SUARA PEMBARUAN DAILY

Selamat Jalan, Cak Munir ...

PEMBARUAN/YC KURNIANTORO

BERDUKA - Istri almarhum Munir, Suciwati (36), mendengarkan nasihat para kerabatnya, di kediamannya, di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (8/9). Inzet: Munir.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Sulit mempercayai ketika tiba-tiba kemarin terdengar berita dari seorang teman, "Cak Munir sudah berpulang, pagi ini!" Aktivis hak-hak asasi manusia (HAM) itu meninggal saat masih berada di atas pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 974, dalam perjalanan dari Singapura menuju Belanda.

Sedianya, si Cak, begitu ia biasa dipanggil, akan mulai menempuh studi S2 di Fakultas Hukum Bidang European Protection of Human Rights, di Universitas Utrecht, Belanda. Direktur Indonesia Human Rights Monitor (Imparsial) itu, kebetulan memperoleh beasiswa dari Organisasi Antargereja untuk Kerja Sama Pembangunan (Interchurch Organization for Development Cooperation, ICCO). Belum sempat ilmu terengkuh dalam genggaman, ternyata Allah SWT sudah berkehendak berbeda.

Tidak terlihat hal-hal yang aneh pada diri Munir, ketika ia datang ke pesta sederhana, Jumat malam (3/9), yang sengaja dibikin sobat Hari Prihartono, aktivis ProPatria, untuk merayakan secara spesial keberangkatan pendekar HAM itu ke Belanda. Seperti biasa, pria keturunan Arab yang lahir di Malang, 8 Desember 1965 itu, asyik bercanda, dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos. Suciati, istrinya, beserta Difa, putri bungsunya, ikut hadir dalam pesta malam itu. Alif, panggilan akrab Sultan Alif Allende, putra sulung Munir, tidak ikut serta. "Waaah...si Alif baru sekolah, jadi ndak bisa ikut," kata Munir tentang putra sulungnya, yang mengidap penyakit autisme. Tamu-tamu terus berdatangan dan memberi selamat kepada Munir. Wajah Mbak Suci, begitu istrinya biasa memanggil, tampak sumringah, dan terkesan sekali sangat bahagia.

Selain para aktivis ProPatria dan Imparsial, yakni dua LSM yang ia geluti, acara itu dihadiri pula sejumlah aktivis prodemokrasi dan wartawan. Di antaranya, Binny Buchori (INFID), Edy Prasetyono (CSIS), Ikrar Nusa Bhakti dan Syamsuddin Haris (keduanya dari LIPI), Andi Widjajanto (UI),Todung Mulya Lubis, Ade Rostina Sitompul (aktivis HAM), serta Marcus Mietzner (OTI). Dari kalangan jurnalis, selain Suara Pembaruan, terlihat pula hadir malam itu kolega-kolega Daud Sinjal (Sinar Harapan), Ahmad Taufik (Tempo), dan Suwardjono (DetikCom).

Sedianya malam perpisahan itu hendak dilewatkan di teras kolam renang sebuah hotel di kawasan Slipi, sembari menikmati ikan bakar. Namun, di langit mendung gelap kian menggelayut, diselingi tiupan angin kencang. Tetesan air hujan mendadak turun, semua pun berlarian menyelamatkan diri. Gagal sudah rencana ber-BBQ ria di pinggiran kolam renang. Yah, apa boleh buat, acara terpaksa dipindahkan ke restoran hotel sehingga terkesan agak formal.

Secara bergiliran masing-masing menyampaikan kesan terindah, pesan-pesan, atau apa pun tentang Munir. Ade Rostina Sitompul, mengaku, dulu sangat terkesan dengan keberanian sosok aktivis muda bernama Munir. Sebelum jajak pendapat Timor Timur 1999 berlangsung, Ade mengaku kerap diingatkan Munir agar lebih keras lagi dalam melontarkan kritik atas kekerasan militer di wilayah itu. Adalah Munir pula, Ade mengungkapkan, yang mengemasi baju-baju Ezky Suyanto, putrinya, yang terpaksa bersembunyi karena nyaris jadi korban penculikan oleh militer, 1998.

Saat pertama bertatap muka dengan Munir, Ade mengaku cukup terkejut. "Wah, saya pikir yang namanya Munir itu badannya besar, tinggi, gagah. Ternyata...kecil-kecil cabe rawit ya," celetuk Bu Ade, ditimpali tawa hadirin. Todung Mulya pun terkesan dengan sikap gigih Munir dalam memperjuangkan penegakan HAM, termasuk ide memanggil para jenderal tersangka pelanggar HAM Timtim ke depan Komisi Penyelidik Pelanggaran (KPP) HAM Timtim.

Rekan yang lain, Edy Prasetyono, meminta agar Munir memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk keperluan studi. "Jangan lupa jaga kesehatan ya Nir, soalnya di Belanda dingin sekali," kata Edy, dengan mimik serius.

Binny Buchori tak mau ketinggalan, berolok-olok. "Kalau saya, sih, sekolah dulu, baru jadi aktivis. Tapi Munir ini, kok terbalik. Jadi aktivis dulu, baru mikirin sekolah," ujar Direktur INFID itu sembari tertawa. "Tapi, yang penting jangan sampai keteteran." Marcus, staf OTI, yang tak menginginkan Munir menyusul "pengalaman buruk"-nya gara-gara sibuk beraktivitas. "Disertasi saya tujuh tahun tidak selesai-selesai," ujarnya, sambil tertawa.

Dari Marcus pula yang lain tahu, sejatinya Munir ingin menempuh studi di Amerika Serikat (AS). Namun, entah mengapa, rencana studi di AS itu sulit diwujudkan, yang kabarnya, hanya gara-gara komentar Munir yang pedas tentang invasi AS ke Irak. Utrecht sendiri adalah pilihan yang tak kalah menarik, sebab sudah bukan rahasia lagi reputasinya sebagai gudang pakar hukum.

Tidak Takut Mati?

Kesan aktivis pada diri Munir pun sempat sedikit dipersoalkan para promotornya di Universitas Utrecht. "Saya awalnya ingin studi hingga jenjang doktor. Namun saya diminta membuat dulu rencana disertasi yang mau digarap," tutur aktivis HAM peraih Yap Thiam Hien Award itu. Rencana disertasi dengan topik konsep penghilangan paksa (systemic dissapearance) dalam pemerintahan militeristik pun ia sampaikan. Alhasil sang promotor justru terbengong-bengong. "Wah, ini sih pikiran aktivis," ujar Munir menirukan komentar promotor, sembari terbahak. Akhirnya ia diminta menempuh studi satu tahun terlebih dahulu hingga jenjang master.

Yah, sesuatu yang bernyawa tidak akan mati, melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya. Sulit mempercayai malam perpisahan itu akhirnya benar-benar jadi perjumpaan terakhir dengan Cak Munir. Tak ada kata-kata terlintas dalam benak pula, ketika tiba-tiba Yuni dari ProPatria mempersilakan penulis mengucap pesan terakhir untuk Munir sebelum ia berangkat menuntut ilmu.

Perlu waktu berpikir keras untuk menggali apa pengalaman terbaik yang sempat terjadi saat bergaul secara intensif dengan Cak Munir sepanjang 1 Januari 2002-31 Agustus 2002. Ketika itu penulis masih bekerja sebagai wartawan radio untuk Voice of Human Rights (VHR) Radio Programme.

Jujur penulis katakan kepada Munir, "Dulu saya sempat mikir, Cak, apakah sebagai aktivis HAM yang antimiliterisme, seorang Munir tidak takut mati?" Seperti biasa, Munir hanya manggut-manggut.

Kalimat yang meluncur berikutnya, "Setelah bekerja sama selama delapan bulan bergaul dengan Cak, saya baru sadar, apabila seseorang berpegang teguh pada prinsipnya, dan prinsip itu ia yakini kebenarannya, maka ia tidak akan pernah takut mati." Ciri khas semacam itu, tampak pada diri seorang Munir, yang tak perlu diragukan lagi keberpihakannya kepada kebenaran, keadilan, demokratisasi, serta penegakan hukum dan HAM.

Sosok Munir mulai melambung ketika pada 1998, sejak ia bergabung di Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras). Mulai saat itulah gagasan orisinalnya tentang pembentukan masyarakat sipil terus mengalir.

Masih lekat di ingatan, Munir sering berpendapat, kekerasan militer yang berlangsung selama 32 tahun adalah kekerasan sistemik yang lahir dari sejumlah kebijakan politik. Pemusatan kekuasaan Orde Baru yang begitu besar menjadi alat impunitas (kekebalan hukum) terhadap penyalahgunaan kekuasaan tersebut. "Rezim Orde Baru rupanya sadar betul untuk menggunakan dua kakinya, yakni kekuasaan dan hukum," ungkap Munir, ketika itu.

Sebelum malam perpisahan itu berlangsung, Munir sempat terlibat aktif menolak RUU TNI, yang menurutnya sarat peluang militer kembali ke panggung politik. Sayang, ia tidak akan pernah mengetahui seperti apakah RUU TNI nanti akan mewujud. Dua buah buku pinjaman milik pendekar HAM itu, Ajaran Spiritual Sufi Besar Hazrat Inayat Khan (Dimensi Mistik Musik dan Bunyi), serta Military Without Militarism, masih teronggok di rak buku. Izinkan buku itu jadi kenang-kenangan untuk penulis, Cak.

Doa tanpa terasa mengalir, "Allah memegang jiwa manusia ketika matinya, dan memegang jiwa manusia yang belum mati ketika tidurnya, maka Dia tahanlah jiwa manusia yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan."

Selamat jalan, Cak Munir. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang indah bagimu di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan penghiburan dari-Nya. Amin.

PEMBARUAN/ELLY BURHAINI FAIZAL


Last modified: 8/9/04