INGGU (27/2) malam waktu Amerika atau Senin (28/2) siang waktu Indonesia, mata dunia mengarah ke Kodak Theater, Los Angeles, tempat Academy Awards ke-77 digelar. Academy Awards yang popular dengan sebutan Piala Oscar adalah acara tahunan yang senantiasa menjadi pusat perhatian. Malah, orang rela membangun tenda di sekitar Kodak Theatre agar bisa menyaksikan acara itu dari dekat. Menonton para bintang film yang tampil gemerlap ketika melewati karpet merah kala memasuki gedung acara.
Di rumah pun pemirsa bisa menyaksikan acara tersebut lewat televisi kabel. Bahkan di Jakarta, kota yang beribu-ribu mil jauhnya dari Los Angeles dan industri perfilmannya baru bangkit kembali, orang menggelar nonton bareng The 77th Annual Academy Awards di Hard Rock Café, Jakarta, sembari makan pagi gratis.
Bagi insan film, Oscar adalah penghargaan paling bergengsi. Itulah puncak dari karyanya dalam bidang perfilman. Karena itu, tidak saja orang film, masyarakat awam pun ingin tahu film-film mana saja, sutradara, aktor dan aktris yang sukses membawa pulang trofi. Film-film yang mendapat nominasi Oscar, apalagi mendapatkannya, akan menjadi box office di gedung-gedung bioskop.
Pergelaran Oscar juga menjadi ajang promosi paling ampuh untuk produk apa saja. Para desainer dunia selalu memanfaatkan ajang ini untuk memperkenalkan produk barunya. Menjelang acara digelar, kita mendapat cerita artis ini menggunakan gaun rancangan desainer itu. Artis lain memakai sepatu rancangan desainer anu dan harganya miliaran rupiah. Limousine-limousine baru ditawarkan untuk mengantar para bintang ke Kodak Theatre.
PENGANUGERAHAN Oscar adalah saat untuk berpesta bagi insan film. Mereka berhak mendapatkan itu setelah bekerja keras sepanjang tahun. Mereka berhak menikmati pesta itu dengan menikmati makanan yang enak dan minum anggur.
Tentu bagi kita, Oscar tidak cuma itu. Oscar adalah proses pembelajaran. Dari film-film yang membawa pulang trofi, kita bisa membedah apa yang membuatnya sukses. Pada gilirannya, hal itu akan menginspirasikan insan film kita dalam berkarya.
Boleh saja kita bilang, selera Hollywood lain dengan selera kita. Bukankah tema film yang dihadirkan selalu universal? Sebut saja tema mistik atau cinta. Hollywood tak pernah berhenti menghasilkan film semacam itu dan mengolahnya dengan bagus. Kita tak jadi bodoh karenanya. Sebaliknya, film-film mistik kita dituding memangkas akal sehat. Ada apa dengan kita? Lama-lama kita bakal menuduh setan atau hantu dalam film kita yang salah.
SETELAH lama mati suri, beberapa tahun belakangan perfilman kita mulai bangkit. Tudingan masyarakat kita lebih suka menikmati film Hollywood ternyata tak seluruhnya benar. Beberapa film hasil karya sineas kita, seperti Arisan, Mengejar matahari, Virgin, dan Buruan Cium Gue, laris manis di gedung bioskop. Jadi, peluang film kita tak bakal dirampas seluruhnya oleh Hollywood. Ibarat makan, lidah Indonesia kita tidak akan suka makan steak setiap hari. Kita masih doyan pecel atau rendang.
Kita berharap, penganugerahan Piala Oscar mendorong para insan perfilman kita terpacu untuk terus berkarya dengan cerdas. Tidak cukup kita hanya menonton dengan terkagum-kagum The Annual Academy Awards. Kita mestinya bisa menyelenggarakan Festival Film Indonesia lagi agar kerja setahun sineas kita mendapatkan penilaian dan penghargaan. Bukankah begitu?