SUARA PEMBARUAN DAILY

Keluhan yang Tak Kunjung Didengar

Pembaruan/Alex Suban

AIR BERSIH - Seorang penarik becak membawa jerigen air bersih untuk dijual kepada warga kampung Tembok Bolong, Penjaringan, Jakarta Utara. Di kampung pinggir laut ini, air bersih untuk minum dan mandi dijajakan kepada warga seharga Rp 500 per jerigen. Semakin besar jumlah anggota keluarga, makin besar dana yang harus disediakan untuk membeli air.

Di halaman rumah yang berukuran 1x 2 meter terpajang bak penampungan air PAM yang sudah dipenuhi debu. Bak berwarna biru pudar itu sudah disegel bulan ini. Tampak pemiliknya, Bu Kastino sudah tidak ambil pusing lagi. Rumah yang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok ini memang selalu bermasalah dengan PAM. Ibu Kastino yang tinggal di Bahari Gg V RT 005/RW 003, No 80, Jakarta Utara ini mengeluhkan kekesalannya terhadap PAM.

"Sejak Maret 2004 saya enggak mau bayar abonemen, PAM-nya aja udah mati total dua tahun. Padahal mah setiap bulan dikontrol," ujar dia dengan luapan emosi yang tak tertahan.

Ketika ditanya soal aliran air, yang ada di raut muka ibu beranak tujuh ini hanyalah kekesalan. Bagaimana tidak, selama setahun penuh ia membayar iuran bulanan, tapi tetap tidak pernah ada air yang mengucur dari kran-kran di rumahnya. Setiap bulannya dia membayar Rp 15.000.

Karena air tidak pernah mengalir maka ia meminta petugas yang mengontrol agar diberikan keringanan. Alhasil iuran yang ia bayar diturunkan menjadi Rp 12.000.

Suaminya sudah sering marah-marah dan melaporkan hal ini ke pihak PAM, tetap tidak ada hasil

Untuk mendapatkan air bersih, ibu Kastino menyuruh anak-anaknya mengambil air di hidran umum dekat rumahnya. Jarak antara hidran dan rumah mungilnya itu sekitar 50 meter. Seiap hari ia menghabiskan Rp 5.000 untuk satu drum air.

"Belum kalau hidrannya mati, saya harus nyuruh anak-anak ngambil lagi di tempat yang lebih jauh dan mahal. Kadang-kadang sehari bisa Rp 15.000. Saya ingin mengadu, tapi enggak tahu harus ke mana, rasanya buat apa bayar PAM kalau enggak ada airnya. Ya berat juga rasanya kalau keadaan kayak gini," ujar dia.

Menurutnya, ada empat orang lagi yang bernasib mirip seperti dia. Kempat orang lainnya yang juga warga RT 005 tersebut sudah tak mendapat aliran air dari PAM sejak Pemilu Presiden putaran pertama April 2004 lalu. Hal ini dibenarkan oleh Ketua RT 005, ibu Legio.

"Sudah sembilan bulan PAM di sini mati total, rame-rame ibu-ibu RT sini 15 orang lapor ke PAM di Gorontalo, tetep aja enggak ada perubahan. Pernah dikontrol sekali dari pusat waktu bulan Desember, eh warga sini malah suruh gali sendiri, kan itu tugas PAM. Petugas itu malah nyuruh saya ngecek mana yang mampet, ya saya enggak mau, " Kata ibu Legio dengan kesal.

Menurutnya, ia sudah melapor berkali-kali ke PAM Tanjung Priok di jalan Gorontalo No 22 , tapi tetap tidak ada perubahan. Sama seperti ibu Kastino, ibu Legio tidak tahu harus ke mana lagi ia mengadu.

Ibu Legio mendapatkan air dengan hidran umum di RT yang sama. Namun, bila hidran umum di RT-nya mati ia harus mencarinya ke RT lain yang jaraknya lebih jauh. Biaya yang dikeluarkan setiap harinya untuk membeli air bersih berkisar antara Rp 5.000-Rp 20.000. Belum lagi untuk air minum ia harus mengeluarkan biaya ekstra. Sekitar dua sampai empat galon setiap satu minggu mesti ia beli untuk mencukupi kebutuhan air minum di rumahnya.

Di lingkungan RT 005 terdapat 32 kepala keluarga (KK) yang berlangganan air PAM tetapi semuanya sudah tak mendapat aliran air sejak sembilan bulan lalu.

Ketua RT 005, ibu Legio mengatakan, banyak warganya yang mandi hanya satu kali sehari atau tidak mandi sama sekali hanya untuk mengirit air. Bagi ibu-ibu ini yang penting ada air untuk memasak.

Ibu Legio merasa keluhan warganya tidak didengarkan. "Warga sini kan sama-sama bayar, walaupun orang kecil juga tolong keluhan kita di dengerin" katanya sambil berkaca-kaca.

Selain ibu Legio dan ibu Kastino, Tari warga RT 005 yang dinilai paling aktif dalam melaporkan pengaduan ke PAM, setiap bulan ia menelepon ke Pihak PAM.

"Saya hampir setiap bulan telepon sejak air mati, sudah dicatat nomornya tetap saja enggak ada yang datang untuk memperbaiki " ujar Tari kesal. Tari adalah salah satu warga yang rumahnya cukup dekat dengan hidran umum di RT 005.

Hidran umum di RT 005 juga tidak sepenuhnya lancar dan sering mati hingga beberapa hari. Paling lama adalah 17 hari sejak 6 Februari sampai 22 Februari lalu. Hidran ini kembali berfungsi setelah disedot. Hidran umum milik Rais ini adalah andalan warga RT 005 yang berjumlah 80 KK.

Mati Total

Lain cerita RT 005, lain lagi RT 003. Wirja selaku Ketua RT 003 di Bahari Gg V juga mengeluhkan permasalahan yang sama. Bahkan, ia sudah tiga kali melapor pada PAM pusat. Menurut dia, di RT-nya sendiri sudah 24 KK yang memiliki PAM juga mati total. Hanya untuk RT 003 PAM mati total dirasakan sejak sebelum puasa tahun 2004, jadi sekitar lima bulan.

Sebelum mati total keluarnya air PAM juga tidak terlalu lancar, kadang-kadang mati, kadang-kadang nyala. "Seringnya sih mati" kata Wirja.

Selama PAM mati ia tak hanya ditagih abonemen. Wirja sendiri sempat ditagih pembayaran sebesar Rp 59.940 untuk bulan Januari 2005.

"Saya memang suka begadang untuk menyedot, airnya enggak pernah keluar, tapi tetap ditagih'" ujar Wirja.

Sekitar 56 KK Bahari Gg V harus mengeluarkan biaya antara Rp 150.000 sampai Rp 600.000 setiap bulannya untuk air bersih. Sebagian harus juga mengeluarkan ekstra untuk membeli air minum.

Para warga ini mengaku, mereka harus pandai-pandai mengatur pembagian uang antara uang belanja dan uang untuk membeli air bersih. Selain itu, mereka juga harus membayar abonemen bila tidak ingin didenda oleh pihak PAM. Abonemen yang dibayarkan sekitar Rp 10.000 sampai Rp 15. 000 per bulan. Sebagian juga ada yang ditagih ekstra karena mencoba menyedot air saat malam hari, itu pun sia-sia, air tidak ada tapi tagihan tetap datang.

Warga Bahari Gg III dan IV memiliki nasib yang sedikit lebih beruntung. Rohadi yang tinggal di Bahari Gg IV, RT 001 mengatakan, air PAM-nya juga mati total sejak sebulan lalu. Lain lagi pengalaman yang dialami oleh ibu Ngkus, warga Gang Bahari III yang air PAM-nya rutin mati total setiap hari Sabtu dan Minggu. Hal ini sudah dialaminya sejak setengah tahun lalu.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ia sudah mencoba membuat saluran baru dengan mengeluarkan biaya sebesar Rp 600.000 namun hal itu juga tak berhasil. Sementara itu, Wahyani, warga Bahari Gg III di RT 004, PAM-nya sudah mati total sejak empat bulan lalu, namun laporannya ke PAM tidak pernah didengarkan.

Begitulah nasib warga Bahari, yang setiap hari harus berjuang mendapatkan air bersih. Air dari PAM, yang diharapkan menjadi "dewa penolong" ternyata tak pernah datang. Berkali-kali pengaduan diajukan tapi semuanya tak pernah membuahkan hasil. Mereka harus menunggu lebih lama lagi untuk bisa mendapatkan air bersih dari PAM. (GP/N-3)


Last modified: 28/2/05