"Jejak-jejak Drawing" menjadi tema besar karya 15 pelukis yang menggelar pameran puluhan karya mereka di Edwin Gallery, Jalan Kemang Raya, Jakarta, akhir Februari ini. Para pelukis itu adalah Agung Suryanto, Agus Suwage, Ay Tjoe Christine, Ayu Arista Murti, Barli Sasmitawinata, Djoeari Subardja, Indra Widiyanto, I Nyoman Masriadi, Ojita, Putu Sutawijaya, Rosid, Putu Wirantawan, Rudi Mantofani, dan Ugo Untoro.
Karya lukisan dengan teknik drawing, menurut kurator M Agus Burhan dari Edwin Gallery yang juga dosen Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, bisa dikerjakan dengan media tinta atau cat air yang dikombinasikan goresan material keras. Sifat drawing dalam teknik menggambar, berusia tua dan murni karena mengungkapkan perasaan manusia lewat gambar.
Lewat drawing, interaksi antara media yang sederhana, daya artistik, kepekaan tangan, mata, dan kecerdasan seniman, akan mudah terlihat. Walau sederhana, drawing sebenarnya teknik yang sulit untuk dikuasai oleh pelukis. Drawing lebih berfungsi personal dan subjektif, cenderung melepas imaji-imaji, juga mempunyai fungsi objektif untuk alat dokumentasi dan informasi.
"Lewat jejak drawing yang merupakan karya elite juga dapat menghasilkan emosi pengetahuan seniman dan makna-makna yang mendalam lewat pengalamannya," kata Agus, didampingi Direktur Edwin Gallery, Edwin Rahardjo, pada jumpa pers pembukaan pameran 15 pelukis itu, di Edwin Gallery, Rabu sore.
Agus menambahkan, ciri khas jejak drawing dapat dilacak. Pertama, pada bentuk figuratif yang bersifat realistis, proses penyederhanaan, dan deformasi. Kedua, bentuk abstraksi murni. Ketiga, jejak drawing baik karya figuratif dan abstrak bisa dikenali sebagai dasar teknik suatu lukisan. Keempat, teknik drawing sesuai karakternya bisa mendukung ungkapan vibrasi garbo (karya yang diciptakan secara cermat, teknis, sempurna bertujuan menampilkan ilusi kenyataan atau sosok bentuk sebagai kejutan optis).
Karakter vibrasi garbo selain memberi getaran ekspresi yang ritmis juga akan memunculkan pelukis impresionis, kubis-geometrik dan bentuk abstrak sekalipun. Dalam pameran ini karya vibrasi garbo menampakkan jejak drawing lebih kuat dan dominan.
Dalam pameran ke-15 pelukis tersebut, karya Djoeari menampilkan lukisan realistis yang mengandung nilai teknik impasto menyisakan sapuan-sapuan lembut pada bentuknya. Sementara pelukis Rosid, menonjolkan ge-taran ritmis lewat jejak titik-titik.
Barli membangkitkan emosi lewat jejak brush stroke pada karya impresionisnya. Lukisan Januri mengarah kubis geometrik, ritme yang ekspresif. Agus Suwage menghadirkan sapuan-sapuan lembut yang realistis. Nyoman memakai teknik realisnya juga menghasilkan jejak drawing yang lembut. Sedangkan lu-kisan Rudi berupa ungkapan campuran konvensi artistik yang menyisakan jejak drawing.
Adapun lukisan Agung Suryanto mengandung nilai kecermatan tinggi, disamping jejak drawingnya menimbulkan ritme yang intensif. Untuk karya Putu teknik drawingnya membentuk lukisan abstrak mempunyai getaran lembut dan ritmik. Lalu, karya Indra W memperlihatkan jejak drawingnya yang kuat dengan menggabungkanbidang warna kosong dengan kelompok figur dalam garis-garis emosional. Lukisan Putu Sutawijaya jejak emosinya lebih kuat dan spontanitas, dan untuk Ugo Untoro terlihat menampilkan intuisi bersumber dari sikap naif dengan jejak drawing.
Sedangkan pelukis Ay Tjoe tetap spontan pada garis seperti jalan untuk sampai pada bentuknya yang tak terduga. Pada karya Ayu Arista, garisnya mengalir mengikuti intuisi bebas membentuk objek-objek yang muncul dari penghayatan jiwanya. Khusus karya Ojite mempunyai keunikan tersendiri karena menonjolkan jejak drawing pada lekukan garis.
Sebagian besar pelukis pada pameran di Edwin Gallery ini masih setia pada pencapaian jati diri lewat gaya-gaya pribadi yang unik dan personal. Dengan tema beragam, mereka berusaha mengungkapkan makna kehidupan. Pameran itu tampaknya juga sebagai upaya memberi tanda, merangkum gejala pemakaian teknik dan medium yang sebenarnya sudah berumur tua tersebut. (G-5)