
Sandy Gumulya membuat tanda salib begitu mengalahkan Wynne Prakusya dalam final tenis beregu putri antara DKI Jakarta melawan Jawa Tengah pada PON XVI di Palembang, Senin (6/9). Dia pantas bersyukur kepada Tuhan, karena tidak banyak yang menduga dia bisa menaklukkan Wynne di pertandingan final itu.
Sandy menyumbangkan poin kemenangan kedua bagi DKI dalam pertandingan yang cukup seru tersebut. Poin pertama DKI dipersembahkan seniornya, Wukirasih Sawondari, yang menang atas petenis muda asal Semarang, Lavinia Tananta.
Hasil dicapai Sandy dan Wukirasih tersebut membawa Tim DKI merebut medali emas di beregu putri. Pencapaian tersebut dirasakan luar biasa oleh tim DKI. Awalnya mereka tidak menargetkan medali emas, karena, kekuatan tim-tim yang bertanding di PON XVI merata. Jateng dan Jabar sebenarnya lebih diunggulkan dalam nomor beregu putri.
"Saya bersyukur kepada Tuhan, karena saya dapat mengalahkan Wynne sekaligus menyumbangkan medali emas untuk DKI. Saya sangat bangga dengan hasil ini," katanya.
Prestasi Sandy tahun ini cukup mengkilap. Dia menjuarai turnamen prakualifikasi turnamen WTA Wismilak International di Surabaya beberapa waktu lalu. Turnamen WTA Wismilak Internasional akan digelar di Bali, 12-19 September. Sandy menjuarai turnamen itu setelah di final mengalahkan Liza Andriyani. Atas keberhasilannya itu, dia memperoleh hadiah US$ 1.000 dan wild card untuk tampil di babak utama Wismilak International.
Pemain berkulit putih ini juga juara menjuarai turnamen Piala Gubernur Jawa Barat, bulan lalu. Wynne pula yang menjadi korban Sandy waktu itu di babak final.
Sandy sangat berterima kasih dengan dukungan yang diberikan kedua orangtuanya terhadap kariernya di dunia tenis.
Ayahnya, Rudy Gumulya, dikenal tergila-gila olahraga. Rudy pernah dipercaya sebagai manajer tim balap sepeda di SEA Games 2001.
"Tanpa dukungan penuh dari orangtua, susah menjadi atlet andal. Saya sebagai orang tua sudah tentu memberikan dukungan penuh kepada dia, bila dia ingin total di tenis" ujar Rudy.
Tidak heran bila kedua orang tua Sandy selalu terlihat di pinggir lapangan bila Sandy sedang bermain. Bila waktu senggang, ayah ibunya selalu menyertai Sandy mengikuti turnamen, seperti di PON ini.
Program setelah di PON kali ini, menurut pemain berusia 18 tahun ini, mengikuti turnamen Wismilak International di Bali. "Ada beberapa turnamen nasional juga yang akan saya ikuti. Untuk tahun depan saya belum tahu. Mungkin akhir tahun nanti baru bisa merencanakan," ujar Sandy yang baru saja lulus SMA.
Menurut Rudy, Sandy memang difokuskan di dunia tenis sehingga belum ada rencana masuk universitas. Harapannya, Sandy akan semakin mengkilap prestasinya.
"Sekarang masih labil, karena masih junior. Mungkin seiring dengan bertambahnya pengalaman dan bertambahnya usia dia, prestasinya akan semakin bagus," kata Rudy.
Meskipun Sandy diunggulkan di tempat pertama nomor perorangan tunggal putri di PON Sumsel ini, dia tidak mau menargetkan medali.
Dia sadar, persaingan di tunggal putri sangat ketat. "Satu per satu dulu saya lalui,' ujarnya singkat.
Sandy merupakan pemain junior yang mendapat kepercayaan dari PB Pelti untuk memperkuat Indonesia di berbagai turnamen. Salah satunya di SEA Games 2003 lalu. Dia turut menyumbangkan medali perak di beregu putri.
Petenis kelahiran 2 April 1986 ini juga turut membawa Indonesia ke Grup Dunia kejuaraan tenis beregu putri Piala Federasi, Juni lalu di Jakarta setelah mengalahkan Slovenia.
Dia tidak tampil dalam pertandingan itu, dan hanya ditempatkan sebagai pemain cadangan. Namun, hal itu memperbanyak pengalaman dia menghadapi kompetisi tingkat internasional.*