
PEMBARUAN/LAURENS DAMI
SEDANG BELAJAR - Peserta belajar Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) di salah satu wilayah pelosok di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, yakni Desa Taman Jaya, Kecamatan Cikulur tengah mengikuti bimbingan dari para gurunya.
KEHADIRAN program Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) di Kabupaten Lebak, memberikan nuansa tersendiri bagi wajah dunia pendidikan di wilayah yang dikenal sebagai daerah tertinggal di Provinsi Banten itu. Perkembangan pendidikan yang stagnan karena sarana dan prasarana tidak memadai sedikit demi sedikit mulai dikikis.
Selain itu, realitas minimnya partisipasi masyarakat dalam mengenyam pendidikan karena terbelenggu oleh kondisi ekonomi yang tidak memadai, perlahan-lahan terbantu dengan hadirnya program PADU yang memiliki fasilitas lengkap dengan biaya yang relatif murah.
Kehadiran program PADU yang menjangkau seluruh daerah plosok di Lebak, telah menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan pada usia dini atau pra sekolah. Jika sebelumnya pendidikan pra sekolah hanya didominasi oleh anak-anak kota yang berasal dari orangtua yang mampu secara ekonomi, program PADU seakan hadir membuang batas dan sekat yang memisahkan anak orang kaya dan miskin.
Jika sebelumnya, anak-anak usia dini di Lebak sebagian besar dipaksakan untuk mengikuti orangtuanya ke ladang atau sawah, kini anak-anak itu biasa menikmati masa keceriaan dan kegembiraannya dengan menggunakan segala fasilitas yang disediakan di lembaga PADU di masing-masing kecamatan. Tidak terkecuali, entah itu anak petani, anak tukang becak, anak buruh tani atau anak buruh bangunan bisa menikmati pendidikan di lembaga PADU dengan segala fasilitas pendukungnya.
Pelaksana Program PADU, Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Sayid SH kepada Pembaruan, Senin (6/9), di Rangkasbitung, menjelaskan kehadiran program PADU di Lebak sangat membantu anak-anak dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Karena itu, sasaran program PADU di Lebak diprioritaskan pada beberapa wilayah pelosok atau desa-desa tertinggal. Kebijakan seperti ini diterapkan karena sebelumnya, anaka-anak usia 2-6 tahun di desa tertingal tidak tersentuh oleh pendidikan pra sekolah. Bahkan, yang memprihatinkan anaka-anak yang usianya masih dini itu dipaksakan untuk bekerja membantu orangtua di sawah atau di kebun.
Sayid menjelaskan, sejak dioperasikan program PADU di Lebak, 1998 lalu, animo masyarakat yang menyekolahkan anaknya ke taman kanak-kanak (TK) PADU cukup tinggi. Alasanya, selain sarana dan prasarana belajarnya cukup memadai, biayanya pun relatif sangat murah. Semua TK PADU memiliki sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk bermain, sekaligus belajar seperti alat permainan yang sifatnya edukatif dan berbagai fasilitas lainnya termasuk anak-anak diajarkan untuk hidup sehat.
Sedangkan tenaga pengajarnya kata Sayid, direkrut dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Mereka adalah mahasiswa putra daerah yang tinggal di daerah-daerah lokasi PADU di Lebak dan memperoleh beasiswa dari Bank Dunia.
"Setelah lulus dari UPI, mereka harus mengabdikan diri di lingkungan sekolah PADU yang tersebar di 16 kecamatan di Kabupaten Lebak. Mereka memperoleh pendapatan sebesar Rp 400.000 per bulan. Dan mulai Desember 2004 mendatang semua aset PADU akan diserahkan kepada pemerintah daerah," jelasnya.
Ia mengatakan, pada tahun ajaran 2004-2005 di 16 TK PADU yang tersebar di seluruh wilayah pelosok Lebak, jumla tenaga pegajarnya sebanyak 35 guru dan siswa 550 orang terdiri dari kelompok taman kanak-kanak, kelompok bermain, dan bina balita. PADU tersebar di Kecamatan Rangkasbitung, Cibadak, Sajira, Cipanas, Cikulur, Cileles, Gunungkencana, Banjarsari, Wanasalam, Panggarangan, Cijaku, Cimarga, Leuwidamar, Bojongmanik, Maja dan Kecamatan Sobang.
Menurut dia, pendidikan anak sejak usia dini merupakan hal vital yang dapat mempengaruhi perkembangan pembentukan kepribadian anak. Karena banyak aspek kepribadian yang dapat ditanamkan pada anak-anak sejak usai dini , seperti berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, bahasa, memiliki kecerdasan intelektual, emosional, ketrampilan dan spritual.
Aspek - aspek ini sebaiknya ditanamkan mulai pada usia 2-6 tahun dengan model cara permainan, menggambar, cerita dogeng, wisata atau metode yang menyenangkan.
"Bila anak-anak itu sering dirangsang untuk berfikir, mereka akan dengan mudah menerima pengetahuan. Dan hal ini sangat berpengaruh besar di masa mendatang dalam rangka melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas di Lebak," kata Sayid.
Terbatas
Sementara itu, Kepala Sekolah TK PADU Desa Taman Jaya, Kecamatan Cikulur, Ade Rahayu (30), mengakui, minat orangtua untuk menyekolahkan anaknya di wilayahnya sangat tinggi. Itu terbukti pada tahun ajaran 2004-2005 ini pihaknya hanya menampung sebanyak 45 siswa. Karena kapasitas ruang belajarnya sangat terbatas. Padahal anak yang mendaftarkan diri lebih dari enam puluh orang.
Ditambahkan, anak-anak lulusan PADU ketika hendak masuk sekolah dasar banyak diminati para guru SD, mengingat mereka memiliki kelebihan dalam menerima pelajaran.
"Dampak dari program PADU ini sangat besar. Ada begitu banyak anak-anak dari keluarga tidak mampu bisa menikmati pendidikan pra sekolah. Dan anak-anak yang tamat dari TK PADU, sangat mudah menyesuaikan diri di pendidikan sekolah dasar (SD). Kami mendapat begitu banyak informasi dari guru SD bahwa semua anak yang tamatan TK PADU dapat dengan mudah mengikuti pelajaran di SD dan perkembangan intelektualnya juga baik," jelasnya.
Ade berharap, program PADU ini lebih ditingkatkan, dengan pengembangan prasarana gedung sehingga bisa menampung sebanyak mungkin anak-anak yang mau mengikuti pendidikan pra sekolah. "Mudah-mudahan secercah harapan yang diperoleh anak-anak di Lebak dari program PADU ini akan secara perlahan mengikis potret buramnya wajah pendidikan di Lebak selama ini," tutur Ade berobsesi.
PEMBARUAN/LAURENS DAMI