SUARA PEMBARUAN DAILY

VARIA

WNI Dirampok di Kuala Lumpur

PRESIDENT of ASEAN Tourism Board, Elly Hutabarat dirampok oleh pengemudi taksi yang ditumpanginya di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (27/2) pagi. Menurut salah seorang putranya, Winfred Hutabarat, Senin (28/2), ibunya menumpang taksi dari tempat penginapannya Hotel Pan Pacific menuju stasiun kereta api guna melanjutkan perjalanan ke Bandara Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA). Namun di tengah perjalanan, pengemudi berkulit hitam menodongkan sebilah pisau dan menguras barang-barang milik korban. Yang lebih ironis lagi, korban diturunkan di tengah jalan saat turun hujan deras. Setelah dicek di hotel, taksi dan pengemudinya tidak terdaftar.

Selain surat-surat penting, seperti paspor barang-barang lain yang diambil pelaku yakni uang tunai. Korban yang sedang bertugas di Kuala Lumpur, menurut rencana akan ke Singapura, dan seterusnya akan kembali ke Indonesia. Atas kejadian tersebut, korban melaporkan diri ke kepolisian setempat dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Malaysia. Senin (28/2) pagi ini, Elly dan Winfred sedang mengurus surat-surat di KBRI untuk kembali ke Tanah Air. (M-16)

Tindakan Premanisme

KERJA sama masyarakat amat dibutuhkan untuk meminimalisasi tindakan premanisme yang sering meresahkan masyarakat. Terlebih lagi aksi premanisme seringkali terjadi di tempat-tempat keramaian yang digunakan sebagai pusat aktivitas masyarakat. Hal itu dikatakan Walikota Jakarta Pusat, H Muhayat sesaat setelah membuka Ikrar Bersama Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi) Memberantas Premanisme di Jakarta, Sabtu (26/2). "Di tempat-tempat keramaian selalu ada oknum yang mengambil kesempatan dengan cara melindungi atau mem-backing pelanggaran. Ini yang disebut tindakan yang bersifat preman," katanya.

Dia mengatakan, masyarakat tidak bisa mendiamkan aksi premanisme muncul. Untuk itu, kerja sama yang solid antara masyarakat dan pihak berwenang diperlukan agar aksi yang merugikan tersebut dapat diredam seminimal mungkin. Sementara Penasehat Forkabi, Mayjen Nachrowi menjelaskan, tindakan premanisme harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Alasannya, tindakan itu secara jelas telah melanggar hukum yang berlaku di Indonesia.

"Kita harus mulai dari lingkungan kita masing-masing. Lingkungan kita harus bersih dari aksi premanisme," ujarnya. Menurutnya, Forkabi siap untuk memberantas aksi premanisme. Pihaknya telah membentuk semacam tim khusus yang akan bertindak memberi pwenyuluhan hukum terhadap anggotanya. Bahkan satgas yang berfungsi untuk menindak anggota Forkabi yang 'nakal' pun sudah disiapkan. Siapa saja yang mrlanggar hukum akan kami tindak. Kami sudah membuat satgas yang beranggotakan 100 orang," papar dia. (Y-6)


Last modified: 28/2/05