
Pembaruan/Luther Ulag
EMPEK-EMPEK PALEMBANG - Widya (21) menata dagangannya, berbagai jenis empek-empek yang dijual dengan harga Rp 1.000 - Rp 5.000 per buah.
MENGAPA Kerajaan Sriwijaya sangat kuat dan menguasai wilayah laut Asia Tenggara? Karena memiliki armada kapal selam yang sangat banyak.
Begitulah anekdot yang biasa digunakan orang untuk menggambarkan makanan khas masyarakat Palembang, yaitu empek-empek.
Di zaman kejayaan Kerajaan Sriwijaya tentu saja belum ada kapal selam. Yang dimaksud dengan kapal selam tidak lain adalah makanan khas setempat dibuat dari bahan utama tepung sagu atau tapioka, dicampur daging ikan gabus atau belida, dikukus, kemudian digoreng. Makanan ini dihidangkan dengan kuah cuka diberi bumbu dapur, sehingga rasanya sangat lezat. Bentuk makanan ini berbagai macam, mulai dari yang bulat, agak kotak-kotak, hingga yang lonjong disebut kapal selam. Disebut demikian karena bentuknya menyerupai kapal penjelajah laut dalam itu.
Empek-empek bukan hanya digemari masyarakat di Sumatera Selatan, tetapi juga orang-orang di Jawa dan daerah lain di Indonesia. Empek-empek sudah terkenal di mana-mana sehingga Palembang identik dengan empek-empek atau sebaliknya.
Empek-empek terasa khas di lidah. Ada rasa gurih, asam, manis, pedas, karena disajikan dengan cuka dicampur bumbu dapur, ditambah gula merah atau kecap.
Rasanya yang khas di lidah membuat orang acap kali ketagihan setelah mencobanya. Kuah empek-empek terkadang dicampur sambal sehingga rasanya yang pedas menambah selera menyantapnya.
Empek-empek tidak begitu saja muncul menjadi makanan masyarakat Palembang. Makanan ini sudah ada pada masa Kesultanan Palembang Darussalam diperintah oleh Sultan Mahmud Badaruddin I sekitar tahun 1725. Dokumen sejarah menunjukkan makanan gorengan ini sudah dikonsumsi masyarakat setempat waktu itu.
Empek-empek bukanlah makanan khusus untuk raja. Masyarakat di negeri kesultanan ini mengembangkannya dari sekadar makanan ringan biasa menjadi hidangan khas di Palembang dan Sumatera Selatan umumnya. Orang menyantap empek-empek kapan saja dan di mana. Pagi, siang, sore, malam, di rumah, kedai, restoran, banyak dijumpai orang menyantap empek-empek.
Budayawan Sumatera Selatan, Djohan Hanafiah menyebut empek-empek merupakan satu dari puluhan makanan khas di Palembang yang telah berkembang sejak zaman Palembang Darussalam. Dari sejumlah yang ada itu, empek-empeklah yang paling digemari hingga sekarang. Malahan kemudian ada "turunannya", misalnya model, tekwan, burgo dan laksan yang berbahan pokok tepung sagu atau tapioka.
Ada yang menyebutkan empek-empek berasal dari Negeri Cina . Namun, Djohan yang telah menelusuri literatur sejarah Sumatera Selatan hingga ke Universitas Leiden, Belanda, menyatakan bahwa empek-empek adalah sejenis makanan gorengan yang muncul ketika masa kejayaan Sultan Palembang Darussalam. Seandainya makanan ini dari Cina, menurut Djohan, tentunya akan berkembang pula menjadi makanan khas daerah lain misalnya Jakarta, Bangka, Semarang, atau Surabaya yang banyak didiami masyarakat keturunan Tionghoa. Empek-empek tidak didapati di daerah lain, kecuali Palembang dan sekitarnya (Sumsel).
Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, ujar Djohan, wanita-wanita Palembang sangat gemar memasak. Salah satu masakan buatan mereka adalah empek-empek yang dicampur dengan ikan sungai, terkadang ditambah telor ayam atau itik.
Supaya lebih lezat, para wanita Palembang membuat kuah berbahan baku air putih, asam jawa, bawang putih, gula merah, dan cabe rawit. Adonan ini, disebut cuka. Seiring perkembangan masyarakat atau kuah empek-empek dibuat dari cuka putih, gula merah, banwang putih dan cabe rawit.
Ikan yang menjadi campuran tepung tersebut, terkadang juga dari laut, misalnya tenggiri dan kakap. Empek-empek yang berbentuk bulat tanpa telur disebut empek-empek lenjer. Yang berbentuk lonjong disebut empek-empek kapal selam. Yang dicampur telur dan terkadang dihidangkan setelah lebih dulu dipanggang disebut empek-empek lenggang.
Dalam perkembangannya, empek-empek bukan saja dimasak terbatas untuk kebutuhan keluarga, namun diperdagangkan di warung-warung dan dijajakan keliling kampung-kampung hingga ke luar Kota Palembang.
Menurut Djohan, kata "empek-empek" berawal dari pedagang keliling keturunan Tionghoa yang menjajakannya hingga ke kampung-kampung. Kata "empek" sebetulnya sebutan untuk orang tua Tionghoa yang menjajakan makanan itu. Orang meneriakinya "empek" (maksudnya apek) agar si pedagang berhenti. Dari situlah kemudian menjadi kebisan menyebut empek-empek atau juga pempek.
Sekarang empek-empek berkembang menjadi barang dagangan yang bernilai ekonomis tinggi. Di antara pembuat empek-empek yang terkenal terdapat nama empek-empek Sekanak, Saga, Tujuh Ulu, Selendang Mayang. Sepuluh tahun terakhir ini yang juga terkenal adalah empek-empek Pak Raden dan Candy.
Harga empek-empek bervarisi dari Rp 1.000 untuk satuan kecil, Rp 3.500 yang sedang, dan Rp 5,000 untuk yang ukuran besar.
PEMBARUAN/BANGUN LUBIS