TIGA pemuda yang bersahabat sejak kecil tinggal bersama di rumah kos di pinggiran Jakarta. Tokoh yang diperankan Parto, Akrie, dan Kiwil itu berlomba mendapatkan cinta gadis cantik. Aksi mereka menjadi benang merah cerita sinetron komedi Sial-sial Mujur.
Ketiga pemuda yang senang bercanda itu berlomba mendapatkan perhatian para gadis. Kebetulan jumlah mereka juga bertiga, yakni Riri, Lili dan Sisi. Berbagai upaya dilakukan trio lelaki yang berpenghasilan pas-pasan itu untuk menggaet pasangannya masing-masing. Kesialan dan sekaligus kemujuran mewarnai kehidupan ketiga lelaki itu.
Itulah gambaran tentang Akrie, Kiwil dan Parto dalam upaya meraih cinta yang dituturkan dalam sinetron komedi 60 menit, Sial-sial Mujur yang akan ditayangkan Trans TV mulai Selasa (16/11) pukul 19.00 WIB. Sutradara Guntur Novaris menggarap sinetron ini dengan gaya slapstick yang biasa dihadirkan Warkop DKI (Dono, Kasino dan Indro). Dengan gaya yang nyaris konvensional itu, Trio Akrie, Parto dan Kiwil mencoba menarik perhatian pemirsa.
Guntur mengakui, konsep lawak slapstick memang sudah kuno. Namun dia memprediksi gaya lawak model Warkop DKI itu masih disukai pemirsa. Apalagi para pemain utama kecuali artis Alexandra Gottardo, Linawati Halim, dan Christy Jusung sudah dikenal khalayak.
"Saya sudah tahu karakter para pelawak yang mendukung sinetron ini. Jadi saya tinggal mengarahkan mereka. Saya bekerja sama dengan penulis skenario," tutur Guntur yang menggarap sinetron komedi produksi Net Film sebanyak 13 episode tersebut.
Parto, Akrie plus Kiwil tak meninggalkan gaya lawak mereka. Ini jauh berbeda dengan sinetron komedi Trans TV yang membumi, Bajaj Bajuri. Sinetron yang dibintangi Mat Solar, Rieke Diah Pitaloka dan Nanny Wijaya ini sangat sukses. Namun pihak pengelola tayangan sinetron di stasiun televisi swasta ini punya rencana lain.
"Kami ingin mendaur ulang film Warkop DKI yang pernah sukses. Saya pikir pemirsa masih menyukai komedi slapstick," kata Edwin dari Trans TV.
Konsep komedi seperti itu berupa slapstick plus wanita-wanita muda nan cantik. Jauh berbeda dengan Bajaj Bajuri yang berangkat dari kehidupan rakyat kecil. Apakah konsep seperti itu merupakan langkah setback bagi Trans TV? "Saya pikir tidak. Karena sebagai stasiun televisi yang termasuk baru, kami sudah memiliki segmen penonton tertentu," tukas Edwin.
Nah, Anda barangkali bisa tertawa lepas menyaksikan Kiwil yang diuber-uber wanita super gemuk, atau Parto yang sok jagoan dalam tawuran antarpelajar. Semua itu ditampilkan dalam Sial-sial Mujur. (FA/U-5)