, beberapa ruas jalan di Jakarta terlihat ramai. Sebut saja Jalan Masjid Sunda Kelapa di Jakarta Pusat (Jakpus), Jalan Budi di Jakarta Timur (Jaktim), dan Jalan Raya Pancoran di Jakarta Selatan (Jaksel).

Kerumunan orang dan kendaraan terlihat memenuhi sepanjang jalan tersebut. Bahkan, beberapa polisi tampak berjaga-jaga dan mengatur kelancaran arus lalu lintas di jalan tersebut.

Setahun sekali, jalan-jalan itu, memang selalu ramai saat dini hari. Tepatnya, saat perayaan hari kebangkitan Isa Almasih atau biasa disebut Paskah. Pasalnya, di jalan-jalan itu, terdapat beberapa Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) yang mengadakan ibadah Paskah subuh mulai pukul 04.00 WIB.

Seperti yang terjadi pada Minggu (27/3). Keramaian terlihat di depan GPIB Taman Harapan yang terletak di Jalan Budi, Jaktim. Kerumunan orang memenuhi gedung gereja dan tenda sementara yang dibangun dengan menggunakan sebagian ruas jalan. Padahal, waktu baru menunjukkan pukul 03.00 WIB.

Hari itu, GPIB Taman Harapan memang mengadakan ibadah Paskah subuh pada pukul 04.00 WIB. Namun, sejak pukul 03.00 WIB, warga jemaat di gereja itu, sudah berdatangan. Alasannya jelas, supaya kebagian tempat duduk di dalam gedung atau tenda yang disediakan.

Seperti penuturan Nela (16) yang ditemui Pembaruan, di gereja itu. Menurutnya, sejak kecil dia sudah dibiasakan mengikuti ibadah Paskah subuh. Biasanya, Nela dibangunkan oleh ibunya pada pukul 02.00 WIB.

Hal itu dilakukan supaya dia tidak terburu-buru persiapan sebelum ke gereja dan terlambat mengikuti ibadah Paskah subuh.

"Pokoknya, diusahakan sudah sampai di gereja 30 menit sebelum ibadah dimulai. Kalau lewat dari itu, susah nyari tempat duduk. Semuanya penuh," kata Nela.

Dia mengakui, awalnya sulit untuk mengikuti ibadah Paskah subuh. Hambatan utama adalah rasa kantuk karena harus bangun di saat banyak orang masih terlelap. Tetapi ketika mengetahui keunikan ibadah Paskah subuh, dia jadi bersemangat.

Kalo ibadah Paskah subuh, biasanya ada keunikan tersendiri. Selesai ibadah, ada kegiatan cari telur Paskah untuk anak-anak. Semua orang juga dikasih sarapan susu dan roti. Pokoknya asik lah," ujar Nela.

Hal yang sama juga dikatakan Sherly (24). Biasanya, Sherly mengikuti ibadah Paskah subuh di GPIB Paulus yang terletak di Jalan Masjid Sunda Kelapa. "Saya suka ikut ibadah Paskah subuh karena biasanya ada pertunjukan drama penderitaan Yesus Kristrus yang dimainkan pemuda-pemudi gereja ini. Selesai ibadah, kita bisa sarapan bubur ayam atau bubur kacang hijau yang disediakan panitia," katanya.

Menurut Sherly, selain keunikan tersebut, ibadah Paskah subuh juga menumbuhkan keakraban dan kekeluargaan di antara jemaat. Pasalnya, GPIB Paulus sering mengadakan lomba yang melibatkan jemaat mulai dari anak-anak sampai orang tua.

"Kegiatan mencari telur Paskah bisa jadi acara rekreasi buat keluarga, apalagi untuk orang tua yang sehari-hari sibuk kerja dan jarang punya waktu bermain dengan anak," kata Sherly.

Nela juga mengakui, suasana akrab dan kekeluargaan yang membuatnya hampir tidak pernah melewatkan ibadah Paskah subuh. Apalagi, dia bisa bertemu dengan teman-teman sebaya dan menghabiskan waktu untuk ngobrol setelah selesai ibadah.

"Saya punya beberapa teman akrab di gereja. Biasanya kami janjian untuk ke ibadah Paskah subuh. Selesai ibadah, kami sarapan bersama sambil ngobrol," kata Nela.

Apa yang diungkapkan Nela dan Sherly, mungkin mewakili perasaan seluruh umat Kristiani yang merayakan Paskah. Suasana akrab dan kekeluargaan membuat semua umat Kristiani gembira mengikuti ibadah Paskah subuh, meski harus mengorbankan sebagian waktu tidur. (J-9)


Last modified: 28/3/05