
LOILEM - Setelah sukses melewati rute Mandalay - Loilem di Myanmar sejauh 401 kilometer hari Jumat (26/11), tim reli Indonesia optimistis dapat menyelesaikan sektor 3 Etape kedua reli India- ASEAN I meskipun menempuh rute terberat Loilem - Kengtung sejauh 361 kilometer, Sabtu (27/11).
Wartawan Pembaruan, Agus Baharudin melaporkan, informasi dari panitia lomba menyebutkan rute Loilem -Kengtung merupakan yang terberat dari rangkaian reli sepanjang 8.000 kilometer melintasi wilayah sepuluh negara (India, Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Singapura, Indonesia). Hal ini disebabkan jalan yang harus dilalui sempit dan tepinya jurang.
Selain itu jalanan berdebu sehingga sangat mengganggu jarak pandang pereli, itu sebabnya panitia merekomendasikan kecepatan maksimal hanya 25 kilometer per jam.
Para peserta start dari Loilem pukul 05.00 dan melewati kota Kunciing, Ta Kaw, Mong Phin, dan tiba di Kengtung diperkirakan pukul 22.25.
Kota-kota ini umumnya terletak di dataran tinggi yang ketinggiannya maksimal mencapai 2.000 meter lebih di atas permukaan air laut di kota Mong Phin.
Sementara itu, bemper mobil pereli kakak-beradik Rio dan Dani Sarwono patah pada perjalanan dari Mandalay ke Loilem, Jumat (26/11). Bemper tersebut patah karena tidak kuat menahan bemper tanduk yang besi penopangnya patah. Akibatnya bemper tanduk tersebut terpaksa dilepas.
Kejadian serupa juga menimpa kendaraan Tim Kamboja. Bemper tanduk kendaraan itu juga terpaksa dilepas. Namun, kejadian ini tidak mengganggu perjalanan tim Indonesia sampai finis hari keempat reli di Loilem.
Indonesia menampilkan enam pereli yang seluruhnya merupakan pereli kawakan. Selain Rio dan Dani juga terdapat Pare Soemale, Sofyan Sarbin, Tiko Soekrisno, dan Yan Najib. Mereka mendapat jatah tiga mobil jip merek TATA dan Mahindra buatan India.
Reli yang pertama kali ini digelar bersifat nonkompetisi. Para peserta bergerak secara konvoi, tidak seperti pada sprint rally. Rombongan bergerak beriringan dan diatur sedemikian rupa seperti reli wisata.
Rute yang dilalui sampai sejauh ini masih meliputi pegunungan. Pada sektor 2 etape kedua, Jumat, rute yang dilalui umumnya berdebu. Hal ini disebabkan longsoran tanah dari tebing-tebing pegunungan yang dilalui. Selain itu sejumlah jalan rusak sehingga ketika kendaraan peserta melintas jalan itu menyebabkan debu berterbangan dan mengganggu penglihatan.
Pemandangan sepanjang perjalanan sangat bagus terdiri dari lembah, hutan, hamparan sawah di dusun-dusun Myanmar. Penduduk di kota-kota kecil dan kota tempat finish menyambut dengan sangat antusias.
Bahkan di kota Loilem, penduduk tumpah ruah ke jalanan ingin menyaksikan rombongan peserta. Diantara mereka ada yang mengibar-kibarkan bendera, membentangkan poster selamat datang, hingga yang menyuguhkan tari-tarian dan barongsai.
Di Loilem cuaca sangat dingin sehingga kepulan uap terlihat saat orang berbicara. Para pereli ditampung di Universitas Loilem. Di sanalah keseluruhan peserta menginap. Mereka tidur di kantong-kantong tidur untuk menghindari cuaca dingin menusuk tulang.
Sementara itu jumlah polisi dan tentara yang mengawal rombongan peserta jauh berkurang dibandingkan tiga hari terdahulu di India dan perbatasan Myanmar. Sementara itu helikopter milik tentara Myanmar masih terus mengawal para peserta. (A-11)