
PEMBARUAN/YC KURNIANTORO
KORBAN MALARIA- Seorang petugas puskesmas merawat pasien di Posko Malaria Cipunaga, Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tahun lalu.
JAKARTA - Malaria me-rupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di daerah tropis. Sebanyak dua miliar penduduk dunia tinggal di daerah endemis malaria. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) setiap tahun 300 juta sampai 500 juta penduduk dunia terinfeksi malaria. Dari jumlah itu, satu juta di antaranya meninggal dunia.
Menurut dr Inge Sutanto dari Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) di Jakarta akhir pekan lalu, jumlah kematian karena malaria itu tidak hanya diperoleh dari penduduk yang tinggal di daerah yang endemis malaria, tetapi juga berasal dari orang yang bepergian ke daerah tersebut.
Setiap tahun, 25 juta sampai 30 juta orang pergi ke berbagai negara yang termasuk daerah endemis malaria. Dari jumlah tersebut 10.000 sampai 20.000 orang terinfeksi malaria. Di benua Eropa diperkirakan ada 10.000 kasus malaria setiap tahun. Sebagian besar berasal dari Jerman, Inggris, Prancis dan Italia. Di Amerika Serikat ada 1.000 kasus malaria setiap tahun.
Jumlah kasus itu, ujar Inge, di bawah angka yang sebenarnya karena 40 persen sampai 70 persen kasus tidak tercatat. Di Prancis terjadi peningkatan kasus dari 5.940 pada tahun 1998 menjadi 7.127 pada tahun 1999 dan 8.056 pada tahun 2000. Angka kematian mencapai 0,37 persen sampai 0,49 persen dan sebagian besar merupakan orang tua. Infeksi terutama disebabkan oleh Plasmodium falciparum pada orang Eropa yang berkunjung ke Afrika, sedangkan Plasmodium vivax lebih banyak ditemukan pada orang Australia yang bepergian ke daerah Asia-Pasifik.
Setiap tahun Bagian Parasitologi FK-UI memeriksa 450 sampai 550 penderita yang diduga terjangkit malaria. Sebelum tahun 1999 jumlah yang diperiksa kurang dari 300 penderita. Dari jumlah tersebut yang positif berkisar antara 10 persen sampai 15 persen atau lebih kurang 50 sampai 75 penderita positif malaria setiap tahunnya.
Provinsi Lampung merupakan penyumbang penderita malaria yang terbesar, diikuti dengan Provinsi Papua. Selebihnya penderita berasal dari berbagai wilayah misalnya, Aceh, Tapanuli, Nias (Sumatera Utara), Jambi, Palembang, Padang, Bangka Belitung, Sukabumi (Jawa Barat), Purworejo, Cilacap (Jawa Tengah), Kulonprogo (Yogyakarta), Lombok (NTB), Bontang, Kutai (Kalimantan Timur ), Pontianak (Kalimantan Barat), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Kalimantan Tengah, Manado (Sulawesi utara), Sulawesi Selatan, Sumba, Kupang (NTT), serta Maluku Utara dan Selatan.
"Sebagian besar penderita datang dengan keluhan demam. Sebagian kecil dengan anemia, terutama pada anak. Selain itu ditemukan juga kasus malaria berat misalnya malaria otak, malaria dengan gagal ginjal dan lainnya," kata Inge.
Malaria Impor
Dikatakan, beberapa kasus malaria di Jakarta adalah malaria impor. Artinya, orang yang menderita malaria berasal dari luar Indonesia. Yang menjadi masalah dalam malaria impor adalah keterlambatan diagnosis karena dokter tidak menyadari menghadapi kasus malaria. Kemudian bila kasus malaria terdiagnosis, pengobatan dan tindak lanjut hasil pengobatan juga merupakan masalah.
Pasalnya, walaupun Plasmodium falciparum yang resisten antimalaria klorokuin sejak tahun 1990 sudah dilaporkan dari seluruh provinsi di Indonesia, tetapi obat alternatif yang tersedia di apotek hanya sedikit dan sulit dicari. Misalnya, fansidar dan kina. Hal seperti inilah yang menyebabkan timbulnya opini pada pasien bahwa penyakit malaria yang dideritanya tidak dapat sembuh dan akan dibawa seumur hidup.
Kasus malaria falsiparum yang resisten klorokuin, biasanya dapat ditanggulangi dengan pemberian kombinasi kina (7 hari dengan dosis 3 x 3 tablet/hari) dan doksisiklin (7 hari dengan dosis 100mg/hari). Masalah lainnya yang tidak begitu mencolok adalah resistensi P vivax terhadap klorokuin. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian klorokuin basa (3 hari) dan primakuin (14 hari) secara bersama-sama.
Dijelaskan, selama enam tahun mengelola berbagai kasus malaria impor, hanya ditemuka kurang dari lima kasus Plasmodium vivax yang terbukti resisten terhadap klorokuin. Pada kasus ini dapat digunakan kina yang diberikan selama 7 hari sebagai obat alternatif, karena ada obat baru ACT (Artemisinin combination therapy).
Inge menuturkan, pencegahan infeksi malaria tanpa obat dapat dilakukan dengan mengurangi gigitan nyamuk anopheles. Tidur di ruang ber AC atau dengan kipas angin dapat mengurangi risiko terinfeksi malaria. Penggunaan obat nyamuk bakar atau elektrik juga dapat mengurangi jumlah nyamuk yang berada dalam rumah. Penggunaan kelambu celup insektisida bahkan dapat mengurangi gejala klinis dan angka kematian akibat malaria. Permetrin yang digunakan sebagai insektisida tersebut tidak berbau dan toksisitasnya rendah terhadap mamalia dan aktivitasnya dapat bertahan sampai empat bulan.
"Memakai jaket yang dice-lup insektisida juga dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk. Dengan memakai celana dan baju lengan panjang, risiko tertular malaria juga berkurang. Kurangi ke luar rumah pada waktu Anopheles menggigit, biasanya sejak matahari terbenam sampai matahari terbit.
Penggunaan repelen juga mengurai gigitan nyamuk sampai waktu tertentu biasanya, enam jam. Pemakaian repelen yang mengandung diethyltoluamide berulang kali dilaporkan dapat menyebabkan reaksi toksik, urtikaria dan dermatitis kontak. Karena itu hati-hati digunakan pada anak di bawah usia delapan tahun," tambah Inge. (N-4)