SUARA PEMBARUAN DAILY

Penjualan Ayam Potong Merosot di Tangerang

Kadis: Warga Tak Perlu Khawatir, Tangerang Bebas Flu Burung

TANGERANG - Jutaan ternak ayam di wilayah Kabupaten Tangerang dinyatakan bebas flu burung (Avian influenza/AI). Hal ini didukung dengan kemampuan ratusan peternak di wilayah ini untuk terus-menerus melakukan vaksinasi secara teratur setiap tiga bulan sekali.

"Para peternak di Tangerang aktif dan teratur memberi vaksin serta rajin membersihkan kandang. Pengambilan sampel darah ayam-ayam tersebut juga rutin dilakukan untuk memantau virus AI sehingga bisa dicegah menularnya virus flu burung," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang Drh Didi Aswadi kepada wartawan akhir pekan lalu.

Namun, pernyataan Kadis itu berlawanan dengan kenyataan. Hingga Senin (28/3) pagi, di pasar-pasar tradisional, sejumlah pedagang hewan mengeluh karena omset merosot. Banyak ibu-ibu yang tidak mau membeli ayam karena takut tertular flu burung. Ibu-ibu ini lebih memilih membeli telur ayam dan ikan segar.

Harga kedua komoditas ini di pasaran menjadi meningkat. Untuk ikan kembung misalnya, dari harga Rp 14.000/kg naik menjadi Rp 15.000-16.000. Ikan mujair dari Rp 8.000 naik menjadi Rp 10.000/kg. Demikian pula telur juga naik dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.000/kg.

Menurut Didi, pihaknya menekankan kepada pengusaha ternak dan pengusaha ayam potong yang mendatangkan ayamnya dari luar Tangerang untuk meneliti surat keterangan kesehatan hewan dari asal daerah hewan tersebut. "Sebelum dipotong, kita juga melakukan pemeriksaan ulang. Ini sebagai jaminan bahwa hewan itu bebas dari penyakit, sehingga aman untuk dikonsumsi," katanya.

Didi meyakinkan masyarakat untuk tidak khawatir mengonsumsi daging ayam yang ada di Kabupaten Tangerang. "Kami menjamin bebas dari flu burung," tandasnya.

Pada tahun 2003 lalu, wabah flu burung ini menyerang sekitar 1,2 juta ayam peternak Kabupaten Tangerang. Wabah ini bisa diatasi setelah ditemukannya vaksin Strain Legok, yaitu vaksin yang ditemukan di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.

Sementara itu, pekan lalu, puluhan ayam di Desa Rancaiyu, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, mati. Ternak mati ini diduga kuat disebabkan oleh penyakit new castle (tetelo, red) dan stres, bukan flu burung.

"Itu terjadi di satu kandang. Jauh dari kemungkinan flu burung. Kami pun telah mememeriksa ayam itu ke Laboratorium Balitvet (Badan Penelitian Veteriner) di Bogor Jawa Barat," ungkap Didi.

"Sekali lagi, masyarakat tak usah khawatir. Kami pun sangat rutin memonitor keadaan peternakan di sini. Kami telah mengantisipasinya dengan baik dan cermat," ujar Didi. (132)


Last modified: 28/3/05