SUARA PEMBARUAN DAILY

Pemain Klub di Jawa Dominasi PON XVI

Ganda putri Sulawesi Utara (Sulut) Lilyana Natsir/Nathalia Poluakan merupakan satu-satunya pemain luar Jawa yang mampu mematahkan dominasi daerah di Jawa setelah di final mengalahkan pasangan DKI Jakarta Jo Novita/Vita Marissa cabang bulutangkis PON XVI. Tidak ada pemain dari luar Jawa di empat nomor (tunggal putri, tunggal dan ganda putra, dan ganda campuran) lainnya yang mampu menumbangkan keperkasaan pemain dari daerah Jawa. Apa yang dilakukan dua pemain yang sama-sama berusia 19 tahun itu memang sebuah kejutan. Selama ini, PON selalu didominasi pemain dari Jawa. Dengan keberhasilan Lilyana/Nathalia itu, apakah Sulut berhasil dalam membina pemainnya?

Sulut memang dikenal sebagai daerah yang melahirkan pemain ganda putri. Sebelum mereka, ada Deyana Lomban. Satu bintang asal Sulut yang diprediksi bakal bersinar, adalah Greysia Polii, yang dalam PON ini menjadi rebutan antara Jawa Barat dan Sulut sehingga malah tidak jadi turun.

Mereka semua memang beranjak dari klub bulutangkis di Sulawesi Utara. Namun, sebenarnya, yang menggembleng dengan keras dan mematangkan mereka, adalah klub dari DKI. Lilyana/Nathalia merupakan produk klub Tangkas Bogasari, sedangkan Deyana dan Gresyia adalah "lulusan" klub Jaya Raya. Keempat pemain itu mematangkan teknik bermain bulutangkis di Jakarta, bukan di Sulut.

Daerah di luar Jawa yang cukup menonjol di PON lalu, adalah Sumatera Utara (Sumut), Nangroe Aceh Darussalam (NAD), dan Kalimantan Timur (Kaltim). Sumut tampil gagah berani dengan Wiempie Mahardi dan Irwansyah. Namun, sekali lagi, mereka bukan produk penggemblengen klub dari daerah itu. Keduanya adalah anak didik dari klub Tangkas.

Begitu pula dengan NAD, dimana mereka cukup tangguh di bagian putrinya. Salah satunya lewat Nitya Krishinda yang bisa melangkah ke babak semifinal tunggal putri. Pemain ini juga bukan produk NAD. Dia adalah produk binaan Jaya Raya, bersama-sama Pia Zebadiah, yang juga membela NAD. Kedua pemain itu merupakan pemain junior.

Kaltim pun demikian, mereka mempunyai pemain andal, terutama di bagian ganda putra maupun putri. Di bagian putra, satu wakil mereka Ade Lukas/Hadi Saputro yang berlaga di semifinal. Begitu pula di ganda putri, lewat Indarti Isolina/Angelina De Pouw. Keempat pemain ini merupakan binaan dari klub di Jawa.

Satu daerah yang mencuat dalam PON kali ini, adalah Maluku Utara. Pendatang baru ini, menempatkan satu wakilnya di semifinal ganda putra melalui Mainaky bersaudara, Rexy dan Reony. Namun, kakak beradik ini merupakan pemain binaan dari klub Tangkas.

"Dari segi pemerataan kekuatan pemain, PON kali ini cukup bagus, tetapi pembinaan di luar Jawa jalan di tempat. Klub di Jawa masih terus mendominasi," kata manajer tim Jateng, Christian Hadinata, yang juga mantan Direktur Pelatnas ini. Tentu hal itu menjadi pekerjaan rumah bagi PB PBSI. Pelatnas desentralisasi harus digalakkan di berbagai daerah sehingga bisa memunculkan bintang dari daerah.

PON kali ini juga memunculkan hal baru, yakni tampilnya DKI sebagai daerah yang mengoleksi emas terbanyak. DKI mengumpulkan lima dari tujuh emas yang diperebutkan di bulutangkis. Lima emas itu, adalah beregu putra dan putri, tunggal putri, ganda putra, dan ganda campuran. Dua emas yang lolos darin sergapan DKI adalah tunggal putra dan ganda putri.

Emas pertama di nomor perorangan diraih DKI Jakarta saat pasangan campuran juara Jepang Terbuka, Nova Widianto/Vita Marissa memenangi pertandingan melawan pasangan Jawa Barat, Flandy Limpele/Lita Nurlita 15-9, 15-8. Silvi Antarini mempersembahkan medali emas dari tunggal putri setelah mengalahkan mantan rekan Pelatnasnya, Dewi Tira asal Jawa Timur 11-2, 11-0 hanya dalam waktu sekitar 30 menit.

Pembaruan/Bernardus Wijayaka


Last modified: 15/9/04