SUARA PEMBARUAN DAILY

2004, Lonsum Raih Laba Bersih Rp 459 Miliar

JAKARTA - PT London Sumatera Indonesia Tbk (Lonsum), pada 2004, meraih laba sebesar Rp 459 miliar atau meningkat Rp 146 miliar dibanding tahun 2003 yang tercatat sebesar Rp 313 miliar. Sedangkan, laba dari aktivitas normal (net income) mengalami peningkatan Rp 59 miliar menjadi Rp 370 miliar dibanding tahun sebelumnya yang Rp 311 miliar.

Hasil yang dicapai perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan ini didukung oleh kemampuan merebut kepercayaan investor dalam dan luar negeri setelah menyelesaikan restrukturisasi utang-utangnya melalui penandatanganan Master Restructuring Agreement.

Dengan selesainya perjanjian tersebut, maka komposisi kepemilikan saham Lonsum menjadi First Durango International sebesar 50,31 persen, PT PAN Lonsum 20,94 persen, Barings (Guernsey) 5,56 persen, Commerzebank Limited Singapore 2,58 persen, dan publik 20,61 persen.

Managing Director Finance Lonsum, Handana Halim Wanawijaya, di Jakarta, Minggu (27/3), menyatakan, penjualan perseroan juga mengalami lonjakan yang signifikan sebesar Rp 398 miliar dari Rp 1,26 triliun tahun 2003 menjadi Rp 1,65 triliun tahun 2004. Hal itu disebabkan meningkatnya volume penjualan yang ditunjang harga minyak sawit (crude palm oil/CPO) yang cukup bagus, di mana rata-rata berkisar US$ 400 hingga 425 per metrik ton harga diatas kapal (Freight on Board/FOB).

Sedangkan, kerugian dari restrukturisasi utang sebesar Rp 617 miliar merupakan konsekuensi dari restrukturisasi utang yang mencakup pencatatan kontrak komoditas berjangka di neraca dan konversi utang menjadi saham (debt to equity swap) dan surat wajib konversi (mandatory convertible notes). Dampak dari kerugian tersebut dibukukan mulai Juni hingga Desember 2004 atau hanya sekali di tahun 2004, sehingga tahun 2005 mendatang neraca perseroan akan lebih baik.

Pada laporan keuangan tahun 2004, ekuitas perseroan mengalami kenaikan signifikan sekitar 640 persen dari 104 miliar tahun 2003 menjadi Rp 769 miliar. Sementara itu, utang dari bank mengalami penurunan tajam dari Rp 1,4 triliun tahun 2003 menjadi Rp 661 miliar tahun 2004 atau turun Rp 739 miliar. (PR/B-15)


Last modified: 28/3/05